Tinggalkan komentar

Jadi Rakyat Saja Sudah Susah, Apalagi Jadi Wakilnya

Jadi rakyat saja sudah susah, apalagi jadi wakilnya
Odi Shalahuddin 

Aku merasa beruntung lantaran bukan sebagai anggota DPR yang terhormat, yang katanya menjadi wakil rakyat. Sungguh. Gak kebayang deh kalau mau menjadi anggota DPR. Karena itulah, aku selalu tak pernah mau masuk partai. Gak ngotot mendekat petinggi partai menjelang pemilu. Gak menghambur-hamburkan uang bagi berlangsungnya konpercab ataupun konperda. Tidak menghambur-hamburkan uang untuk kampanye, bila sudah menjadi calon, sekaligus berwajah manis, mengumbar janji, padahal di kepala lagi pusing cari hutangan untuk menambah amunisi, iya kalau jadi? Bila tidak bisa bunuh diri atau nanti berpura-pura gila aja. Biar berada di bawah pengampuan.

Biarlah aku menjadi rakyat saja. Sama halnya dengan apa yang dikatakan oleh Indra Herlambang dalam salah satu tulisannya di buku Kicau Kacau, yang kujadikan judul tulisan ini. “Jadi rakyat saja sudah susah, apalagi jadi wakilnya,”

Kalau aku menjadi anggota dewan, maka sulit bagiku untuk menutupi wajah ini. Sulit untuk menutup telinga dan mata berpura-pura tuli dan buta. Pasti malu sekali lantaran bertubi-tubi, berbagai peristiwa menghujam institusi dan para anggotanya. (walau aku menjadi ragu, jangan-jangan untuk menjadi wakil rakyat memang tidak harus punya hati, tidak punya mata, tidak punya telinga. Cukup santun untuk bergerak berdasarkan instruksi dari sang kepala atau para penguasa, biar berjalan aman-aman saja, lupa amanah dari para tuan sesungguhnya: Rakyat).

Sungguh. Aku merasa bersyukur menjadi rakyat saja. Aku tidak usah mencari-cari alasan dan pembenaran atas kepergianku melanglang buana, sekalian mengambil kesempatan berbelanja, bawa anak-istri, atau selingkuhan berdua. Aku juga tidak perlu berpura-pura sakit, lantaran tidak merasa khawatir  akan dipanggil oleh KPK. Aku tidak perlu meragu untuk menonton film-film BF, paling cuma malu kalau ketahuan anak-anak saja. Aku tidak perlu kesal kepada para wartawan yang kerjaannya mau tahu saja, mengungkit-ungkit hal yang sebenarnya biasa menjadi luar biasa, lantaran aku bukan sumber berita. Ah, bebas dari sorot cahaya berkilatan dari lampu-lampu blitz ketika keluar dari ruang pemeriksaan.

Kalau aku menjadi anggota Dewan, ada lagi yang bisa menyusahkan diriku saat ini. Menghabiskan pulsa 14 juta rupiah. Padahal kita sama-sama tahu, banyak anggota Dewan yang tidak pernah menggunakan pulsanya untuk berkomunikasi dengan para tuan sesungguhnya. Berpura-pura tak mendengar, atau matikan saja bila nomor tak bernama memunculkan musik pada alat komunikasinya. Ya, menghabiskan satu juta rupiah saja (tidak pernah punya pengalaman menghabiskan satu juta sih) untuk berkomunikasi pastilah susah sekali. Apalagi saat ini banyak provider menyediakan fasilitasi, sms 8 kali dapat bonus 1000 sms gratis ke seluruh provider, menggunakan akses internet 10 menit dapat gratis setengah jam. Jadi, menghabiskan waktu dua puluh empat jam untuk bertelpon ria, sms, atau membuka-buka email dan menjawabnya, aku sungguh ragu dapat menghabiskan uang sebesar itu. Karena itulah aku bersyukur tak dipusingkan tentang cara menghabiskan pulsa. Karena aku adalah rakyat. Yang tidak malu kehabisan pulsa, pinjam telpon tetangga.

Lantaran sebagai rakyat, maka aku bisa merasa bebas merdeka untuk bertanya ataupun bercerita. Coba kalau sebagai wakil rakyat. Maka omongan haruslah ditata. Jadi, jangan sakit hati kalau ditanya tentang kondom-kondom bekas yang bertaburan di tempat-tempat sampah ruang para wakil rakyat, jadi jangan sakit hati kalau ditanya soal rencana pembangunan gedung yang laksana kondominium. (kok dekat-dekatan ya…). Beruntunglah aku sebagai rakyat. Nah, sebagai wakil rakyat, maka dirimu harus mendengarkan kata para tuan-nya. Jangan selalu anggap bodoh para tuan, yang masih banyak menggunakan sandal jepit, pakai sarung, kaos oblong, dan masih kreatif menggunakan ruang-ruang publik di kota sebagai tempat tinggalnya. Bukankah fasilitas yang kamu terima lantaran kamu dikasih mandat? Jadi jalankan saja. Jangan macam-macam, kecuali atas kepentingan sang tuan. Bisakah?

Yogya, 13 Mei 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: