2 Komentar

Anak Sekolah yang Dilacurkan

ANAK SEKOLAH YANG DILACURKAN
Odi Shalahuddin

128 anak dilacurkan di Pontianak, keseluruhannya adalah anak-anak sekolah, demikian hasil kajian dari Yayasan Nanda Dian Nusantara  pada periode 2008-2010 yang dikemukakan oleh ketuanya. Dikemukakan pula, satu diantaranya positif mengidap HIV/AIDS. Pemberitaan yang menjadi Headline di Kompas.com saat tulisan ini dibuat (lihat SINI) membuat teringat kunjungan saya Ke Pontianak pada Oktober 2010.

Pada saat itu, saya berkesempatan melakukan pengamatan di beberapa tempat yang dijadikan sebagai tempat mangkal prostitusi dan berkesempatan pula bertemu denganlima anak di kantor YNDN. Kunjungan juga saya lakukan ke Bandar Lampung dan Bandung. Di kedua kota tersebut, saya menemukan situasi yang hampir serupa dengan di Pontianak.

Salah seorang kawan perempuan, anggota tim kami untuk membuat studi pendalaman mengenai eksploitasi seksual komersial terhadap anak (prostitusi anak, perdagangan anak untuk tujuan seksual dan pornografi anak) yang melakukan observasi dan serangkaian wawancara disana pada tahap berikutnya berhasil menjumpai anak-anak yang masih menggunakan seragam sekolah dan mengakui tentang kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan.

Ada perubahan situasi menyangkut persoalan prostitusi anak.  Pada akhir tahun 1990-an hingga awal 2000-an, keberadaaan anak-anak masih muda dijumpai sebab mereka berada pada ruang-ruang publik, seperti jalanan, taman kota, cafe,diskotik, dan lokalisasi. Pada saat ini, walau masih bisa dijumpai di ruang publik, tentulah tidak terlalu menonjol kehadirannya. Namun, ini bukan berarti anak-anak yang dilacurkan jumlahnya berkurang.

Keberadaan mereka di ruang publik tampaknya dipengaruhi oleh berbagai tindakan tegas dari aparat penegak hukum yang mulai tidak segan untuk menyeret mucikari dan atau pengelola jasa hiburan yang menyediakan anak-anak. Bila-pun ada, tentunya tidak akan berani terang-terangan.

Pola yang berubah kecenderungannya melakukan kegiatan sendiri atau dalam kelompok-kelompok kecil. Ini sangat dimungkinkan dengan tersedianya fasilitas komunikasi yang mudah dimiliki atau digunakan oleh anak-anak seperti akses internet dan handphone. Tidaklah mengherankan apabila dalam tiga-empat tahun terakhir, jaringan-jaringan prostitusi yang menggunakan media jejaring sosial banyak yang berhasil dibongkar oleh pihak kepolisian. Namun bagi yang berkegiatan sendiri atau dalam kelompok kecil? Tampaknya ini belum bisa terlacak, sedangkan jumlahnya terus saja bertambah.

Lingkungan pergaulan dan pengaruh teman merupakan faktor resiko yang banyak menjerumuskan anak-anak ke prostitusi. Dalam wawancara dengan seorang anak yang masih duduk di kelas dua SMA di Pontianak, ia menyatakan telah menjalani kegiatan tersebut sejak ia kelas satu. Pada saat ini ia mengatakan juga berperan sebagai ”operator”,  artinya sebagai perantara untuk menghubungkan ke operator lain atau langsung ke konsumen. ”ya, kalau butuh, mereka punya teman, temannya punya teman, dan seterusnya,” demikian dikatakan olehnya mengenai model perekrutannya.

Di Bandar Lampung, seorang mucikari yang berada di salah satu lokalisasi menyatakan tidak berani menerima anak-anak sebagai anak buahnya. ”Saya gak mau kena hukum,” katanya sambil memberikan informasi mengenai kawan-kawannya sesama mucikari yang pernah terkena kasus hukum lantaran merekrut anak-anak.

”Tapi kalau butuh, saya bisa menghubungkan. Anak-anak ada yang menitipkan nomor HP-nya kepada saya dan bisa dikontak kalau ada yang mau membooking,” tambahnya.

Di Bandung, seorang anak berumur 17 tahun, dan mengaku pernah menjadi mucikari saat di kelas tiga SMP, mengakui bahwa perekrutan anak buahnya dilakukan seperti sistem MLM. ”Saya mengajak seorang teman, temannya nanti mengajak teman yang lainnya,” katanya hampir senada dengan anak yang dijumpai di Pontianak.

Ya, setelah berulang kali saya memposting tulisan mengenai anak-anak yang dilacurkan, untuk kesekian kali saya mengingatkan agar kita benar-benar bisa meningkatkan kewaspadaan agar anak-anak kita, anak-anak di sekitar kita tidak menjadi korban prostitusi.

Yogyakarta, 13 September 2011

____________________________

 

2 comments on “Anak Sekolah yang Dilacurkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: