Tinggalkan komentar

Desa Rangkat, Desa Pelopor Segala #1

Desa Rangkat dalam imajinasi

Benarlah, pembangunan fisik di seantero penjuru dunia, telah membuat orang bosan dan menjadi muak adanya. Pada awal pembangunan, memang ada kebanggaan. Mimpi-mimpi yang telah terwujud atas kemegahan.

Ketika setiap jengkal lahan telah tertanam beton dan aspal, meruntuhkan jutaan pepohonan, menghilangkan burung-burung yang segera berlari ke hutan yang jumlahnya juga sudah semakin menipis. Gedung-gedung menjulang telah menghambat sinar mentari jatuh ke tubuh. Hanya pantulan-pantulan dari kaca, terasa menyengat. Karena itulah, AC-AC menjadi kebutuhan segenap ruang.

orang-orang rindu tanah
orang-orang rindu pepohonan
orang-orang rindu kicauan burung di pagi hari
dan binatang-binatang  yang menyelinap, berlari ketika mata tertatap manusia
rindu pada air jernih yang mengalir, terpecah oleh batu-batu,
rindu pada angin yang lembut membelai
rindu pada gunung, rindu pada laut,
rindu pada sengatan matahari yang langsung menghujam tubuh.  

Bermula dari kisah perjalanan keliling dunia seorang muda-mudi yang melanglang buana sebelum pernikahannya, mereka-pun sampai pula di desa Rangkat. Mereka terpesona. Berjingkratan bagai anak kecil mendapatkan mainan baru. Padahal mereka baru tiba di gerbang desa Rangkat. Setelah itu mengalirlah berbagai kisah perjalanan yang mereka kirimkan dan akhirnya selalu terkutip dan diberitakan ulang ke berbagai media di seluruh penjuru dunia.

Mereka juga membuat film-film pendek yang mereka upload ke sebuah situs, yang juga disiarkan ulang oleh berbagai televisi, juga di seluruh penjuru dunia. Desa Rangkat, berkat muda-mudi itu, menjadi bahan pembicaraan. Tidak ada yang tidak mengenal Desa Rangkat. Desa Rangkat menjadi rujukan. Desa Rangkat menjadi segala hal yang menjadi mimpi-mimpi umat manusia di bumi ini. Berbondong-bondong orang dari berbagai profesi memasuki desa Rangkat. Para peneliti dari berbagai bidang, para pengusaha, para pelancong, dan keluarga-keluarga yang ingin berlibur.

Ini menjadi masalah tersendiri bagi Desa Rangkat. Jutaan orang sudah menggelelar rencana untuk menuju Desa Rangkat. Bukan main-main. Kepala Desa sampai pusing kepala. Para warga juga ketularan pusing. Pusing sekaligus rasa bahagia. Atau bahagia yang memusingkan?

“Kita harus membahasnya dengan serius, dengan hati-hati, jangan sampai kejutan ini justru merugikan kita sendiri,” Kata Pak Kades Yayok. Setelah itu sulit untuk berkata-kata. Padahal segenap warga sudah menanti kelanjutannya.

Kameramen TV Rangkat masih menyorot Pak Kades. Close-up. Matanya jelas berkaca-kaca. Keningnya berkerut. Setelah itu menunduk. Kameramen memandang pengarah acara. Kode untuk berpindah sorot. Siaran langsung terhenti. Jeda digunakan untuk memutar album Desa Rangkat.

Mommy, segera mendekat ke tempat Pak Kades yang terkulai lemas. Dibantu Pak Hansip, mereka memapah Pak Kades keluar dari ruang Balai Desa, membaringkan di ruangan Pak Kades yang sejuk bukan lantaran AC. Tapi banyak jendela terbuka sehingga sejuk udara Desa Rangkat bebas memasukinya.

Tapi persoalan yang benar-benar tengah menggantung ini, nantilah, kita lanjutkan. Sekarang kita menapaki jejak perjalanan sepasang muda-muda itu. Mereka yang entah dari negeri mana, negeri antah brantah, yang sangat dikenal sebagai negara modern. Orang-orang yang sudah susah bergerak lantaran berbagai mesin-mesin telah memfasilitasi dan melayani kebutuhan mereka.

Ketika menyusuri jalan menuju desa Rangkat, mereka merasakan dada yang bergetar hebat. Mendesak seakan ingin pecah. Mereka berteriak, bersorak, kegirangan, melebihi orang-orang yang dianggap gila.

Mereka menceburkan diri ke sungai. Menapaki bukit-bukit. Menceburkan diri di teluk indah desa Rangkat. Menari-nari, bernyanyi-nyanyi. Basah pakaian mereka. Kering kembali oleh mentari. Berbaur dengan keringat yang tak henti mengalir deras. Tapi mereka seakan tiada peduli.

“Inilah surga. Inilah surga!!!”

Setiap jejak langkah mereka, terabadikan dengan berbagai peralatan yang duhai canggihnya. Mereka berfoto hampir di segenap ruang. Bergantian. Memanggil orang yang lewat. Meminta tolong agar bisa terabadikan berdua. Kamera handycamp juga tak henti mengabadikan setiap sudut desa Rangkat yang telah mereka lewati. Sedang, seharian ini, belum ada 1% mereka menjejaki desa Rangkat, yang memang teramat luas.

”Becak, tuan dan nyonya?” seorang laki-laki muda, dengan caping di kepala, menyapa mereka, masih duduk di sadelnya.

Keduanya memandang becak yang benar-benar sedap dipandang mata. Becak yang telah dimodifikasi, penuh hiasan warna-warni yang sangat serasi.

”Apa namanya?”

”Becak,” jawab lelaki muda itu. Sebelum ada pertanyaan, terdengar dering telpon. Lelaki muda mengeluarkan HP jadul keluaran awal 90-an.

”Ya, sebentar. Ini ada turis. Bukankah kata Pak Kades, kepentingan tamu harus didahulukan? Ya..ya…ya.. Bila mereka tidak mau, pastilah saya jemput,” suaranya setengah berteriak. Tampaknya tak yakin akan terdengar oleh lawan bicara.

”Hm, bagaimana tuan dan nyonya?”

Kedua pelancong itu saling berpandangan. ”Kami naik di depan? Ini bukan eksploitasi?”

”Oh, tidak Tuan,” kata lelaki muda itu, ”Ini adalah pekerjaan. Profesi. Asal bayaran sesuai, tentu bukan eksploitasi,”

”Oh,”

Sang perempuan naik terlebih dahulu, baru kedua tas besar mereka yang ditumpuk. Sang lelaki naik, menggeser satu tas dan bersandar pada kakinya.

”Kemana, Tuan?”

”Kemana saja, terserah. Berkeliling desa,”

”Oh, baik Tuan,”

Baru berjalan sekitar lima ratus meter. Jalan menanjak. Lelaki muda itu turun, dan mulai mendorong. Keringat mulai mengucur deras. Lelaki pelancong minta berhenti, ia turun. Beberapa klik dari tustel mengabadikan, setelah itu ia ikut mendorong. Tiba di atas, jalan sudah mendatar kembali.

”Biar saya di belakang,” kata lelaki itu, ”Siapa namamu?

”Nama asli atau nama alias?”

”Hm,”

”Asli saya Joko. Joko Erdhianto lengkapnya. Lantaran bingung karena di desa ini banyak nama Joko, dan biar tidak kebingungan Joko mana yang dimaksud, saya mengganti nama saya. Ya, walaupun kalau dibilang Joko Becak, pasti semua warga desa Rangkat ini sudah tahu. Tapi, biar keren, lantaran ada program Visit Desa Rangkat Year 2011, bagaimana kita mempersiapkan kehidupan yang global tapi tidak terganggu tatanan sosial politik budaya ekonominya atau kita singkat SOSPOL BUDEK, saya ganti nama menjadi Erdhiebone. Keren kan Tuan…”

”Hm…”

Tiba-tiba lelalki pelancong meminta Joko alias Ebone untuk duduk di depan. Duduk bersama sang perempuan yang luar biasa cantiknya menurut Joko. Bagaikan mendapat durian runtuh. Tapi jatuh di kepala. ”Tidak usah, Tuan. Ini pekerjaan saya,”

”Tidak apa-apa, santai saja, saya akan mencoba biar punya cerita,” kata lelaki itu.

Ebone melihat penumpang di depan tersenyum, manis sekali ia rasa. Teramat dan sangat manis. Belum pernah ia melihat perempuan tersenyum demikian manis padanya. Ah, menggelepar. Tapi sayang, ia sudah punya pasangan, lelaki itu.

Ebone tidak kuasa menahan paksaan dari sang lelaki. Tidak merasa terpaksa, jujur saja hatinya sangat senang, ia naik ke depan. Duduk, bersentuhan dengan perempuan itu. Hati berdesir. Dada berdetak kencang. Becak melaju, ia malah jadi kikuk. Duduk kaku. Tak bisa bicara. Bernafas-pun coba mengatur dengan irama yang enak. Tapi yang terjadi, nafas tak beraturan.

”Sakit?”

”Oh, tidak. Hanya tiba-tiba saja gak enak badan. Masuk angin barangkali. Tapi nanti kerokan bisa sembuh,”

”Oh..”

Pikiran menerawang, angan melayang-layang, bagaikan mimpi mendapatkan air di gurun. Bagaikan mendapatkan dompet di kala isi kantong kering. Ih, semoga begini terus, harap Eboni…….(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: