Tinggalkan komentar

Semua Seperti Kentut

SEMUA SEPERTI KENTUT
Odi Shalahuddin 

Saya yakin 100 persen bahwa semua tidak ada yang asing dengan kentut. Semua pernah menjadi korbannya, tapi seringkali pula menjadi pelakunya. Kentut sudah menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari. Bila saja anda jujur, saya yakin anda juga pernah mencoba menikmati kentut anda sendiri, dengan aromanya yang khas. Tiada hari tanpa kentut, begitulah.

Kentut itu menyehatkan. Tapi tentu saja dengan catatan. Mengutip sebuah artikel, dikatakan bahwa dalam frekuensi normal, kentut merupakan hal yang sehat karena menandakan sistem pencernaan khususnya gerakan peristaltik usus hingga anus berjalan dengan normal. Bila frekuensinya berlebihan, maka menandakan adanya gangguan di perut. Tapi yang lebih buruk dan dapat mengancam nyawa adalah bila orang tidak bisa mengeluarkan gas dari dalam tubuhnya alias tidak bisa kentut. Ketidakmampuan tubuh mengeluarkan gas atau kentut dari dalam tubuh dapat mengancam jiwa karena disebabkan oleh kondisi peritonitis. Peritonitis adalah peradangan (iritasi) dari peritoneum, yaitu jaringan tipis yang melapisi dinding bagian dalam perut dan mencakup sebagian besar organ perut (sumber DI SINI)

Soal kentut bisa menjadi guyonan yang bisa mengakrabkan perkawanan dalam satu komunitas tertentu. Lebih asyik kalau di komunitas tersebut orang-orangnya memang hobi kentut. Kentut-pun bisa menjadi lomba. Lomba suaranya paling keras, lomba paling panjang, atau lomba paling banyak. Nah, bisa dibayangkan bagaimana hebohnya untuk mempersiapkan diri untuk memenangkan perlombaaan.

Di komunitas yang lain, ketika ada aroma yang menyesakkan pernafasan ditengah keasyikan pada hal tertentu, maka saling tuding yang gagal, bisa diselesaikan dengan menyanyikan lagu, bang bang tut, yang juga pernah dikembangkan liriknya dan dinyanyikan oleh kelompok musik ternama di Indonesia: SLANK.

Bang bang tut/akar gulang-galing/siapa yang kentut/ditembak raja maling/musuh dalam s’limut/sama juga maling/mulut bau kentut/dibelakang ngomong miring/lempar/lempar batu/lalu sembunyi tangan/bikin orang bingung/langsung buang badan 

Lain soal bila di tempat umum, di ruang pertemuan atau dalam angkutan umum. Kentut tak bersuara, tapi aromanya menyebar. Orang-orang hanya bisa menutup hidung, saling pandang, menerka-nerka sambil hatinya gerundelan. ”Kurang ajar, tak tahu sopan-santun,”

Soal kentut juga bisa menimbulkan masalah. Dua orang yang biasanya berpartner dalam kerja bisa putus hubungan lantaran salah satunya suka kentut dan tidak bisa mengontrol diri. Apalagi bila pekerjaan yang dilakukan mereka berhubungan dengan banyak orang. Misalnya dalam bisnis warung makan

Dari soal kentut, akan banyak beragam kisah lucu dan memalukan, yang kita alami atau kita saksikan. Cobalah daftar pengalaman yang berkaitan dengan kentut selama hidupmu. Tercatat daftar yang cukup lumayan, bukan?

Soal kentut bisa menjadi hal yang serius. Republik Malawi di Afrika tengah ada upaya untuk mengamandemen hukum yang memberikan sangsi bagi orang yang membuang angin (kentut) sembarangan. Dikatakan oleh Chaponda, seorang tokoh kunci dalam pemerintah Presiden Bingu wa Mutharika yang berposisi sebagai Menteri Kehakiman dan Urusan Konstitusional,  bila warga Malawi tidak dapat mengendalikan kebiasaannya “mereka harus pergi ke toilet daripada buang angin di publik.” “Kebiasaan dapat dikendalikan… akan menjengkelkan bila rakyat buang angin di mana saja,” (Sumber lihat DI SINI).

Soal kentut dapat menjadi biasa, namun juga menjadi hal yang luar biasa. Tergantung dari sisi mana engkau memandangnya. Soal kentut juga bisa menjadi contoh untuk menggambarkan situasi kehidupan sosial, budaya, dan politik kita.

Banyak peristiwa di Indonesia bisa dikatakan seperti kentut. Ia hadir sebagai peristiwa, tercium baunya, tapi sulit untuk mengetahui siapa pelakunya. Katakan sajalah peristiwa teror bom yang lagi marak, terorisme, korupsi, penggelapan, suap-menyuap, orang-orang yang dihilangkan, termasuk pembunuhan di dalamnya, video porno yang melibatkan para selebritis dan konon juga termasuk keluarga pejabat. Semua peristiwa datang silih berganti, tanpa ada kejelasan dan ketuntasan penyelesaian kasusnya. Nah, seperti permainan juga, harus ada yang ditunjukkan sebagai keberhasilan.

Caranya?  Ya, dinyanyikanlah lagu bang-bang tut…. akar gulang galing…. di tembak raja maling…. Maka, kesialan bagi dirimu ketika di akhir lagu, jemari tepat berhenti menunjuk sosokmu. Engkau pelaku sesunguhnya ataupun bukan, tidak menjadi persoalan. Terpenting ada pelaku yang harus diseret dan diadili agar tidak menimbulkan gejolak sosial politik di negeri ini. Jadi tidak mengherankan, apabila rangkaian peristiwa dari kasus serupa seolah tak pernah berhenti menyapa. Seakan dijaga untuk mengalihkan peristiwa yang mengancam kemapanan dari sang pemilik kuasa, siapapun dia.

Ssssst, para tukang kentut lagi beraksi. Mari bernyanyi….  Biar enak sambil joget, nyanyikanlah lagunya Slank aja.:

Bang bang tut
akar gulang-galing
siapa yang kentut
ditembak raja maling .

musuh dalam s’limut
sama juga maling
mulut bau kentut
dibelakang ngomong miring .

lempar
lempar batu
lalu sembunyi tangan
bikin orang bingung
langsung buang badan 

Yogyakarta, 25 Maret 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: