Tinggalkan komentar

Desa Rangkat, Desa Pelopor Segala #2

Matahari mulai menepi
Semburat cahayanya memadu kasih dengan awan
Membangun warna oranye kemerah-merahan
Burung-burung terbang merendah, hinggap di ranting pepohonan  

Tak pernah bosan menikmati
Walau hadir setiap hari  

Apalagi waktu ini
Ketika seorang gadis muda nan cantik berada di samping
Kesempatan yang tak kan terulang seumur hidup
Terima kasih Tuhan, anugrah terindah dalam hidup

Pintu Gerbang Desa Rangkat, desa Imajinasi

Joko alias Eboni berpuisi dalam hati, mencoba menyenandungkan menjadi lagu, juga dalam hati. Ia tersenyum-senyum sendiri, sang gadis mengamati. Ikutan tersenyum. ”Aneh juga ini orang,” mungkin begitu pikirnya.

”Kang Joko, Kang Joko, Kang Joko,” samar terdengar panggilan.

”Kang Joko!!!” teriakan memekakkan teling dengan tepukan pada body becak yang sampai telinga. Telak.

Ia menoleh. Bain, dengan sepeda ontelnya, sudah berada di sisi becak. ”Kualat kamu Kang… Penumpang disuruh genjot,” Bain, lalu melemparkan senyum yang menyerupai seringai…

”Senyummu itu menakutkan, In,” seru Joko, ”Tikus aja bisa lari, apalagi manusia,”

Nah, loh…

Bain memberi tanda, agar becak menepi. Ia men-standar-kan sepedanya. Menghampiri. Lelaki pelancong terlihat basah kaosnya dengan keringat. Demikian juga wajahnya. Ia menyeka dengan wajah dengan kaos  di bagian pangkal lengannya. Nafasnya terengah-engah.

Bain menganggukkan kepala, memberi penghormatan.

”Ayo turun, Kang Joko….” ia tidak melanjutkan kata-katanya. Matanya terantuk pada sosok gadis di sebelah Joko. Seperti melihat sesuatu yang baru sekali dilihatnya. Sesuatu yang membangun pesona. Oh, bagaikan sudut Desa Rangkat, di sebuah bukit yang mengitari hamparan danau dengan airnya yang kerap berubah warna, namun alirannya tenang, membawa pada kenyamanan jiwa.

”Kamu itu,” teriakan Joko yang jengkel sambil menepuk bahunya. Joko sudah turun dari Becak, tanpa tersadari oleh Bain. ”Jangan panggil aku Joko, panggil aku Eboni. Bukankah sudah kuumumkan pergantian nama menyambut globalisasi Desa Rangkat yang tetap mengedepankan harmonisasi terhadap alam? Hei!,” tepuk sekali lagi di bahu Bain, yang masih terpesona oleh kecantikan gadis yang masih duduk di Jok Becak. Tepukan yang lebih keras yang menyadarkan Bain.

”Oh,” tersadar, ”Kamu itu bagaimana sih, Kang. Masak penumpang kamu suruh menggenjot becak, tuh lihat, ia sibuk dengan keringatnya,” sambil menunjuk lelaki muda yang berusaha mengatur nafasnya. Ia mengebas-ngebaskan ujung kaosnya agar mendapatkan angin, mengurangi rasa panas. Gadis cantik sudah turun mendekati lelaki itu menyapu keringat di wajah sang lelaki. Oh, mesranya. Bain yang masih terpesona, tanpa sadar sudah melingkarkan tangannya ke tubuh Joko. Joko menggerutu sambil menepiskan tangan Bain. ”Sorry, Sorry, Sorry, Jok…” nyanyian Bain.

”Photo, bisa bantu jepret kami berdua,” kata gadis cantik itu.

”Iya, iya,” Bain dan Joko berebut meraih kamera dari sang gadis. Dimenangkan oleh Joko. Bain merengut.

Joko membidik, memainkan zoom-nya, memusatkan hanya pada Gadis. Ia dekatkan. Dari kaki terus naik. Dada berdegup. Terhenti. Ia nikmati wajah sang gadis bergaya dengan senyuman yang merekah. Tak tertekan tombol kamera. Bain menyenggol tubuhnya. Tersadar. Zoom menjauh. Sepasang laki-laki dan perempuan. Perempuan cantik, lelaki berantakan dengan keringat yang masih membasahi tubuhnya. Klik.

”Ini kawan saya, si Bain. Jejaka antik dari desa ini. Punya hoby hampir sama dengan saya. Mengelilingi Desa Rangkat dengan sepeda onthelnya. Sedang saya dengan becak,”

Bain mengulurkan tangan. Berjabat tangan.

”Jack,” sang lelaki.

”Laura,” sang gadis.

Ah, Joko juga baru tahu nama mereka. Mereka tadi cuma menanyakan namanya. Sedang ia tak bertanya.

”Hari sudah senja, kemana lagi hendak dituju? Desa Rangkat percuma dipandangi bila gelap menjelang. Kecuali ingin mendapatkan ketenangan. Banyak ruang terbuka menikmati langit, bersama bulan dan bintang. Diiringi suara-suara malam,” Bain membuat Joko hampir terlompat. Tidak biasanya Bain bisa mengeluarkan kata-kata yang puitis. Karena itulah ia selalu gagal meraih hati para gadis desa Rangkat. Untuk berpantun-pun masih dianggap wagu. Tapi syetan mana yang menghinggapi sehingga lontaran kata menjadi mendayu.

”Ada hotel atau penginapan?” sang gadis yang bertanya.

”Wah, tidak ada. Biasanya kalau ada tamu, tinggal di rumah Kepala Desa. Biarlah kami antar ke sana,” Bain segera menjawab. Mengalahkan Joko yang baru mau bersuara.

Laki-laki dan sang gadis berpandangan. Mengangguk kepada Bain dan Joko.

“Anda lapar? Ada warung di ujung desa ini. Warung dengan beraneka menu. Warung desa, tapi selera internasional,” Bain lagi berinisiatif membuat Joko garuk-garuk kepala. Kesal. Kalah langkah selalu,

”Ok,”

”Satu bisa saya boncengkan sepeda,” tawar Bain.

Kembali Joko merasa sangat dongkol. Sang Gadis memilih naik sepeda. Ia menggerutu dalam hati. Sang lelaki naik di depan. Kini ia menggenjot becak kesayangannya. Membawa sang lelaki dengan dua tas besar. Sedang sang Gadis, sesekali memegangi pinggang Bain. Semakin dongkol rasanya hati ini. (bersambung)

(Odi Shalahuddin)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: