Tinggalkan komentar

Penanganan Anak Jalanan di Jakarta: Anak Harus Tinggal di Daerah Kelahirannya?

Heru dan Kancil, dua anak jalanan yang terlibat dalam film “Daun di Atas Bantal”

Berita yang ada di Kompas.com: Jumlah anak jalanan meningkat signifikan (lihat di SINI). Hal mana judul tampaknya dipetik dari apa yang dikemukakan oleh Fadjar Panjaitan, Sekretaris Daerah DKI Jakarta, seusai berdialog dengan DPR RI Komisi VIII dalam kunjungan kerjanya, di Balaikota, Jakarta, Rabu (24/8/2011).

Ada peningkatan yang pesat memang bila mencermati data dari Dinas Sosial DKI Jakarta.  Pada tahun 2009,  jumlah anak jalanan yang tercatat sebanyak 3.724 orang, dan pada tahun 2010 telah meningkat menjadi 5.650 orang, demikian halnya pada tahun 2011 meningkat menjadi 7.315 orang. Ada berbagai jenis pekerjaan yang dilakukan oleh anak jalanan. Pada umumnya mereka bekerja sebagai pengemis, pengamen, pengelap kaca mobil, pedagang asongan, joki 3 in 1, dan parkir liar.

Pernyataan Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Gondo Radityo Gambiro bahwa penanganan anak jalanan ini merupakan program nasional yang harus ditangani secara bersama-sama. Ia menyarankan agar Pemprov DKI Jakarta memiliki ketegasan terkait dengan warganya. Seharusnya warga berdomisili di kota kelahirannya. Ketika pindah kota,  hak-hak warga tersebut tidak ikut pindah begitu saja.

Ia memberikan contoh, jika warga tidak punya KTP Jakarta, hak mereka tetap ada di daerah asal. “Ini saya kira patut dikaji. Jadi, tidak sembarangan orang masuk ke Jakarta sehingga tidak menjadi beban Pemprov DKI. Kalau mau adil, itu harus menjadi beban asal. Karena akan berakibat tidak adil kepada warga Jakarta asli, karena anggaran tersedot untuk orang yang bukan penduduk asli,” katanya.

Membaca berita tersebut, utamanya pada pernyataan dan usulan yang dikemukakan oleh Gondo Radityo Gambiro tersebut, saya ingin tertawa lepas, tertawa terbahak-bahak namun sekaligus juga ingin menangis. Sayang kedua ekspresi tersebut tak bisa muncul,  malah yang menyeruak adalah rasa geram.

Soal pertama, apapun alasannya, Pemda DKI bisa dikatakan telah gagal mencapai target yang telah dicanangkannya, yaitu menghilangkan anak jalanan dari Jakarta pada tahun 2011. Berbagai bentuk kampanye telah disebarkan melalui berbagai media dan program-program-pun telah dilaksanakan. Memang, bukanlah soal mudah untuk menuntaskan persoalan dan juga keberadaan anak jalanan, sejauh persoalan-persoalan yang melahirkan adanya anak jalanan tidak ditangani dan dituntaskan. Berbagai negara, bisa dikatakan telah terbukti gagal untuk mengatasi persoalan anak jalanan.

Seperti kita ketahui pula, Jakarta, sebagai ibukota negara, di mana konon delapan puluh persen uang di Indonesia ini berada dan berputar di sana, maka tidaklah mengherankan apabila Jakarta bagaikan gadis manis yang mempesona, atau bagaikan kota cahaya yang menggairahkan dan mendorong laron-laron untuk menikmati bias cahayanya.

Seandainya saja program pembangunan disebar merata, perputaran uang juga merata di seluruh wilayah, tentulah, banyak orang akan berpikir ulang, mengapa harus jauh-jauh dan bertaruh nasib ke ibukota tercinta itu.

Soal kedua, pernyataan dari Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, secara nyata telah menunjukkan cara berpikir yang sempit, tidak mencerminkan diri sebagai wakil rakyat lembaga terhormat di negara ini, yang selayaknya mengedepankan wawasan nusantara atau kebangsaannya. Ini justru mengedepankan emosi kedaerahannya. Bagaimana bisa seorang wakil rakyat menyatakan ”Seharusnya” warga berdomisili di kota kelahirannya? Ketika saya mengecek tentang namanya dari Mbah Google, benar, ia kelahiran Jakarta tapi mengapa ia terpilih sebagai wakil dari Jawa Timur? Bagaimana kalau orang-orang Jawa Timur berpikir serupa dengan dirinya, buat apa memilih calon-calon anggota DPR yang bukan lahir dan tinggal di Jawa Timur pula? Nah, loh?!

Bila mau diterafkan bahwa orang harus tinggal di kota kelahirannya, saya yakin seyakin-yakinnya, kota Jakarta tidak akan mengalami kompleksitas masalah seperti saat ini. Lebih dari sepuluh juta warga Jakarta, saya pastikan separo-nya pastilah bukan kelahiran Jakarta. Bukan hanya persoalan anak jalanan bisa diatasi, kemacetan dan segenap persoalan yang melingkupinya seperti sarana transportasi yang aman dan nyaman bagi rakyat, tentu bukan lagi akan menjadi soal. Selesai masalah genting! Bukankah begitu?

Hal lain yang perlu disikapi adalah bahwa  cara berpikir semacam ini pula yang telah berkembang di berbagai kepala para pengambil kebijakan di tiap kota/kabupaten. Ketika terkait dengan persoalan-persoalan sosial, seperti anak jalanan, pada penganggarannya mereka hanya mempertimbangkan anak-anak yang memang penduduk dari kota/kebupaten tersebut. Pemenuhan kebutuhan anak-anak yang dianggap berasal dari luar daerah, dianggap bukan persoalan mereka.

Benarlah kekhawatiran yang pernah muncul saat desentralisasi diberlakukan. Desentralisasi akan mematahkan semangat dan tindakan yang mengancam penegakan hak-hak asasi manusia. Berbagai instrumen internasional mengenai HAM, seperti DUHAM, Hak sipil dan Politik, Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, Konvensi Hak Anak, dan sebagainya, secara konsep memberikan kewajiban bagi suatu Negara yang telah meratifikasinya untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan yang ada di dalamnya kepada manusia yang berada dalam wilayah yuridiksinya, tanpa memandang perbedaan manusia/anak tersebut adalah warganegaranya atau bukan.

Sekarang dengan melihat cara berpikir demikian yang telah berkembang, para pengambil kebijakan bukan saja mengabaikan anak-anak atau manusia yang bukan warganegara Indonesia yang ada dalam wilayah hukum Indonesia, tapi juga mengabaikan manusia/anak-anak yang berasal dari daerah lain yang berada di daerah kekuasaan mereka.

Nah, apakah kita akan tertawa, menangis, geram, atau bersikap biasa-biasa saja melihat persoalan ini?

Yogyakarta, 24 Agustus 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: