Tinggalkan komentar

Pengalaman Sanggar Akar: Anak Jalanan Juga Bisa Masuk Istana

Anak jalanan memasuki gedung-gedung kesenian dan tampil memukau dalam pementasan-pementasan yang layak untuk mendapatkan apresiasi?  Anak jalanan tampil dalam berbagai acara di televisi bersama para selebritis bukan sebagai sosok yang menghiba atau menjadi obyek yang disoroti melainkan sebagai sosok kreatif yang lincah memainkan barang-barang bekas menjadi alat musik dengan irama yang enak untuk dinikmati?  Anak jalanan masuk ke istana, bermain musik, didengarkan oleh presiden bersama para tamu-tamunya?

Di lain kesempatan, anak-anak jalanan itu pula, berbaur menyuarakan kepentingan-kepentingannya dan kepentingan kaum marginal lainnya, bersama para aktivis gerakan sosial dan pro demokrasi, menggemakan suara merontokkan dinding-dinding kekuasaan.

Apakah hal-hal di atas merupakan hal yang mengada-ada?
Atau hanya bualan atau mimpi belaka?

Tidak.
Itu bisa nyata.
Memang nyata.
Telah dibuktikan.

Adalah Sanggar Akar, mampu melakukannya. Kesempatan pentas di Istana, misalnya, dialami pada masa pemerintahan Gus Dur. Sekarang? Tampaknya sulit untuk membangun mimpi, mengingat pada Hari Anak nasional saja, dua tahun berturut-turut, Presiden enggan mendengarkan pembacaan Suara Anak Indonesia yang dihasilkan dari Kongres Anak Nasional.

Keseluruhan peristiwa yang disebutkan di atas, bisa dikatakan sebagai penggalan-penggalan peristiwa bersejarah yang pernah ditorehkan oleh anak-anak jalanan yang tergabung dalam Sanggar Akar. Ada beragam kegiatan kreatif yang berlangsung yang berjalan beriringan dengan berbagai kisah duka yang senantiasa mengemuka dari kehidupan anak jalanan, yang kerapkali membuat kita bergidik mendengarnya dan membuat nurani terusik.

Berdiri pada bulan November tahun 1994, yang diinisiasi oleh sebuah Organisasi Non Pemerintah yang bekerja bagi anak Pinggiran dengan membuka open house bagi anak jalanan sejak tahun 1989, Sanggar Akar kini memasuki tahun ke 17. Tentu ini merupakan prestasi tersendiri untuk menjaga kelangsungan suatu organisasi, dengan berbagai dinamikanya yang kerapkali tidak berlangsung normal. Tapi sejarah telah mampu membuktikan daya tahan mereka.

Pada pertengahan tahun 2009, Sanggar Akar mendirikan Sekolah otonom Sanggar Anak Akar sebagai alternatif pendidikan dengan model sekolah berasrama (boarding school) untuk anak-anak kaum urban berumur 13-17 tahun. Mereka menempati sebuah gedung yang didirikan di atas tanah seluar 950 m2, yang berhasil dimiliki, setelah ada penggalangan dana yang dihimpun oleh para sahabat Sanggar Akar, para donatur dan volunteer pada tahun 2003.

Gedung yang berada di kawasan pinggiran Kali Malang, kini tengah terancam akan menjadi sasaran penggusuran bagi pembangunan jalan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu. Terkait dengan hal tersebut, pada peringatan 17 tahun, mereka juga akan menyelenggarakan upaya penggalangan dana untuk relokasi kampus sekolah otonom. Mereka telah menggelar acara bertajuk @Karnaval – 17 tahun Sanggar Anak Akar, dengan tema menumbuhkan budaya, berbagi, kreatif untuk kemandirian, yang akan diselenggarakan sebagai ungkapan terima kasih kepada publik sekaligus juga merayakan Hari Anak se-Dunia. Kegiatan dilangsungkan pada tanggal  19-22 November 2011, berpusat di Plaza Teater Jakarta dan Graha Bhakti Budaya, TIM Jakarta.

Selamat Ulang Tahun Sanggar Anak Akar. Senantiasa membuka ruang bagi anak-anak pinggiran untuk mengembangkan diri, berekspresi, menyuarakan kepentingan-kepentingannya, dalam segenap karya dan kerja yang bermakna bagi kehidupan yang lebih baik untuk anak-anak Indonesia.

Yogyakarta 1 November 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: