Tinggalkan komentar

Keperawanan #4

KEPERAWANAN #4 
Odi Shalahuddin

Anda masih ingat tentang film “Anak Ingusan” ? Bagi anda yang berumur 25 tahun ke atas tentunya ingatannya masih segar atas film tersebut yang tersebar melalui VCD. Inilah film porno pertama dengan sepasang aktor dari Indonesia yang diduga dibuat di kawasan wisata Tretes Jawa Timur. Film yang sengaja diproduksi untuk kepentingan bisnis dan beredar luas pada tahun 2000. Menyusul kemudian film yang juga membuat geger Indonesia  yang diberi judul ”Bandung Lautan Asmara” beredar luas pada tahun 2001 dengan pelaku mahasiswa-mahasiswi Bandung yang merekam adegan mesum mereka. Rekaman pribadi yang disebarkan oleh pihak lain ketika mereka mentransfer film tersebut dari kaset handycamp ke dalam bentuk VCD.

Periode berikutnya, dengan perkembangan teknologi yang semakin murah seperti HP yang memiliki fasilitas untuk merekam gambar, bahan-bahan pornografi berupa foto ataupun film dengan berbagai motifnya diproduksi. Beragam motif pula, ketika bahan-bahan itu tersebar luas melalui HP ataupun terposting di internet yang mudah untuk diakses dan didownload serta disebarkan kembali. Keisengan, apabila ingin dikatakan demikian, mewabah ke berbagai kalangan tanpa mengenal batas status sosial. Foto-foto ataupun film-film mesra seorang laki-laki dengan bukan pasangan resminya yang dialami oleh seorang anggota DPR, Bupati dengan wakil bupatinya, pejabat tinggi lainnya, para selebritis papan atas hingga pemeran figuran, PNS, guru dengan murid, antar pelajar, dan sebagainya. Ada masa-masa, ini merebak dan terus hadir di berbagai situs internet dengan pelaku yang berasal dari berbagai wilayah di indonesia.

Kita tentu bisa membayangkan, ketika informasi mengenai hubungan seks bebas di kalangan anak/pelajar telah membuat dada kita sesak, maka semakin terpukul-lah kita oleh kehadiran tindakan tersebut dalam bentuk visual. Warung Internet yang menjamur di berbagai wilayah hingga ke pelosok, memudahkan akses mendapatkan gambar-gambar pornografi. Bahkan banyak terbongkar warnet yang memang menyediakan gambat ataupun film porno di server mereka. Para pengakses warnet, sebagian besar adalah pelajar yang notabene adalah anak-anak.

Pengaruh buruk dari tontonan bahan-bahan pornografi, yang sering terungkap di media adalah merangsang anak untuk mengikuti apa yang dilihatnya, dengan pasangan (pacar) atau dengan paksaan terhadap anak perempuan atau dengan kata lain sebagai tindakan pemerkosaan. Untuk ini, kasus yang membuat kita terpana tidak percaya adalah adanya lima anak lelaki yang masih duduk di bangku kelas empat SD, melakukan perkosaan dengan menggilir seorang anak perempuan berumur 6 tahun. Kasus yang terjadi di Tapanuli Selatan ini dilakukan setelah kelima anak tersebut menonton film porno (lihat beritanya di SINI)

Perubahan memang tidak bisa kita hindari, termasuk perubahan dalam tata pergaulan anak dan remaja masa kini. Tapi menyaksikan fenomena di atas, tentunya semua orang dewasa patutlah untuk berdebar-debar cemas dan berharap bahwa anak atau anggota keluarganya dapat terhindar dari pergaulan dan sikap semacam di atas.

Keprihatinan terhadap masalah itulah, yang kemudian mendorong lahirnya gerakan ”Jangan Bugil di Depan Kamera” yang dirintis oleh Peri Umar Farouk yang kini menjabat sebagai ketua dari gerakan tersebut. Dikatakan olehnya bahwa dalam 10 tahun terakhir sedikitnya dihasilkan 800 video porno dengan catatan itu yang terungkap di media. Sedangkan yang tidak, diduga masih ribuan (lihat detik.com 16/06/2010 atau klik di SINI)

Berbagai gambaran dalam tulisan ini yang membicarakan tentang ”keperawanan” ternyata bisa meluas dampaknya terhadap berbagai persoalan lain. Secara jujur apa yang ditampilkan dalam tulisan ini hanya sebagian kecil dari realitas yang ada. Tapi, saya kira tidak berlebihan bila dikatakan bahwa ancaman ini merupakan ancaman yang nyata yang sewaktu-waktu bisa menjerat anak-anak, termasuk anak-anak di sekitar kita untuk menjadi korbannya.

Di tengah situasi ini, kita masih akan dikejutkan dengan ulah para pemburu perawan yang tidak segan-segan merogoh banyak uang dari koceknya. Di Indonesia sendiri bahkan telah terungkap mengenai adanya lelang keperawanan.

Ah, semakin mengerikan saja ancaman terhadap anak-anak kita. (Bersambung)

Yogyakarta, 16 Juli 2011

Tulisan terkait:

__________________________

Komentar-komentar di Kompasiana:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: