Tinggalkan komentar

Aku Ingin Tapi Tak Bisa

Oleh:  Odi Shalahuddin

Aku ingin sekali menulis persoalan politik. Tidak perlu politik nasional-lah yang selalu penuh dengan gonjang-ganjing. Cukup politik lokal yang juga menggeliat. Sayang aku tak bisa. Karena aku tidak pernah belajar khusus soal-soal politik, bukan seorang politisi, dan kegiatan juga tidak banyak berhubungan dengan politik (kekuasaan). Walau aku ingat pernyataan seorang kawan dan pernah terprovokasi karenanya: ”Tidak ada satupun yang tidak terkait dengan politik. Soal cabai saja bisa berhubungan dengan politik. Jadi tanpa sadar setiap orang tidak bisa bersikap a-politis. Memilih tidak berpolitik saja sudah sikap politik,”

Ya, karena itulah, keluasannya yang menyentuh seluruh sendi kehidupan bisa terkait dengan politik, yang menyebabkan aku ingin sekali menulis tentang politik. Tapi bagaimana?

Bukankah menulis adalah menuangkan sesuatu dari pikiran kita, dari rasa kita, dari pandangan atas terhadap sesuatu dengan nilai-nilai yang melekat dalam diri kita, sadar ataupun tidak, demikian adanya. Kita sangat dipengaruhi oleh referensi yang dimiliki, berdasarkan pengalaman, membaca, mendengar, menonton, yang menyelusup ke dalam diri, dan menjadi cara pandang dan nilai-nilai. Karena itulah, aku sama sekali tidak berdaya, tidak merasa cukup untuk menulis soal-soal politik. Ingin belajar juga sudah merasa tua, walau sadar, belajar tidak mengenal usia. Tapi ada batas dimana kemampuan menyerap tentulah semakin berkurang. Persoalan lain adalah kemalasan. Jangankan membaca buku, membaca koran dan menonton televisi yang mudah saja, jarang terjamah. Jadi apa yang bisa kutulis?

Maka bertanyalah aku pada seorang kawan, ingin belajar tentang politik kepadanya. Pendidikannya memang bukan di Sospol, tapi kalau diwawancarai dan menulis, selalu disebut sebagai pengamat politik.

”Kritiklah kekuasaan,” katanya.

”Kritik yang mana?”

”Kritik semuanya. Apalagi sekarang serba terbuka. Sidang DPR saja bisa menjadi siaran langsung. Amati saja. Atau cobalah berbeda dengan pandangan orang-orang yang berkuasa, maka kau bisa berkomentar dan menulis tentang politik,”

Aku manggut-manggut walaupun masih belum masuk ke kepala apa yang dimaksud. Jadi, kalau saya menulis untuk mengkritik presiden, anggota DPR, gubernur, atau walikota/bupati dan siapa saja yang memiliki kekuasaan, maka saya sudah menulis tentang politik?

”Coba sajalah. Sekarang banyak celah, banyak masalah, jadi untuk menulis soal politik adalah soal yang gampang. Tidak perlu sekolah politik, kamu bisa kok jadi ahli politik. Pokoknya kenceng aja dengan kekuasaan Coy…. Bersikap kritis terhadap kekuasaan istilah kerennya” kata kawanku sambil menepuk-nepuk bahuku.

Sungguh, aku masih bingung. Bila mengkritik, maka harus ada argumennya. Bila langkahnya salah, maka harus ada sandaran untuk mengatakan itu salah. Lha, sandarannya apa ya..?

” Politik itu adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan khususnya dalam negara. Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional.” kata kawan lain yang kutahu mengutip dari Wikipedia, ketika kutanya.

”Kamu belajar dulu sana tentang teori politik jaman klasik, jaman pertengahan dan jaman modern. Dari sana kamu bisa lebih memahami tentang politik,” kawan lain menyarankan.

”Politik itu luas. Teori politik juga dikembangkan dari cabang ilmu antropologi, sosiologi, psikologi, ekonomi, komunikasi dan sebagainya. Tapi ngomong-ngomong, kenapa sih kamu tertarik untuk menulis tentang politik? Maksudmu ingin menulis tentang konsep atau menilai sesuatu dari kacamata ilmu politik?”

Wah, makin pusing deh kepala. Niat sederhana, kok jadi terasa rumit.

”Pahami isme-isme,” kawan lain nimbrung, ”misalnya kamu pernah dengar tentang komunisme, liberalisme, fasisme, demokratisme, fundamentalisme, globalisme, feminisme, dan sebagainya. Itu sebagian dari sistem politik yang dikembangkan oleh negara-negara di dunia’.

Uh, pusing juga. Aku ingin, tapi memang harus aku akui aku tidak bisa menuliskannya. Baru bertanya-tanya saja sudah bikin pusing kepala. Sudahlah, membuat fiksi saja…. Bisa bebas kepala berimajinasi… hi..hi..hi…

Yogyakarta, 21 April 2011

______________________________

Sumber gambar dari SINI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: