Tinggalkan komentar

Ocehan-ocehan

Oleh  :  Odi Shalahuddin

Membaca, menonton, mendengar, pekabaran dari tanah sendiri dan negeri sebrang, beranjak dari tiap detiknya, melahirkan catatan sejarah kehidupan, tentang irama yang tiada beda. betapa benar manusia dalam kebingungan meletakkan dasar-dasar pergerakan, masih dengan angkuhnya “menaklukkan semesta” tanpa mau berbagi. manusia makhluk sempurna. tersedia akal dan rasa untuk memaknakan dan berencana. sayang, para penguasa dan pengusaha telah terjajah dengan apa yang namanya “kemenangan”, membalutnya dengan “penaklukan kesadaran” dan “jalan kekerasan” terhadap jelata yang berserak mengisi ruang-ruang dunia. tiba saat, demikian gema harap, tentang ratu adil, yang akan merubah dunia, sebagai penyeimbang dari rasa frustasi, sehingga harus membangun mimpi, agar harapan senantiasa tak pernah mati. bergerak. bergerak. Terus bergerak. mencatat dan tercatat sejarah.

ketika irama alam, turut berubah, demikian terkejutnya para manusia, tanpa kuasa, menyaksikan bumi bergoyang, berderak, menjatuhkan segala, dan memainkan air menjadi badai, menerjang, menggenang, dan tatkala matahari menyembunyikan dirinya, apa yang hendak dibanggakan lagi? atau menanti pula, suatu saat kelak ketika matahari terus bersapa tanpa kenal lelah sehingga kita bisa menjadi rindu malam?

masihkah kita membutakan mata dan hati, terus bermain dalam mimpi-mimpi, yang tidak saja menggerogoti saku sendiri, lantas menaburkan luka dan berbagai derita pada para saudara yang tidak beruntung dan hidupnya menggantung, berebutan atas remah-remah yang tidak jarang terambil dan terangkat kembali, hingga tangan menjangkau semakin jauh. para pengubah gaya  yang menjadikan orang menjadi bukan sendirinya terus saja berkuasa menentukan berbagai aturan, hanya untuk mencipta perbedaan, karenanya layak dibayar mahal, bukankah itu hal mengada dan tak masuk dalam pikiran di kepala? tapi, itulah yang terjadi dan benar-benar berkuasa. tertebar pula lewat layar-layar kaca, foto dan film sketsa maya, atau lembaran-lembaran yang tercetak.

seandainya kita bisa berpegang teguh pada hakekat mewujudkan mimpi dengan kesadaran perbedaan antara “kebutuhan” dan “keinginan” yang seimbang seiring dengan langkah tanpa perlu merasa resah dengan gema kampanye tentang majunya peradaban dengan nilai-nilai di luar kuasa, ah, tentunya pergerakan akan semakin berbeda. tapi, memang kita telah terperosok pada mimpi berkepanjangan, yang terus saja kita tularkan  pada generasi-generasi baru, dalam dinding rumah, dalam dinding sekolah, dalam dinding kehidupan yang pada akhirnya memenjara.

ah, hanya ocehan-ocehan belaka yang aku bisa sebagai pelepas derita, sama saja, terpenjara? Ha.ha.h.a.h.a.ha..ah, mari kita tertawa saja, membangun hati bahagia, menciptakan rasa suka, bukankah itu lebih bermakna dibanding kita ciptakan segala derita dalam kepala sehingga gerak menjadi maya dan tertatih gagap membangun perjalanan. ah, hanya ocehan-ocehan belaka, biarkan saja.

(ditengah kesuntukan, Yogya, 17 April 2011)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: