Tinggalkan komentar

Cinta di Halte

“Perlihatkan sepatu yang kau miliki,”  gadis bertubuh langsing dengan pakaian kantor warna biru itu mengatakan kepada seorang lelaki muda di sebuah halte, di suatu senja.

Lelaki muda itu terperangah. Dadanya bergetar. Tubuhnya kelihatan gemetar. Wajahnya menegang. Gumpalan perasaan yang tidak dapat diucapkan, bersatu dalam jiwanya.

“Ah..eh..he..eh..” kelihatan gugup sekali lelaki muda itu sehingga bicaranya bukan apa yang hendak ia sampaikan.

“Sudah, ya. Bus-nya sudah datang. Sampai jumpa lagi,” gadis itu melemparkan senyum, setengah berlari mengejar bus yang telah penuh sesak penumpang yang menepi. Gadis itu menyempatkan diri berhenti sejenak, menoleh ke arah lelaki muda, lalu melambaikan tangannya. Bergegas naik, berdesak-desakkan, mencoba menerobos agar tidak di pinggiran pintu.

Lelaki muda menghela nafas tergesa. Ah, gadis pujaan, apa yang kau katakan? Benarkah? Tak salahkah pendengaranku?

Wajah sang gadis terpotret, berulang-ulang hadir dengan kata-kata yang diucapkan tadi. Ah, hati lelaki menggelepar. Matanya menatap ke bus yang perlahan mulai bergerak. Ia mencari-cari sosok gadis pujaan.

Oh, Tuhan! Tubuh langsingnya terhimpit banyak lelaki. Geram hatinya. Lelaki-lelaki itu pastilah mengambil kesempatan besar dalam kesempitan ruang tanpa khawatir terkena vonis melakukan pelecehan seksual. Banyak dalih untuk  mengelak  vonis  itu. Keadaannya memang begini, salah perempuan itu kenapa mau naik. Mereka bisa melebarkan omongan, “Mengapa pemerintah tidak menambah bus kota yang cukup untuk warga kota ini? Biar orang tidak  berdesak-desakan. Biar  orang  dapat  melakukan perjalanan dengan tentram,” Ah, pasti banyak alasan  keluar. Dasar lelaki! Selalu punya berjuta dalih… Eh, aku pun ikut.

Dalam keadaan terhimpit, perempuan itu masih melambaikan tangannya. Lelaki muda merasa bersalah. Ia tak sepantasnya membiarkan sang gadis seperti itu. Kakinya bergerak. Ia berlari. Tangannya memanggil-manggil. Menyuruh sang gadis segera turun kembali. Bus terus melaju. Makin kencang. Menyemprotkan asap hitam ke udara. Orang-orang tercengang memandang lelaki muda itu.

Lelaki muda berhenti. Keringat banjir di tubuhnya. Wajahnya juga. Matanya lekat mengikuti bus yang terus melaju. Sampai hilang dari pandangannya.

Ah, dasar bodoh aku ini. Seandainya ia turun, apa pula yang akan aku lakukan. Mengantarnya? Dengan apa? Menanti bus berikutnya? Omong kosong! Tak mungkin ada yang kosong.  Ah, benar-benar bodoh aku ini.

***

“Sepatu, sepatu…” lelaki muda itu berdesis pelan, “alangkah mudahnya,”. Terngiang kembali suara sang gadis pujaan. Berulang-ulang. “Benar-benar sepatu. Buat apa? Mengapa?” wajahnya kelihatan serius. Keningnya menampakkan beberapa kerut.

Wajahnya tiba-tiba berubah. Keriangan berganti amarah. Giginya bergemeletukkan. Geram. Tangannya terkepal dan ia hantamkan ke telapak tangan kirinya. “Gadis itu hanya mau mempermainkan aku saja,”

Matanya menatap lekat ke kaki. Sepasang sandal jepit butut yang selalu menemani ketika ia membelinya di  warung Mpok Nah setahun yang lalu. “Ah, tega-teganya kau  melukai hatiku, wahai gadis pujaan. Betapa hebatnya dirimu, mencela dengan  menampakkan senyum yang membuatku gelepar bagai ikan tak berair,”

Lelaki itu termenung. “Ah,jangan-jangan bukan maksud untuk menghina. Benar sepatu yang ia inginkan.  Sepatu…Ah, sepatu. Di rumah ya, ada. Tapi sudah butut. Sudah berlubang ujungnya. Jadi….”

Lelaki itu melangkah lunglai. Pikirannya hanya gadis itu dan sepatu.

*****

“Goblok kamu! Itu simbol. Dari sepatu bisa dilihat status sosial seseorang. Mana pelajar, mana pegawai rendahan, mana eksekutif, mana tentara, bisa ditebak dengan melihat sepatunya. Karena itulah banyak yang bergaya memakai jenis sepatu tertentu agar orang melihatnya lain.” seorang kawan  mengatakan pada lelaki muda itu. “Jadi, pada intinya ia mau  melihat status sosialmu. Gadis sekarang memang begitu. Tapi ngomong-ngomong, siapa nama gadis itu?”

Lelaki itu yang sedari tadi memperhatikan dengan seksama pembicaraan kawannya tersentak. Nama gadis itu? Ah, Siapa gerangan. Ia hanya sering melihatnya di halte.

“Entahlah,”

“Gila!”

“Tapi menarik!”

“Sudahlah, buang saja pikiran tentang gadis itu. Kamu cuma berkhayal. Siapa tahu dia sudah bersuami, sudah punya anak. Siapa tahu,”

“Tapi aku mencintainya,”

“Edan!”

“Biar!”

Berhentilah pembicaraan ketika lelaki muda itu berpamitan. Ia katakan bahwa ia akan ke halte menanti sang gadis.  Kawannya menggeleng-gelengkan kepala. Pandangan matanya tampak iba. “Kasihan,” komentarnya pelan.

*****

Tegang perasaan lelaki itu. Tidak ada gadis di halte. Senja makin menaik. Arus kendaraan tetap padat, tidak teratur dengan aneka polusi.

Lelaki itu bersandar pada dinding halte. Sedih hatinya. Oh, cinta memang aneh, unik, menyenangkan, sekaligus menyakitkan.

Lampu-lampu jalanan mulai menyala. Orang-orang di halte terus berganti. Datang dan pergi. Hanya lelaki itu dan seorang pedagang kaki lima saja yang tetap di tempat itu.

Suara adzan mulai terdengar. Lelaki muda merasa hilang kesempatan. Dengan langkah gontai ia mencoba beranjak. Beberapa langkah kemudian,  secara samar  ia  dengar  suara perempuan memanggil. “Lelaki! Lelaki! Lelaki!”

Berdesir hatinya tatkala ia menoleh, pandangannya jatuh pada sang gadis yang  dinanti sejak tadi. Gadis itu berlari mendekat, lelaki itu juga berlari mendekat. Tak sabaran ia untuk melihat wajah gadis yang dirindukan.

“Mana sepatu yang kau bawa?”

Lelaki itu mengangkat bahunya. “Kamu mau melihat status sosialku? Aku hanya pengangguran. Ada sepatu satu, sudah butut dan berlubang. Biarkan aku memakai sandal jepit,”

Gadis itu tersenyum.

“Aku cinta kamu,” ucapan spontan lelaki muda.

Gadis itu tertawa.

“Aku tahu. Sudah sering kau ucapkan itu padaku. Sebenarnya aku akan menjawabnya dengan mengenakan sepatu ke kakimu sebagai jawaban. Tapi kau tidak membawa juga, ya sudah,”

Lelaki itu merasa tenggorokan mampet. Dada bergetar hebat. “Kau…” sepotong kata yang tak berlanjut.

Gadis itu telah meraih tangannya, menggenggamnya.

“Aku yakin bahwa kau jodohku. Ayolah lamar aku,”

Lelaki muda sulit untuk berbicara. Cinta memang unik dan kerapkali menyimpan misteri. Kejadian di luar dugaan pikiran lelaki muda itu.

“Oh, ya kita belum berkenalan. Namaku Gadis…”

“Oh, a-a-akuu…Lelaki!”

“Nah, cocok, kan? Kita akan jadi pasangan bahagia. Ayo, kau ikut aku ke rumah.   Kedua orangtua dan adikku sudah menanti. Aku katakana kau akan melamarku malam ini,”

Gadis itu menarik tangan lelaki muda dan mengajaknya berlari mengejar sebuah bus. Tidak perduli sang lelaki  masih sibuk menguliti apa yang sebenarnya terjadi.

Begitulah.

Selanjutnya, entah.

Yogyakarta, Mei 1995

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: