Tinggalkan komentar

Bom

Cerpen  :  Odi Shalahuddin

Kabar yang beredar dari mulut ke mulut akhirnya sampai juga ke telingaku. “Ah, masak?” komentarku tak percaya.

“Benar. Apa kamu tidak pernah mendengar berita itu sebelumnya? Kamu ini tidak pernah keluar, sih,” gerutu Somad yang selalu mengaku penyair lantaran sudah membuat seratus puisi cinta untuk Lady di yang disimpan rapi di map khusus.

Aku  menggaruk-garukkan kepala. “Apa orang Yogya sudah kehilangan nalarnya? Bukankah selama ini telah terbukti banyak orang Yogya yang kritis? Tidak hanya orang-orang sekolahan, pengangguran dan bakul-bakul pasar saja berpikir kritis.  Apalagi para senimannya.  Masak iya berita murahan dapat membuat geger orang Yogya?”

“Cobalah keluar. Pasti berita yang kukatakan itu menjadi pembicaraan ramai,” Somad berusaha meyakinkanku.

“Masih punya rokok? Aku minta…”

Somad menjulurkan bungkusan rokok. Aku mengambilnya sebatang.

“Koreknya?”

Somad  mengulurkan korek api gas. “Kita memang sulit mengeluarkan modal,” sindir Somad. Aku tak memperdulikan malah menghisap dalam-dalam.

“Siapa yang pertama kali menyebarkan berita itu?” tanyaku dengan serius.

“Ya, si pelakunya sendirinya,”

“Kamu sudah membuktikan?”

“Ya, belum, tapi beberapa teman sudah membuktikannya,”

“Kamu sendiri tidak berusaha membuktikan?”

“Lha, semua orang kan jadi takut. Ia dianggap berbahaya. Orang-orang lebih baik menghindar.”

“Aku mau ke sana. Kau mau ikut?” kulontarkan niatku sambil mengajak Somad.

“Ah, jangan akulah. Ajak yang lain saja,”

“Ya, sudah,”

“Begitu dulu, deh. Aku mau buat puisi lagi, nih,”

“Puisi cinta buat Lady di lagi?”

“Tidak. Sekarang aku buat puisi yang nyerempet-nyerempet politiklah,”

“Lho…!”

Tapi  Somad sudah ngacir ke depan. Menghidupkan mesin motor bututnya yang dijuluki kawan-kawan Walang Sangit.

*****

Aku  ke rumah Joni, tokoh yang diceritakan Somad tadi. Motor aku parkir di atas jembatan dengan mengunci stang. Aku  berkali-kali meyakinkan diriku bahwa itu benar-benar sudah terkunci. Demi keamanan. Habis, rumah Joni di pinggir kali sih. Untuk menurunkan motor ke bawah sana, sulit sekali dan harus sport jantung. Belum lagi nanti naik ke atasnya.

Rumah Joni tertutup rapat. Aneh, biasanya selalu  terbuka. Jangan-jangan  ia mengurung diri. Aku ketuk perlahan.  Tidak ada sahutan. Kudorong pintu, terbuka. Aku mengintip ke dalam.  Sepi. Tidak  ada orang. Mau masuk, ketahuan orang bisa  dikira  maling. Ah, kemana Joni?

Aku  menunggu di luar. Pikiranku melayang. Oh, pasti sedang dinas. Aku tersenyum sendiri. Lalu menyusuri pinggir kali. Mataku tertancap pada sosok bertelanjang dada yang  sebagian  tubuhnya tergenang air kali yang hitam tengah menjala ikan.

“Jon! Joniii…Jon!” teriakku berulang-ulang sampai suaraku jadi parau. Budeg kali. “Joooonnnn!”  usahaku  untuk  terakhir kalinya berteriak.  Tapi tampaknya berhasil. Joni menoleh. Aku melambaikan tangan.

Dengan perlahan ia angkat jalanya. Ada beberapa ikan meloncat-loncat. Joni lalu berjalan ke pinggir, naik.

“Tumben,” sapanya ketika dekat. “Sebentar, ya,” Ia meletakkan jala di pinggiran rumah. Ikan yang didapatkannya dimasukkan dalam ember.  Lalu ia menuju ke mata air. Mencuci tubuhnya.

“Masuklah dulu,” teriaknya.

Aku pun masuk, mengelesot di karpet.

Lama sekali Si Joni tidak muncul-muncul. Menunggu seperti ini sangat menyebalkan. Pikiran jadi tidak  terarah. Perasaan pun resah. Melayang-layang, malah pikiran buruk yang muncul. Jangan-jangan  benar  kata berita. Dan sekarang Joni tengah memberikan instruksi kepada anjing-anjingnya bahwa di rumah ada makanan lezat: A K U !!!

Ih, jadi bergidik membayangkan bahwa itu benar.

“Bagaimana kabarnya?” suara Joni membuyarkan lamunan. Sudah kelihatan segar dan bersih wajahnya.

“Baik.”  sahutku. Joni lalu duduk bersila di depanku.  “Eh,. Jon, aku cuma ingin membuktikan kebenaran berita yang aku dengar, apa betul?”

Joni tertawa. Lama sekali. Matanya hampir saja hilang tertutup.  Lalu tiba-tiba tawanya terhenti. Wajahnya kelihatan  serius. Diam. Matanya memandang ke langit-langit. “Kau sendiri, percaya?”

“Tidak!”

“Hm, sesungguhnya memang ada lima anjing di kepalaku,”

“Aku tetap tidak percaya,”

“Lihat saja di dalam kepalaku,” lalu Joni membuka batok kepalanya.  Aku  melongok. Gelap. Sunyi. Hanya terdengar  suara seperti  detak  jarum jam. Aku pinjam  senter. Lalu meneropong setiap sudut. Tidak ada anjing, tidak ada rumah, tidak ada tumpukan kayu-kayu. Hanya ada benda-benda kecil. Entah apa.

“Kau berbohong,Joni,” kataku agak ketus.

“Ah,  kau memang bukan seniman sejati,” ucapnya datar.  (Lho, apa hubungnya? batinku.) “Kawan-kawan lain memang seniman sejati.

Ketika kukatakan di kepalaku ada lima anjing, mereka  melongokkan

kepala  ke  kepalaku, bermain, dan mereka  benar-benar  menemukan anjing-anjing itu. Mengapa? Karena mereka seniman sejati.”

“Maksudmu,Jon?” tanyaku heran.

“Ketika  kukatakan,  sontak terasa ada  kejutan, dan secara spontan  di kepala mereka bermunculan imajinasi. Ketika mereka melihat, sebenarnya mereka melihat imajinasi mereka sendiri,”

“Tapi, kau dianggap berbahaya lantaran berpikir liar,”

Joni tersenyum. “Dengan pikiran liar itulah aku hidup.  Pikiran liar adalah kekuatan. Adalah kreativitas. Tanpa pikiran  liar kita  tidak bisa menghasilkan apa-apa. Kalau itu dianggap  berbahaya, konyol namanya. Tapi, ya, sedari kecil kita  memang tidak pernah diajar berpikir. Kita hanya diajar untuk menghafal.  Jadilah kita pengekor-pengekor. Jadilah  kita  sebagai robot-robot manis,” panjang sekali ia bicara. Tumben. Tidak seperti  biasanya yang berbicara singkat.

“Tapi, Joni, kulihat di kepalamu banyak  sekali benda-benda kecil. Benda apakah itu?”

“Bom!”

“Bom?”

“Ya,  dari pikiran liar itulah aku menciptakan bom-bom yang siap meledakkan dunia. Itulah kekuatan!”

Bergidik  juga aku mendengarnya. Mengerikan sekaligus  mengagumkan. Aku lalu berpamitan. Joni menahanku. “Makanlah dulu,  aku sudah masak nasi dan menggoreng ikan kali. Ikan kali, enak  lho,”

Ya, buat apa menolak tawaran demikian. Perutku sendiri terasa kosong. Setelah makan, aku sungguh-sungguh berpamitan. Tanpa sengaja, dalam perjalanan pulang, aku  melihat iring-iringan para seniman Yogya berjalan kaki.

“Lho, mau pada kemana?”

“Melayat,”

“Kucingnya Pak Walikota mati,”

Busyet. Pikiran siapa lagi jungkir balik? Kemudian setelah berbasa-basi sejenak, kepada mereka kuceritakan tentang nasib Joni. Cara berceritaku sangat bersemangat  seperti mau perang saja. Kukatakan di kepala Joni ada Bom.  Benar-benar BOM!

Mereka hanya tersenyum-senyum kecil. Lalu tertawa. “Mau buat gosip murahan, nih ye,” hampir bersamaan semuanya berkata begitu. Aduh kompaknya!

Imogiri, 15 Mei 1995

Catatan: Cerpen ini untuk merespon cerpen karya Agus Noor yang dimuat di Minggu Pagi. Kalau gak salah judulnya “Anjing”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: