1 Komentar

Keperawanan #5

KEPERAWANAN #5
Odi Shalahuddin

Ancaman Eksploitasi Seksual terhadap anak, bukan sesuatu yang bersifat abstrak. Berbagai hasil penelitian, laporan program dari organisasi non pemerintah (Ornop) yang menangani anak-anak korban kejahatan seksual, ataupun kasus-kasus yang berhasil terbongkar,  telah menunjukkan bahwa hal ini merupakan ancaman nyata bagi kehidupan anak-anak, siapapun dia. Bahkan mungkin anak-anak di sekitar kita atau bahkan anak kita sendiri.

Fenomena Seks bebas yang telah merambah kehidupan anak-anak yang melibatkan anak-anak berumur sangat muda, sebagaimana diungkapkan pada bagian sebelumnya, menunjukkan angka-angka yang sudah pada taraf mencemaskan. Anak-anak telah menjadi korban perkosaan, korban penjerumusan ke prostitusi, menjadi obyek bahan-bahan pornografi dan juga menjadi korban perdagangan anak untuk tujuan seksual. Hal ini selayaknya membuka mata kita untuk tidak mendiamkan atau mengabaikan persoalan yang tentunya bisa merusak kehidupan anak-anak dan menjerumuskan mereka pada situasi yang sangat buruk yang harus dijalaninya.

Di sekitar kita, yakinlah masih berkeliaran orang atau sekelompok orang baik yang tidak terorganisir ataupun sangat terorganisir yang terus bekerja dengan membujuk, memperdaya, ataupun melakukan aksi-aksi secara kasar semisal melalui penculikan,  kepada anak-anak untuk dieksploitasi secara seksual.

Banyak para pesakitan, utamanya para lelaki yang sayangnya banyak diantara mereka memiliki uang berlimpah, senantiasa berfantasi, berburu dan melampiaskan hasrat seksualnya kepada bukan pasangan tetapnya, termasuk ke anak-anak.

Sebagai gambaran, pada tahun 2008 akhir, puluhan ribu orang telah membuka iklan pelelangan keperawanan dan 10 ribu diantaranya melakukan penawaran hingga mencapai angka yang sangat fantastis yaitu 3,7 juta dollar AS atau mencapai sekitar 40 milyar, ketika seorang mahasiswi, Natalie Dylan (22) dari Amerika Serikat melelang keperawanannya. Dylan menyatakan uang yang didapat akan digunakan untuk membiayai studi S2-nya.  Ia memutuskan untuk melelang keperawanan setelah kakaknya, Avia (23) membiayai kuliah dengan bekerja selama tiga pekan sebagai pelacur.  ”Kuliahku benar-benar otentik karena itu saya melelang keperawanan, tapi saya tidak menjual diri dan saya tidak mengambil untung apapun dari hal ini,” katanya memberikan penjelasan. Namun ia juga memberikan komentar atas respon dari para lelaki ”Aneh juga kaum pria mau membayar tinggi untuk keperawanan padahal hal itu sekarang tidak lagi terlalu punya nilai,” (lihat Antara News di SINI)

Dylan tidak sendirian. Ada berbagai kasus lainnya yang melakukan hal serupa. Ini tidak hanya terjadi di negara lain, tapi juga di Indonesia. Bung ASA pernah membuat postingan berjudul Para Penjual Keperawanan (di SINI)   yang berisi kasus-kasus orang yang melakukan lelang keperawanan dengan berbagai motifnya.

Hal yang memprihatinkan, kadang motifnya terkait dengan gaya hidup. Seperti dilakukan oleh seorang gadis berumur 18 tahun dari Cina yang menawarkan keperawanannya melalui akun twitternya untuk mendapatkan HP Iphone 4 dan seorang gadis berumur 17 tahun di Cina juga, yang rela melakukan apapun untuk mendapatkan tablet Ipad 2 (lihat di SINI)

Menarik untuk dipetik pelajarannya adalah yang terjadi di Hongkong. Pihak  kepolisian menggagalkan transaksi seorang pelajar yang melelang keperawanannya melalui internet dan mendapatkan penawaran tertinggi mencapai US$ 7800 (73,5 juta). Kepolisian berdasarkan pada hukum yang berlaku di Hongkong bahwa berhubungan seks dengan seseorang di bawah umur merupakan kejahatan (lihat detikinet.com 16 Desember 2009: di SINI)

Konvensi Hak Anak (KHA), yang merupakan instrumen internasional yang berhubungan dengan Hak Asasi Manusia untuk anak telah memberikan jaminan perlindungan terhadap anak dari eksploitasi seksual. Hal ini sebagaimana terkandung dalam pasal 34 dan 35 KHA. Indonesia yang telah meratifikasi KHA dan oleh karenanya terikat untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan yang terkandung di dalamnya, juga telah mengesahkan Undang-undang Nomor 23 tahun 2002. Pada pasal 88 dinyatakan bahwa setiap orang yang mengeksploitasi ekonomi atau seksual anak dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan atau denda paling banyak Rp, 200.000.000 (dua ratus juta rupiah).

Eksploitasi dalam konteks ini terkait dengan relasi antara orang dewasa dengan anak-anak. Anak, karena kapasitasnya dianggap belum mampu untuk membuat keputusan bersedia diajak atau mengajak berhubungan seksual, maka anak diposisikan sebagai korban. Siapapun orang dewasa yang berhubungan seksual dengan anak ditempatkan sebagai pelaku kejahatan.

Mengutip sebuah pernyataan Mohammad Farid, seorang aktivis Hak Anak, pada satu perbincangan beberapa tahun lalu: ”untuk merusak anak-anak itu gampang, memerlukan waktu yang singkat, biaya yang tidak besar, namun untuk memulihkan anak-anak akan dibutuhkan waktu yang panjang dan biaya yang sangat besar berkali lipat dari biaya yang dikeluarkan untuk merusaknya”.

Nah, melakukan berbagai upaya pencegahan tentu lebih baik daripada membiarkan atau mengabaikan potensi ancaman terhadap anak-anak. Jangan sampai kita terkejut dan tergagap ketika kasus itu telah terjadi. Tentulah kita memiliki andil.

Pada saat kasus telah terjadi, maka kita sendiri bisa berperan untuk turut mendukung proses pemulihan psiko-sosial anak dan re-integrasi sosialnya. Hal paling minimal bisa dilakukan adalah tidak memberikan stigmatisasi pada anak-anak.

Tentu saja, harapan kita, Negara dapat memainkan posisinya dengan baik yaitu melaksanakan kewajibannya untuk memberikan perlindungan terhadap anak-anak  dan dapat dengan cepat merespon apabila terjadi kasus dengan memberikan penanganan yang optimal untuk menjerat para pelaku kejahatan seksual terhadap anak-anak diiringi memberikan dukungan pemulihan bagi anak sebagai korban.

Harapan kita semua, pastilah anak-anak dapat terhindar sebagai korban kejahatan seksual. Bukankah demikian? (Selesai)

Yogyakarta, 16 Juli 2011

Tulisan terkait:

__________________________

Komentar-komentar di Kompasiana

One comment on “Keperawanan #5

  1. Allah menciptakan selaput dara bukan hanya skadar selaput maknanya, tetapi untuk. Menjaga sbuah keseimbangan moral dan manusia baik buat yang memiliki perawan, anak perawan bahkan lingkungan perawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: