Tinggalkan komentar

Ocehan-ocehan tentang Kekuasaan

Gambar Yayak Iskra

Saya pernah menulis dalam sebuah ocehan yang saya beri judul “Kita memang beda dan harus dibedakan”. Ocehan ini untuk mempertegas posisi sebagai warganegara dan posisi para penyelenggara Negara.

Sebagai warganegara, kita telah memberikan mandat sesuai konstitusi kepada orang-orang terpilih untuk mengelola negara ini guna mencapai tujuan dari adanya Negara yang bernama Indonesia. Guna memperlancar tugas dan kewajiban, kita berikan mereka posisi yang memiliki kewenangan dan kekuasaan, yang saling melengkapi, yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Ajaran dan pelajaran yang kita terima waktu sekolah, dari SD-SMA, atau hingga perguruan tinggi, pada kenyataannya banyak yang tidak sesuai dengan praktik. Para pemegang mandat, lantaran memiliki kewenangan dan kekuasaan, seringkali terjebak untuk mendahulukan kepentingan diri dan kelompoknya. Berbagai kelompok kepentingan yang berada dalam lingkaran kekuasaan saling bermain untuk merebut atau menjaga serta memperkuat agar kekuasaannya dapat langgeng. Pertempuran yang terus terjadi menyebabkan pelaksanaan mandat menjadi basa-basi. Dalam hal ini, warganegaralah yang pasti menjadi korbannya.

Kekayaan Negara yang lebih banyak terdistribusikan diantara para pemain, menyebabkan warganegara hanya bisa gigit jari. Program pembangunan untuk kepentingan kesejahteraan rakyat, banyak pula yang dikebiri. Sehingga:  “Indonesia kaya raya, mengapa aku menderita,” demikian kata lirik sebuah lagu. Lebih kasar lagi, lirik lagu lama dari Rhoma Irama yang masih relevan dengan situasi saat ini, “yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin,”

Sekarang, dalam perkembangan jaman dimana akses informasi lebih terbuka dan cepat tersebar, semakin nyata pula uang Negara lebih banyak yang dikorupsi. Ini tentu sangat menyakiti perasaan seluruh warganegara. Lebih sakit lagi ketika menyaksikan para koruptor masih dengan penuh kebanggaan hadir dalam ruang publik.

Suara rakyat adalah suara Tuhan. Persoalannya pada masa sekarang ini, apalagi para pemegang kuasa sudah tidak banyak yang takut dengan Tuhan. Bahkan mungkin tidak percaya atas keberadaannya, apalagi suaranya. Karena itulah, memang harus dipertegas: Kita memang beda dan harus dibedakan.

Menambah ocehan pagi hari, berikut adalah ocehan-ocehan yang pernah saya posting juga di Kompasiana:

Mengeja Indonesia

Kembali mengeja
I n d o n e s i a
Bibir tergetar, kelu rasanya
Bagai anak-anak belajar membaca
Tertatih tapaki setiap anak tangga
Berlompatan huruf-huruf, lepas tak terkendali
Semakin tak terbaca
Bagaimana bisa mengeja?

Yogyakarta, 5 Januari 2009

Membaca wajah Indonesia

aku tak tahu lagi apa harus dikata
membaca wajahmu, Indonesia
tak henti bersolek, namun tak pernah lenyapkan berbagai luka
bahkan kurasa semakin terbuka saja
hingga terseret nanah dan darah sepanjang catatan sejarah
pakaian kebesaranmu, nan agung, luluh tinggal cerita
menjadi dongengan, anak-anak-pun enggan mendengarnya
lantaran telah dinina-bobokan berbagai tontonan dan permainan maya

membaca wajahmu, Indonesia
yang terus saja bersolek hingga hilang rupa
dalam cermin wajah-mu retak, porak-porandakan peta-peta
terlalu tebal bedak dan gincu, membuat kita semakin bertanya
ada apa denganmu, Indonesia?
bagai kehilangan keyakinan, tentang siapa-siapa yang percaya
terasa limbung, bingung, membuatmu jadi bahan tawa

ayo, bangkitlah Indonesia,
jangan persoalkan kentut, selagi jutaan bom waktu telah menyala
jangan persoalkan citra, selagi diambang marabahaya
jangan persoalkan cinta, cukuplah engkau percaya
bersihkan kotoran-kotoran yang melumurimu, segera berbasuh muka
hingga segar pikirmu, dan mata menatap hal yang nyata
tentang apa-apa yang tengah merajalela

Ayo, bangkitlah Indonesia
sambutlah para generasi muda dengan jiwa-jiwa merdeka

Yogyakarta, 30 September 2010

BILA PENGUASA BICARA 

bila penguasa bicara
sesungguhnya ada aliran darah ratusan juta jiwa
yang turut dipertaruhkan di dalamnya
maka,
menjadi penguasa tidaklah boleh asal bicara
karena bisa menumbuhkan luka dan hilangkan nyawa
jangan berpura-pura bodoh keselip lidah
sebab pernyataan adalah bukti kesadaran
yang akan tercatat menjadi perjalanan sejarah bangsa
lupa itu memang manusiawi
tapi tidak boleh untukmu, hai penguasa
lantaran itulah kamu dipilih dan terpilih
sebab dikau memang orang-orang pilihan
bila penguasa bicara
maka itu bisa laksana bunga-bunga mekar di taman negeri
atau laksana racun penebar kematian
sekali lagi,
para penguasa memang harus hati-hati bicara

Yogyakarta, 17 November 2010

DUSTA PARA POLITISI

banyak orang pintar di sini
makan bangku sekolah tak cukup sebiji
tak puas jadi akademisi beralih profesi
terdamparnya menjadi politisi
hobi menebar janji-janji
suka berbasa-basi
dengan kata yang sudah basi
akhirnya jadi komedi
jadi tragedi
menjadi-jadi
kasihan ini negeri

orang tertawa-tawa sambil merasa sakit di hati
ingin sekali tinju wajah yang terus menari
sayang hadirnya di monitor yang belum lunas terbeli

apakah bicara tak berpikir akibatnya?
salah kata maka bisa tercipta bencana
adakah hal itu memang disengaja?
memancing gema, nonton pada kaca

kekacauan, justru datang dari penguasa
hingga rakyat frustasi kehilangan asa
siapa lagi mau percaya?

Ayo, bangkitlah bersama
Belajar dan bekerja
bergerak penuhi kota-kota

Yogyakarta 14 Desember 2010

PERCAYA?

aku tak pernah percaya
pada kekuasaan tanpa cinta
mampu membangun bangsa

aku tak pernah percaya
kekuasaan memiliki cinta
selain cinta kuasa

kekuasaan seperti onani
tidak mau memberi
hanya puas diri sendiri
karenanya butuh oposisi

maka berbahayalah
pabila aku percaya!

Yogyakarta, 25 Januari 2010

BERTEMPURLAH KALIAN

bertempurlah kalian, kami hanya akan menonton saja
bila pertempuran kalian adalah perebutan kekuasaan

tolong jangan libatkan kami, sebab kami telah letih
menanti janji-janji yang selalu teringkari
dan kalian tidak pernah henti, merayu suara untuk dibeli

bertempurlah kalian, bertempur sampai habis uang kalian
jangan libatkan kami untuk bertempur dengan sesama saudara
sehingga darah tumpah tersia, tidak untuk apa-apa

teruslah bicara, dengan kata-kata, kita akan saksikan di layar kaca
soal keselip lidah, soal pernyataan disalahpahami, kami tidak peduli
bertempurlah kalian, tapi jangan libatkan kami

kami sendiri akan terus berjuang menagih janji

Yogyakarta, 2 Desember 2010

KITA MEMANG BEDA DAN HARUS DIBEDAKAN

kami majikan, kamu pelayan, jelas memang kita berbeda dan harus dibedakan
bila tidak, maka berbahayalah kelangsungan hidup di sini
walau sering kali masing-masing kita terlupa dan menjadi berganti peran
tapi kami tetap majikan, dan kamu cuma pelayan

kami adalah majikan yang baik, menyerahkan sepenuhnya semua urusan pada pelayan mulai dari pengelolaan kekayaan yang maha besar ini, mempercayakanmu mencari pelayan-pelayan lain untuk membantumu, hingga bagaimana kau mengatur kelangsungan hidup kami agar dapat tertata dan menjadikan rumah ini sebagai rumah sehat dengan penghuninya yang sejahtera dan bahagia

Benar, kau pelayan dan kami adalah majikan. Walau kita sering lupa posisi masing-masing. Perbedaan ini memang harus dibedakan secara jelas dan tegas! Karena itulah, kami memilih wakil-wakil kami untuk menjagamu, membantumu, mengawasi dan mengontrol seluruh kerja-kerjamu. Tapi tenanglah, kau tetap pelayan. Jadilah pelayan yang baik. Walau kami kadang jengkel, wakil-wakil kami juga sering pikun bahwa mereka adalah wakil kami, dan mendekatmu bukan untuk meluruskan yang salah, tapi agar dapat cipratan dari kekayaan yang kamu kelola.

KAMU PELAYAN DAN KAMI MAJIKAN
KAMU WAKIL-WAKIL KAMI YANG KAMI PILIH
KITA MEMANG BEDA DAN HARUS DIBEDAKAN !!!

Walau kita sering lupa posisi masing-masing, dan benar-benar sering terlupa!

Jadilah pelayan yang baik,jadilah wakil yang baik,  biar kami tetap percaya sepenuhnya pada dirimu dan tidak merasa bersalah karena telah memilihmu

Untuk itulah kami beri label yang dahsyat untukmu: PRESIDEN
Untuk itulah kami beri amanah bagi para wakil-wakil kami: PEMBAWA SUARA RAKYAT
Dan kami seluruh rakyat adalah majikanmu: SUARA KAMI ADALAH SUARA TUHAN
Jelas memang kita berbeda, dan perbedaan ini, memang harus dibedakan

Yogyakarta, 4 September 2010

 

Ya, begitulah ocehan-ocehan saya tentang kekuasaan. bagaimana dengan ocehan-ocehanmu sendiri? He.h.eh.e.h.e.he.

Yogyakarta, 22 Januari 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: