Tinggalkan komentar

Aku Orang Indonesia

Oleh  :  Odi Shalahuddin

Pertanyaan yang paling aku tidak suka, tapi tidak bisa kuelakkan adalah pertanyaan yang selalu sama dilontarkan oleh orang-orang kebanyakan dari kita: “Asal mana?”

Ini telah berlangsung puluhan tahun lalu dan masih terjadi hingga saat ini. Waktu kecil, setidaknya sampai di bangku SMP, aku selalu bingung. Susah untuk menjawabnya. Atau memerlukan jawaban memutar yang panjang. Tapi akhirnya aku selalu bisa menjawab dengan singkat: “Asli Indonesia,”

Konyolnya, jawaban ini selalu saja dianggap bercanda. Sang penanya akan tertawa. Lalu melanjutkan pertanyaannya: “Maksudnya kelahiran mana?”

Aku tahu, bila aku jawab lagi, maka itu juga tidak akan menjawab hal yang ingin diketahui oleh sang penanya. Tidak akan memuaskan. Soal tempat kelahiran, bukankah pada masa sekarang, orang bisa dilahirkan di manapun yang berbeda dengan kota tempat tinggalnya, berbeda pula dengan asal dari bapak atau ibunya.

Tapi begitulah, hingga saat sekarang, pertanyaan yang sama selalu saja terlontar.

Kukira, riwayat hidupku belum terlalu ruwet. Kakek dari ibuku berasal dari BantulYogyakarta. Nenekku dari TemanggungJawa Tengah. Ibuku dilahirkan di Temanggung, tapi sejak bayi sudah tinggal di Bogor. Bapakku sendiri kelahiran Bogor. Kakek dan nenekku, sayangnya aku tidak tahu kelahiran mana. Tapi yang jelas aku tahu, Kakekku masih keturunan Arab. Nenekku, tampaknya asli Sunda, tapi aku tak tahu pula kota kelahirannya.  Bapak-ibuku bertemu di kota Bogor. Menikah, lalu sejak tahun 1968 tinggal di Jakarta. Aku bersama lima adikku, lahir di Jakarta. Tepatnya di RS. St. Carolus, Jakarta Pusat. Sejak umur 14 tahun, waktu masih kelas dua SMP, aku pindah ke Yogyakarta, bersekolah dan menikah hingga punya anak dua, tetap di Yogya.  Nah, dalam, riwayat yang kuanggap tidak terlalu ruwet ini, aku masih kesulitan bila ditanya tentang asal.

Apakah aku akan menjawab asalku dari Yogya? Temanggung? Bogor? Atau Arab?

Kukira, riwayat hidupku lebih baik dibandingkan kebanyak orang-orang yang dilahirkan pada masa-masa dua puluh tahun terakhir. Ketika perkawinan sudah tidak lagi banyak mempertimbangkan adat/asal, maka hubungan perkawinan sudah melampaui lintas wilayah kedaerahan bahkan lintas negara. Generasi-generasi berikutnya juga demikian. Maka bisalah dibayangkan betapa susahnya orang-orang yang kakek-nenek buyutnya berbeda negara,  demikian juga dengan kakek-nenek, dan kedua orangtuanya, lalu sang anak dilahirkan di negara yang berbeda pula.

“Asal dari mana?” Nah, loh…..

Jelas, asal kita pastilah dari rahim sang ibu. Kebenaran ini tidak akan ada yang bisa menyangsikannya. Atau ada yang berbeda, lahir tiba-tiba dari sosok batu atau pepohonan seperti dongengan-dongengan? He.h.e.he.he. kukira ya, pasti tidak ya…

Pertanyaan yang muncul di benakku: kenapa ”asal darimana?” menjadi pertanyaan yang umum dilontarkan oleh orang-orang dari belahan manapun di Indonesia raya ini? Lantaran karena Indonesia kaya dengan beragam etnis dan suku bangsakah? Sehingga sebagai penghormatan akan ditanya ”asalnya” terlebih dahulu agar kita bisa segera membuka pembicaraan lainnya yang terkait dengan asal seseorang yang ditanya atau memudahkan kita memahami karakter dan kebiasaan orang tersebut agar kita bisa menerima dan memperlakukan dengan baik? Bisa jadi. Bisa pula tidak. Tapi yang aku yakini, bahwa pertanyaan tersebut tentulah bermakna baik bila dikaitkan dengan konteks pada jaman dimana orang-orang masih menempatkan diri pada ”asal”nya. Tapi ketika sekarang pembauran sudah tidak menjadi hal yang asing, pertanyaan tersebut bisa bersifat diskriminatif. Seakan tidak percaya bahwa kita sudah berbaur dan menjadi ”Indonesia”. Bisa pula melupakan bahwa ”bhineka tunggal ika” menjadi semboyan negara kita.

Hm.. ngomong-ngomong, kamu sendiri ”asal darimana?”

Indonesia, 30 April 2011

___________________________

Sumber Foto dari SINI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: