Tinggalkan komentar

Sampai Phat Phong

Oleh:  Odi Shalahuddin

Pak Kades, kami transit lagi. Waktu menunjukkan jam setengah tujuh malam. Kawan seperjalanan bermaksud mengajak  makan di daerah Shukumvit, mencari restaurant India. Alasannya biar merasa nyaman dan tidak khawatir ketika makan. Seperti ceritanya tadi di pesawat, banyak orang merasa terjebak bila makan di sembarang tempat, ada jenis makanan yang dilarang oleh agama Islam.

”Jalan kaki saja di daerah sini, siapa tahu ada,” usulku dengan harapan bisa mengenali jalan-jalan.

Keluar dari hotel yang terletak di daerah Silom, kami berjalan ke arah kiri. Sampai perempatan ke kiri lagi. Ada beberapa restaurant, sepi. Tiba di pertigaan, ada rumah makan Cina yang sangat ramai. Beberapa pengunjungnya menggunakan jilbab.  Semoga aman, harap kami.

Beruntung ada satu meja kosong. Pengunjung setelah kami, terlihat harus antri lama, menunggu meja-meja kosong. Terasa tidak salah pilihan ini.

Selesai makan, kembali ke arah berangkat. Tiba di perempatan, kawanku menawarkan untuk melihat-lihat tempat penjualan barang-barang murah para pedagang kaki lima. Aku setuju-setuju saja. Bila ke hotel belok kanan, maka kami belok ke kiri, menyebrangi perempatan jalan.

Pedagang di Patpong

Tidak berbeda dengan para pedagang kaki lima di berbagai kota di Indonesia, mereka menggunakan trotoar untuk menjajakan barang dagangannya. Semakin berjalan, semakin ramai saja para pedagang. Sampailah  kami melihat di sisi kiri, para pedagang kaki lima menggunakan jalan besar sebagai tempat menjajakan barang dagangannya sepanjang lima 500 meteranlah. Mereka tertata menjadi tiga baris. Kami masuk menyusuri jalan ini.

Melihat barang dagangannya, mirip dengan di Yogya, berisi souvenir, pakaian-pakaian khas, kaos-kaos dengan ciri kota ini, tas-tas, dan sebagainya. Untuk sementara ini lihat-lihat saja dulu, terutama harga-harganya. Besok menjelang pulang, barulah membeli.

Tiba-tiba saya tertegun. Di sisi kiri dan di sisi kanan, bangunan-bangunan yang ada adalah deretan bar-bar. Suara musik terdengar. Beberapa orang menawarkan kepada orang-orang lewat paket hiburan yang ada di bar-bar itu. Dari pintu masuk yang sengaja dibiarkan terbuka, terlihat para perempuan hanya menggunakan bra dan celana dalam yang seragam, meliuk-liuk dengan tangan menggenggam tiang-tiang. Ternyata tidak hanya di satu bar, hampir di seluruh bar yang kami lewati, ada pemandangan serupa. Wah, padahal saat ini baru saja jam delapan malam.

Salah satu tempat hiburan di Patpong

“Lho, ini yang disebut Patpong?” tanyaku pada kawan.

Kawanku, yang sebelumnya pernah bercerita berkunjung ke patpong mencermati keadaan sekelilingnya,

“Iya, tapi kok kelihatan beda ya…”

“Kamu pasti datang menjelang atau selewat tengah malam. Para pedagang kaki limanya sudah tutup,” tebakku.

“Mungkin ya..” katanya sambil melihat-lihat.

Tentang Patpong, Saya sering mendengar kawan-kawan bercerita tentang wilayah ini sebagai dunia hiburan malam yang penuh dengan sensasi seksual. Setelah melihat barang-barang dagangan para pedagang kaki lima, sambil sesekali mata mencuri pandang ke arah bar-bar yang ada di kanan kiri jalan, kami melanjutkan lagi perjalanan.

Kami sampai di Sala Daeng, Skytrain station. Terasa capek juga. Akhirnya kami memutuskan kembali ke hotel.

Menyebrang jalan, sekelompok anak muda menggunakan trotoar melakukan aksi menghimpun dana untuk bencana banjir yang melanda negeri mereka. Satu orang dengan pengeras suara seperti berorasi, ada yang melakukan performance, dan selebihnya berputar dengan kotak-kotak sumbangan.

Kami memilih Tuk-tuk kembali ke hotel. Sudah jam 10 lebih sedikit. Berencana OL untuk chatting dengan kawan-kawan di Yogya untuk mengetahui perkembangan situasi para pengungsi Merapi, dan juga bersapa dengan anak-istri, sekalian buat tulisan pendek untuk berbagi. Sayang, tubuh yang tidak enak, semalam aku tertidur di tengah percakapan dan tulisan.

Kini harus segera bergegas, setengah jam lagi bergerak ke Bandara, melanjutkan perjalanan.

Bangkok, 31 Oktober 2010

Catatan: salamku untuk warga desa rangkat semua.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: