Tinggalkan komentar

Pendidikan Tidak Buta Realitas

Oleh  :  Odi Shalahuddin

Seorang kawan bertanya pada kami: “Lalu apa yang akan diajarkan kepada anak-anak? Hal-hal yang baik saja? Menyembunyikan mereka pada hal yang tidak baik? Maka anak-anak itu sesungguhnya tidak akan belajar,”

“Tapi bagaimana mengajarkan anak pada hal-hal yang buruk? Tentu akan berpengaruh pada kesadarannya dan menyelusup ke dalam dirinya menjadi bagian tidak terpisahkan. Bukankah itu hakekat pendidikan?. “

“Benar, saya tidak menyarankan mengajarkan anak pada hal-hal buruk. Tapi jangan menyembunyikan dari situasi buruk,”

”Apa bedanya?”

”Tentu berbeda. Pikir saja sendiri,”

”Menghadapkan anak pada hal buruk, bukankah itu sama dengan mengajarkan,”

”Tidak. Tergantung kita,”

”Maksudnya?”

”Realitas yang dihadapi oleh diri kita secara gampangannya berada pada dua sisi. Ada hal-hal yang dianggap baik, ada hal-hal yang dianggap buruk. Sekali lagi, itu realitas kita. Juga dihadapi oleh anak-anak. Misalnya saja perselisihan antar anak yang menyebabkan perkelahian. Itu realitas yang akan sering dihadapi bahkan pernah dialami oleh anak-anak. Bagaimana situasi itu menjadi bahan pelajaran. Anak kita ajak berdiskusi, mengapa ada perselisihan, mengapa ada perkelahian, apa dampak bagi keduanya, siapa yang akan diuntungkan? Ini sudah menjadi pelajaran yang tak ternilai bagi mereka,”.

”Oh, begitu,”.

”Bukankah memang begitu? Coba saja berkaca pada dirimu sendiri yang sering memaki-maki para pejabat negara yang kamu anggap tidak becus. Ini karena kamu punya nilai-nilai mana yang seharusnya wajib dilakukan dan mana yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Apabila ada kesenjangan, maka itu dianggap sebagai masalah. Tapi, orang yang tidak memiliki pandangan demikian, malah bisa santai-santai saja tidak perduli. Malah bisa merasa terganggu oleh hiruk pikuk kritik atau aksi-aksi protes memperjuangkan  sesuatu untuk dilakukan oleh negara,”

”Tapi saya juga bisa memaki-maki aksi-aksi protes yang seenaknya saja tidak memperhatikan kepentingan bersama, atau bahkan menjadi teror bagi kita yang tengah berada di jalanan,”

”Ya, ya, ya, itu juga realitas yang kita hadapi,”

”Jadi?”

”Ya, tetap itu sebagai bahan pelajaran berguna bagi pendidikan. Intinya adalah bagaimana memaknakan realitas menjadi satu pemahaman yang meningkatkan kesadaran kritis kita,”

”Ok, deh kalau begitu,”

”Pamit dulu, ya…”

”Lho mau kemana?”

”Ikutan demo menuntut penurunan harga-harga,”

”Asal tidak anarkis merusak fasilitas umum loh, ya..”

”Beres…..”

Yk 04.04.11

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: