Tinggalkan komentar

Aku si Anak Hilang

Cerpen  :  Odi Shalahuddin

Di mana aku dilahirkan? Jangan tanyakan hal semacam itu.  Aku sama sekali tak tahu. Apakah di sebuah rumah sakit, di rumah seorang bidan, di rumah dukun bayi, aku sungguh-sungguh tak tahu. Bisa jadi malah kelahiran malang. Di kolong jembatan, di sebuah gerbong kereta api, di pinggir kali, atau di kompleks pelacuran, misalnya. Tapi entahlah. Hanya Ibuku saja yang tahu. Kau tanyakan saja padanya.

Tapi jangan tanya kepadaku, siapa Ibuku? Aku sendiri tidak pernah mengenalnya. Meski bergelut di dalam perutnya berbulan-bulan, aku tidak bisa mengingat pengalaman itu. Ketika dilahirkan, tak sempat pula aku perhatikan wajahnya. Bukankah aneh kalau seorang bayi dapat melihat dan mengingat wajah ibunya seketika.

Ibu tak kenal, apalagi Bapak. Kau tentunya maklum, bukan? Jadi, jangan tanya apa-apa kepadaku soal masa lalu. Kalau kau memang hendak berkawan denganku, lihatlah aku apa adanya. Aku sebagai aku. Bukan aku plus embel-embel yang harus menjadi bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan dapat dijadikan seorang kawan. Cobalah belajar memahami hubungan aku-kau. Itu saja.

Sulit? Ya, memang sulit. Terkecuali aku. Ini lantaran nasibku memang begini. Kalau kau juga tidak bisa, aku maklum. Memang ini hanya pembelaanku saja. Pembelaan agar diakui sebagai manusia juga. Pembelaan agar mampu bertahan mengarungi hidup yang maha dahsyat  ini. Biar tetap tegar. Biar tetap dapat bergerak. Biar dapat tetap berpikir. Kalau tidak, aku pasti bisa jadi pesakitan. Aku tidak mau seperti itu. Aku hanya mau orang memandangku sebagaimana adanya sebagai manusia memandang manusia. Bila penilaian selalu  buruk, ya tidak apa-apa. Itu juga hak kamu. Pandangan berdasarkan streotipe belum bisa dihilangkan.

Tak tahu di mana dilahirkan, tapi aku tahu secara pasti di mana aku dibesarkan. Di sebuah tempat penampungan akhir dari sampah-sampah ibukota.

Empat belas tahun usiaku kira-kira. Empat belas tahun kurang beberapa hari aku di sini. Ya, sejak umur beberapa hari aku telah diletakkan dalam sebuah tas plastik diantara tumpukan berbagai sampah. Beruntung ada Pak Karso yang menemukanku. Dibawanya aku ke gubuknya. Beruntung pula bahwa Bu Karso tidak menolak  kehadiranku. Ia merawatku dengan susah payah meski telah kepayahan memelihara  empat anaknya yang masih kecil.

Jadilah aku anaknya. Anak bungsu. Biar tidak dimanja, aku harus berterima kasih kepada keduanya. Begitu  pula anak-anaknya yang menjadi kakakku. Dari mereka aku diajarkan bagaimana bertahan hidup.

Aku anak yang ditemukan, tidak pernah mereka menyimpan rahasia.  Bila pagi, teriakan Pak Karso dan Bu Karso menggelegar membangunkanku. “Ayo, anak tas plastik, bangkitlah. Sudah pagi. Ambil  alat kerjamu biar bisa makan,”

Ya,sejak usia lima tahun aku harus mandiri. Harus cari uang sendiri dan menyetorkan sebagian hasil untuk orang tuaku. Kukatakan padamu, tidak ada keterpaksaan  untuk  menyetor  hasil. Jangan kau  maki  keduanya. Aku teramat menghormati dan mencintainya. Aku merasa punya keluarga.

Hidup  bersama sampah sangat menyenangkan. Beragam bau  busuk dan bangkai sudah menjadi sahabat. Janganlah kau berkata  tentang kebersihan demi  kesehatan.  Janganlah  berkata  sampah  sebagai sumber  segala sumber penyakit. Sampah-sampah inilah yang  telah memberi kehidupan aku bersama ratusan orang lainnya.

Hidup memang sulit terduga. Pada suatu saat ketika aku tengah memancing bersama  Tukiman di sebuah sungai  di  ujung  Ibukota, pulang  dengan  jengkel karena tak satu pun  ikan  mau  menyentuh kail, sampai di pemukiman aku tertegun.

“Tuhan, mengapa ini harus terjadi!” teriakku lantang.  Sepanjang  mata memandang, hanya tumpukan sampah.  Gubuk-gubuk  telah rata, menyatu dengan sampah. Tidak ada satu orang pun di sana.

Aku  memandang  Tukiman, “Kita tinggal berdua,  entah  kemana keluarga, kawan-kawan dan saudara-saudara kita,”. Tukiman  hanya nyengir,  membuatku menjadi emosi. “Bangsat kau, Man!  Apa  kau tidak merasakan apa-apa ditinggal sendiri?!”

“Aku senang, aku jadi bebas!” seru Tukiman. Keningku  berkerut.  “Kau tahu, selama ini aku tersiksa. Bapakku bajingan, ibuku sama saja. Setiap hari aku dipukuli bapak lantaran hanya memberiuang dua ribu perak. Ibuku pun tak membela. Bahkan kadang ikut  memukul dengan gagang sapu. Mentang-mentang mereka orang tua, mereka berhak  untuk menyiksa anaknya?” Tukiman lalu menari-nari  sambil menyanyikan lagu kebebasan.

Aku  tidak  memperdulikan  ulahnya. Aku  duduk  di  sembarang tempat.  Aku merasa kehilangan segalanya.  Pak Karso,  Bu Karso yang telah kuanggap sebagai orang tua sendiri, anak-anaknya yang kuanggap  sebagai  kakak dan adik.  Kawan-kawan,  tetangga,  yang membuatku  hidup dan merasa sebagai manusia. “Oh,  Tuhan,  betapa berat  hidup ini. Kami yang tinggal di pinggiran, di tempat  yang sangat  tidak layak  untuk sebuah kehidupan pun masih saja  harus tergusur. Mengapa Tuhan? Mengapa?” aku mencoba menggugat.

Lembaran baru kehidupan harus mulai dijalani. Baru yang tidak berarti lebih baik. Aku memutuskan berpisah dengan Tukiman. Meski ia seorang kawan baik, tapi hidup bersamanya tidak menyenangkan.

Menyusuri jalan, betapa kecilnya aku ini. Mobil-mobil  bagus, gedung-gedung  tinggi, pertokoan beragam,  orang-orang bergegas, matahari  yang  garang, bulan yang genit,  asap  knalpot,  parfum menyengat,  bau  busuk, bau keringat. Tetap saja  aku  terasing. Berjalan sendiri di tengah hiruk-pikuk. Tanpa tujuan.

Mengorek-ngorek sampah mencari barang-barang bekas yang  bisa dijual. Nyelonong ke masjid meneguk airnya. pandangan mata orang selalu saja penuh prasangka. Ah, cuek.

Tidur  di sembarang tempat. Mimpi-mimpi tidak  pernah  indah. Aku  tidak  bisa mendikte  mau  mimpi  apa  nanti  malam.  Hanya khayalan-khayalan. Lama-lama kejenuhan hinggap.

Adakah begini terus hidup yang  akan  kujalani?   Prek! Menyakitkan!  Keirianku pada penampilan  dan  kesempatan  orang-orang.  Darimana  mereka  dapatkan uang  membangun  rumah  bagus, memiliki barang bagus? Mengapa hidup jadi jauh berbeda?  Bukankah katanya manusia lahir tanpa ada perbedaan?

Keirian kadang menjadikan kedengkian. Dendam. Amarah menyala. Terpikir jalan pintas. Seringkali kutekan. Sampai akhirnya  suatu kali  kunikmati  pula. Kucuri jemuran  di  sebuah  perkampungan. Selamat. Bisa ganti pakaian. Bisa dapat uang.

Melihat  bus-bus yang selalu penuh.  Aku bayangkan dompet-dompet. Naiklah aku. Menggerayangi kelemahan orang. Selamat pula. Aku jadi ketagihan. Sampai kupikir aku sangat terlatih. Lalu  aku dekati anak-anak kecil di jalanan. Aku menanamkan pengaruh dengan mentraktir  dan  mengancam. Sampai mereka  lekat  padaku.  Sampai mereka tergantung. Sampai mereka tunduk.

Begitulah adanya aku sekarang. Cemas-cemaslah perasaan kalian bila naik bus. Kalian perlu waspada. Lengah sedikit, salahkan dirimu sendiri.

Inilah aku, si anak hilang, tengah berjuang. Perjuangan memang berbeda-beda, bung!

Imogiri, Akhir Juli 1995

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: