Tinggalkan komentar

Piring Pecah di Jakarta, Terdengar Hingga Gunung

Oleh:  Odi Shalahuddin

Pada masa rejim Soeharto berkuasa, atas nama stabilitas politik dan keamanan, semua benar-benar sangat terkontrol. Apalagi terhadap rakyat yang berkumpul. Jangan sampai menjadi organisasi. Biarlah organisasi disediakan oleh pemerintah. Jangan membuat sendiri. Bila tetap bersikukuh atas nama kebebasan berorganisasi, akan tersiar kabar di masyarakat tentang hal buruk terkait dengan para pimpinan atau organisasi tersebut. Sehingga organisasi tersebut tidak bisa berkembang. Atau diharapkan segera tumbang.

Senjata paling ampuh yang sangat menggetarkan dan membuat hidup tak nyenyak adalah tudingan bahwa orang atau organisasi tersebut telah disusupi oleh kader-kader komunis. Orang bisa takut berdekatan apalagi berhubungan. Baru mendapat kunjungan saja, sudah mengigil dirinya. Tak aneh, bila orang juga tak akan perduli dengan tudingan mengada-ada yang dialamatkan, misalnya kepada orang-orang yang lahir paska 65.

Kontrol sedemikian ketat. Aparat dan petugas keamanan ditempatkan hingga level terendah, pun hingga pucuk-pucuk gunung. Maka pada masa itu, pameo yang sangat terkenal adalah, ”piring retak di pucuk gunung, akan terdengar sampai Jakarta”. Ini menunjukkan kontrol penguasa terhadap rakyatnya.

Ketakutan-ketakutan yang disebarkan secara terus menerus dan melekat di dalam kepala rakyat, banyak dimanfaatkan oleh aparat-aparat korup. Penggusuran tanah rakyat yang sudah rugi, bisa semakin rugi lagi dimakan tikus-tikus itu. Berani menggugat, bisa disebut sebagai anti pembangunan, ”mbalelo” atau ya ”komunis” itu. Maka suburlah korupsi dari tingkat tinggi hingga tingkat rendah. Tapi namanya korupsi. Seperti kentut saja. Bisa dirasakan, bisa diendus, tapi tak bisa tertangkap.

Bagaimanapun, rejim otoriter tentunya akan melahirkan gerakan-gerakan bawah tanah yang akan senantiasa melakukan perlawanan. Sejarah membuktikan bahwa gerakan – apapun fakta-fakta yang masih tersembunyi di dalamnya – telah berhasil mengkristal menjadi satu kekuatan dengan sasaran Soeharto sebagai musuh bersama, dan berhasil memaksanya untuk mengundurkan diri.

Orde reformasi. Harapan-harapan terhadap perubahan radikal menyeruak di setiap hati anak-anak bangsa. Namun, bertahun-tahun kemudian, perubahan radikal dalam sistem di negara ini  tak menunjukkan wujudnya. Kekuatan-kekuatan lama masih bertengger di lingkaran kekuasan dan terus memainkan peranannya. Pun tampaknya hingga kini.Seluruhnya tetap sama: Mengklaim atas nama Rakyat.

Di luar berbagai keprihatinan atas persoalan-persoalan bangsa dan Negara ini yang masih mengemuka, yang melibatkan jaring-jaring kekuasaan untuk mengeksploitasi kekayaan negara bagi kepentingan kelompoknya, dan senantiasa bertarung mengorbankan pion-pionnya, hal menggembirakan yang telah bisa kita nikmati adalah kehidupan pers yang lebih bebas. Ditopang dengan perkembangan teknologi, dengan harga murah yang terjangkau oleh banyak orang, pun yang tinggal di pelosok, seperti televisi dan HP, menyebabkan berbagai informasi seperti air bah yang tak bisa tertampung lagi. Hanya kita yang selayaknya dapat menyeleksi mana informasi berguna dan informasi sampah.

Penguasaan informasi adalah salah satu jalan menuju dan mempertahankan kekuasaan. Maka perang informasi, termasuk penyebaran informasi-informasi sesat menjadi bagian dari strategi dan taktik untuk mempengaruhi publik.

Berbagai kasus mutakhir misalnya, kita merasa mendapat informasi yang seolah-olah terang benderang menunjukkan adanya peristiwa besar yang terungkap. Kita berbondong-bondong terbawa arus menuju tujuan yang dikehendaki oleh penyebar/pembuka informasi. Namun tiba-tiba pikiran kita juga bisa berubah dengan cepat ketika counter atas informasi tersebut juga mengemuka dan memainkan pikiran-pikiran kita. Begitulah yang tampaknya kita hadapi dan alami. Kita dipermainkan oleh informasi-informasi para pemain-pemain politik. Kesadaran kita dibuat tumpul dan cenderung mengekor tanpa sempat berpikir kritis mempertanyakan kebenaran yang sesungguhnya.

Pada dunia macam ini, ketika media sudah sangat terbuka. Maka pameo memang bisa berubah kebalikannya: ”Piring Pecah di Jakarta, terdengar hingga pucuk gunung,” . Tantangannya adalah bagaimana bersikap kritis terhadap berbagai informasi yang terus berdatangan bagaikan badai yang hendak menerkam kesadaran kita tentang banyak hal. Ini akan menjadi modal utama agar kita terhindar menjadi orang yang plin-plan tanpa kita sadari karena semuanya bernasib sama.

Kalau saya, selalu menyatakan tidak pernah percaya bahwa kekuasaan akan bisa berinisiatif membuat kebijakan yang baik untuk rakyatnya. Kekuasaan akan cenderung meraup keuntungan sebanyak mungkin untuk kepentingan kelompok/organisasinya. Maka hanya kekuatan kontrol dari rakyat yang bisa mengerem naluri kekuasaan tersebut dan mendesakkan lahirnya kebijakan-kebijakan yang pro-rakyat.

Jadi, memang kita sebaiknya tidak menjadi penonton. Namun juga bukan menjadi pemain yang bermain dalam permainan yang tidak dipahami.

Selanjutnya? Terserah andalah… Andalah yang berhak memutuskan sendiri apa pilihan terbaiknya.

Yogyakarta, 20.01.11

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: