Tinggalkan komentar

Jam Karet

Oleh:  Odi Shalahuddin

Jam karet sudah menjadi budaya kita,” komentar ini tentunya sering kita dengar. Seringkali diucapkan dengan intonasi kejengkelan yang luar biasa. Ini biasanya terjadi dalam berbagai pertemuan. Tidak saja pertemuan terbatas antar kawan dan pertemuan tingkat RT, tetapi juga pertemuan-pertemuan penting dalam suatu seminar, rapat di kantor atau pertemuan tingkat nasional. 

Lantaran terlalu biasa, akhirnya orang dipaksa untuk memberikan pemakluman. Lama-lama dianggap sebagai kewajaran. Orang yang datang tepat waktu menahan kejengkelan, orang yang terlambat hanya cengengesan saja.

Langkah untuk mengatasi bila dipikir juga tidak masuk akal. Penyelenggara atau pihak pengundang mensiasatinya dengan memajukan jam acara setengah atau satu jam ke depan. Pada tiba waktunya acara belum dimulai, ketika ditanya ke panitia, jawaban mereka, ”Acara memang direncanakan jam sekian. Jadi memang kita majukan,”

Hal yang biasa terjadi dan kerapkali juga kita alami, di tengah pertemuan, ketika berdatangan orang-orang yang terlambat, pemimpin pertemuan masih memberi ruang untuk menjelaskan pembicaraan yang terjadi sebelumnya. Bukankah hal itu membuang waktu lagi?

Orang-orang yang berusaha keras untuk datang sebelum atau tepat waktu, justru menjadi korban. Menunggu, kita sudah tahu merupakan kegiatan paling menjemukan. Waktu menjadi terbuang sia-sia. Penghormatan justru diberikan kepada orang-orang yang terlambat.

Saya menjadi teringat dengan sikap seorang kawan. Ia dikenal sebagai orang yang selalu hadir sebelum acara di mulai. Ketika ia menjadi peserta pertemuan, dan waktu sudah menunjukkan jadwal acara akan dimulai, ia biasanya akan memberi toleransi kepada dirinya sendiri sekitar 15 menit. Bila 15 menit terlalui tanpa ada tanda-tanda acara akan dimulai, maka iapun mohon pamit kepada penyelenggara untuk meninggalkan tempat. Dan tetap bersikeras, walau penyelenggara sudah berusaha menahan agar ia tidak pergi.

Pada sisi lain, ketika ia berperan sebagai moderator atau fasilitator, ia akan segera memulai tepat pada waktu yang direncanakan. Seandainya peserta yang hadir baru segelintir orang dan sebagian besar belum hadir, maka ia akan mananyakan kepada peserta yang sudah hadir, apakah akan menunggu atau langsung memulainya. Bila menunggu ia akan meminta toleransi berapa lama waktu untuk menunggu. Selanjutnya, berapapun yang hadir, ia akan selalu memulainya.  ”Yang pasti, saya selalu menunjukkan sikap dan tindakan saya untuk tepat waktu,”

Beberapa tahun silam, ketika saya aktif dalam suatu forum. Hal ini menjadi persoalan yang biasa dihadapi. Suatu ketika, kami memutuskan untuk belajar tepat waktu. Jadi, ketika menyelenggarakan berbagai pertemuan, kami berusaha untuk memulai tepat waktu, tidak memperdulikan berapapun orang yang hadir. Bagi orang-orang yang terlambat, biasanya pemimpin rapat langsung menyatakan, “Mohon maaf, bagi yang terlambat nanti bisa meminta informasi dari kawan-kawannya yang hadir terlebih dahulu.”

Pertemuan dilanjutkan tanpa membuang waktu untuk memberikan penjelasan ulang. Bukankah para peserta yang tepat waktu yang harus dihormati?

Sistem yang dilakukan memang mengejutkan bagi beberapa orang. Sayang, hal ini tidak bisa bertahan lama, lantaran yang tepat waktu memang benar-benar hanya segelintir orang saja.

Bagaimana mengatasi orang-orang yang selalu menggunakan jam karet? Mungkin anda bisa berbagi pengalaman…..

Semarang, 01.02.11

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: