Tinggalkan komentar

Keperawanan #3

KEPERAWANAN #3
Odi Shalahuddin

Seorang kompasianer dari Yogya, Bain Saptaman, yang sering memposting tulisan-tulisan humor di Kompasiana, memberikan komentar menggelitik dalam tulisan saya sebelumnya. (lihat keperawanan (2).  Saya kutipkan dengan sedikit perubahan (aslinya ada kata yang disingkat):

Cerita Tentang Angka 0 (NOL)

 PRA ONE = sebelum satu = 0

sampai akhirnya

ternoda oleh angka satu (1)

sehingga tak PRAONE lagi

Tanda keperawanan selalu dikaitkan dengan keutuhan selaput dara yang dimiliki oleh perempuan. Kepercayaan yang masih hidup di masyarakat, selaput dara ini akan tersobek ketika terjadi hubungan seksual. Hilangnya keperawanan ini juga banyak dipahami dengan adanya bercak darah. Padahal berdasarkan fakta ilmiah, robeknya selaput darah juga bisa disebabkan faktor lain seperti kegiatan dalam beberapa bidang olahraga dan robeknya selaput darah juga tidak selalu disertai dengan keluarnya bercak darah (lebih lanjut tentang ini lihat di SINI)

Pada bagian sebelumnya, saya juga telah memberikan gambaran ringkas tentang berbagai hasil penelitian yang menggambarkan telah berkembangnya seks bebas termasuk di kalangan pelajar SMA dan SMP yang kecenderungannya menyoroti kelompok perempuan.  Bila tidak berhati-hati mensikapinya, hal ini akan melahirkan stigmatisasi kepada anak perempuan saja. Sedangkan pihak lelaki, yang lantaran tidak memiliki tanda atau bukti bahwa dirinya masih jejaka atau tidak, terbuka kemungkinan bisa merusak keperawanan lebih dari satu (anak) perempuan.

Pada pembicaraan santai ataupun serius, ketika membicarakan tentang pergaulan yang mengarah kepada seks bebas, seringkali ada orang yang tiba-tiba melontarkan pernyataan “Sekarang susah mencari pelajar SMA yang masih perawan”. Pernyataan ini  tentu saja bukan berarti semua pelajar SMA sudah tidak perawan lagi. Saya kira ini lebih ingin menunjukkan betapa situasi yang ada sudah sangat mengkhawatirkan.

Terkait dengan pengalaman pertama berhubungan seksual, terlintas berbagai kisah para sahabat saya yang terhempas sebagai anak jalanan dan anak-anak yang dilacurkan dari beberapa kota. Anak-anak perempuan yang mengalami ketidakberuntungan dalam perjalanan hidupnya. Lintasan wajah-wajah mereka terasa hadir dan lekat. Wajah yang masih terlihat lugu namun menyimpan berbagai kisah duka. Suara yang lirih dan getir tatkala menceritakan sepenggal pengalaman hidupnya yang bisa membuat sesak dada.

Sebut saja A & B, dua kakak beradik yang dititipkan oleh ibunya ke temannya yang ternyata adalah seorang germo. Setelah beberapa hari tinggal di rumah itu mereka melihat keanehan karena banyak penghuni perempuan, termasuk juga yang masih sebaya dengan mereka dan setiap hari selalu hadir laki-laki yang datang silih berganti. Hingga suatu hari mereka juga dipaksa  untuk melayani tamu yang datang. (saya jadi menduga bahwa mereka sebenarnya dijual oleh ibunya sendiri). Kisah yang saya ingat diceritakan di sebuah taman di Semarang setelah beberapa waktu keduanya berhasil melarikan diri dari rumah bordil itu. Perbincangan yang terjadi di akhir tahun 1996. Dari keduanya saya banyak mendapatkan gambaran tentang anak-anak sebaya mereka dan juga istilah-istilah yang digunakan.

Pada saat melakukan penelitian tentang anak jalanan perempuan di Semarang pada tahun 1999, berbagai kisah pengalaman seksual pertama mereka juga bisa membuat kita terhenyak seolah tidak percaya dengan apa yang dituturkan. Seorang anak berumur 10 tahun, menceritakan ia menjadi korban perkosaan yang dilakukan oleh lima lelaki ketika ia masih berumur sembilan tahun. Seorang anak berumur 14 tahun menceritakan pengalamannya diperkosa oleh bapak tirinya sehingga ia lari dari rumah. Lalu seorang anak perempuan yang pada saat itu berumur 17 tahun dan sudah berada di jalanan sejak umur lima tahun karena diajak ibunya mengemis, dan pada umur 8 tahun sudah menghabiskan seluruh waktunya hidup di jalanan menyimpan berbagai kisah memilukan tentang hal yang terkait dengan pengalaman seksualnya. Saat tidur di jalanan, ia kerap terjaga dan melihat banyak laki-laki menggerayangi seluruh tubuhnya, menciumi dan meraba-raba alat vitalnya. Ia pernah dikurung selama berhari-hari oleh sekelompok orang jalanan karena menolak untuk melayani nafsu seksual mereka. Ketika berumur 15 tahun, ia diperdaya oleh pacarnya yang memberi minuman keras lalu diperkosa. Setelah itu selama setahun lebih ia melayani nafsu seksual pacarnya yang tidak segan menyiksa sebelum dan saat berhubungan seksual. Ia pernah pula diperkosa oleh seorang petugas keamanan dan dipaksa oral seks ketika berada di dalam tahanan karena kasus pencurian sepeda. (Ringkasan hasil penelitian ini bisa dilihat di SINI)

Sosok anak terakhir itu tidak terlupakan oleh saya, sebab setiap bertemu dengan dirinya ketika lama tak berjumpa, selalu saja ia terlihat dalam posisi hamil. Sekitar sebulan yang lalu walau tak bertemu langsung, saya juga mendapat kabar dirinya telah hamil lagi. Anak-anaknya? Entahlah. Secara jujur, saya membayangkan dirinya ketika menulis sebuah cerpen berjudul: Dia yang selalu hamil   (lihat di SINI)

Pengalaman-pengalaman hampir serupa yang dijumpai ketika bersama kawan-kawan di Yayasan Setara Seamarang melakukan penelitian tentang pelacuran anak di Semarang dan sekitarnya pada tahun 2007 (Lihat liputannya di SINI) , dan juga penelitian serupa di tahun 2009 yang dilangsungkan di lima kabupaten, yaitu Kabupaten Jepara, Kabupaten Tegal, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Banyumas.

Pada tahun 2010, saya juga melakukan perjalanan dalam rangka penelitian mengenai prostitusi anak di Pontianak, Bandar Lampung, Bandung dan Surabaya. Saya menilai anak-anak yang dijerumuskan ke prostitusi semakin tinggi dengan pola yang sama sekali berbeda dibandingkan periode sebelumnya dengan sifat yang lebih tersembunyi.  Walau tidak hanya anak perempuan saja yang berada di prostitusi tapi juga ada anak laki-laki, dalam kaitan dengan tulisan ini saya memfokuskan ke anak perempuan.

Seorang anak perempuan yang masih duduk di kelas dua SMK, mengaku pada awalnya ia membutuhkan uang untuk membayar biaya sekolah. Ia tidak menolak ketika ditawari oleh kawannya semasa SMP untuk melayani laki-laki. Tapi ia mengajukan syarat, hanya setengah badan. Lama-lama ia tidak tahan juga selalu ditawari untuk ”memecahkan perawan” dengan imbalan tiga juta rupiah.

Seorang anak perempuan lain, akibat pergaulan memasuki sebuah gank motor, diperdaya oleh pacarnya sendiri, digagahi dalam posisi tidak sadar lantaran dicekoki minuman keras. Lama-lama ia menyatakan ”daripada gratisan, lebih baik untuk cari uang,”

Memang, terlalu dini bila dikatakan apabila seseorang sudah tidak perawan lain bisa terjerumus ke dunia prostitusi. Tapi setidaknya, ini merupakan salah satu faktor resiko dari berbagai faktor lainnya yang terkait yang menyebabkan anak-anak menjadi sangat rentan untuk dijerumuskan ke prostitusi baik di wilayahnya sendiri atau di wilayah lain yang pada akhirnya bisa dikatakan sebagai korban perdagangan anak untuk tujuan seksual.

Saya yakin, kita semua tentunya memiliki keprihatinan yang mendalam terhadap masalah seks bebas, penjerumusan anak ke prostitusi dan perdagangan anak untuk tujuan seksual (ataupun juga kemungkinan pelibatan anak-anak menjadi obyek bahan pornografi). Kita semua berharap agar anak-anak dapat terhindar dari situasi buruk ini.

Hal lain yang patut diwaspadai dalam kaitan ini, bukan saja anak-anak yang dinilai ”melakukan penyimpangan” sehingga terjebak dalam seks bebas dan menjadi rentan terhadap penjerumusan ke dunia prostitusi, tapi juga anak-anak yang masih perawan. Banyak para pesakitan yang rela mengeluarkan biaya besar dari koceknya  untuk memburu dan mendapatkan perawan. (Bersambung)

Yogyakarta, 15-16 Juli 2011

Tulisan terkait:

__________________________

Komentar-komentar di Kompasiana”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: