Tinggalkan komentar

Kebiasaan-kebiasaan Kita

Odi Shalahuddin

Engkaukah yang merasa terluka ketika mengetuk rumah saudara namun tak merasakan kehangatan dalam sambutannya. Bahkan terlihat sorot mata curiga sehingga membangkitkan prasangka bahwa akan ada sesuatu pinta? Sekali-dua kali, mungkin tak mengapa. Namun berulangkali, bisa dikatakan bencana. Walau sesungguhnya, kunjungan adalah silaturrahmi belaka, namun disikapi sebagai pinta, tentu akan membuatmu enggan untuk mengetuk pintu itu lagi.

Lantas, setelah keengganan menyelinap dan membuat malas kaki melangkah dan tangan untuk mengetuk, terjadi bisik-bisik bahwa dirimu tidak menghargai saudara lantaran jarang menjenguknya. Engkauhkah itu?

Engkauhkah? Merasa hal terbaik yang harus diberi ketika keponakan atau anak boss berulangtahun. Tiada peduli isi saku tak cukup menjangkau secara sempurna. Namun di sisi lain, keponakan, anak tetangga, atau anaknya anak buah seperti office boy cukuplah diberi ucapan selamat saja, tanpa perlu bersusah payah berpikir tentang apa yang hendak diberi, apalagi bersusah payah mencari-cari keluar masuk mall? Engkauhkah itu?

Engkauhkah, sang guru yang berbinar-binar ketika anak pintar semakin pintar dan menampakkan wajah cemberut ketika si Polan tak pernah bisa bergerak maju nilainya dan selalu ketinggalan dari kawan-kawannya?

Engkauhkah yang tanpa sadar bersusah payah untuk “memfasilitasi” sesuatu yang sesungguhnya tidak begitu dibutuhkan sang penerima namun disuntukkan oleh tingkah yang menurutmu tak akan bisa “berubah”

Teringatlah aku akan seorang kawan ketika menghabiskan malam di jalanan, sambil melihat bintang-bintang yang kerlipnya tak merata. “Kita, dikuasai oleh sesuatu yang menjadi kekhawatiran kita,” demikian katanya.

”Seorang keponakan atau anak boss kita yang orangtuanya mampu, harus kita berikan sesuatu yang mahal melampau jangkauan kita,” lanjutnya sambil menghisap rokok dalam-dalam, lalu memainkan asap-asapnya. ”pada saat bersamaan kita bisa bersikap kejam kepada anak saudara kita yang membutuhkan sesuatu yang mahal, namun kita rasa menjadi mengada-ada lantaran kita berpikirnya orangtuanya tak akan mampu membelinya?”

Aku ikut-ikutan menarik hisapan rokok dalam-dalam. Sayang tak bisa menguasai, sehingga batuk-batuklah jadinya. Mungkin bintang dan bulan tersenyum mengejek menyaksikan ulah manusia yang sok tahu.

”kita bisa mentolerir sebuah keluarga bisa menghabiskan lebih dari dua juta hanya untuk makan malam, tapi kita bisa menjadikan bahan candaan yang membuat kita terbahak atas keluarga lain yang diributkan oleh anak-anaknya yang meminta es krim dari sebuah merk  yang biasa tampil dalam iklan-iklan,” katanya sambil meraih kopi panas yang baru saja diberikan oleh pemilik warung angkringan.

”Bagaimana dengan dirimu sendiri?”

Pertanyaan yang membuatku tergagap. Pikiran melayang, mencoba merefleksikan pengalaman, hilir-mudik segenap bayang atas kejadian-kejadian. Mungkin aku pernah menjadi korbannya, mungkin aku pernah jadi pelakunya.

”Tapi begitulah kita. Selalu takut berbuat salah terhadap orang yang kita anggap tinggi, tapi selalu melakukan kesalahan terhadap orang-orang yang dalam pandangan kita lebih rendah, dan seringkali merendahkannya,” katanya lagi sambil meniup-niup gelas mengurangi panasnya kopi, untuk kemudian diteguknya secara perlahan.

Bintang-bintang berlarian, membuat bingung angin yang malah berhenti. Membuat udara panas. Benar-benar panas. Panas di luar, panas di dalam. Menghisap rokok-pun menjadi basa-basi.

Yogyakarta, 10 Mei 2011

___________________________

Sumber gambar asalnya dari SINI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: