Tinggalkan komentar

Keperawanan #2

KEPERAWANAN #2
Odi Shalahuddin

Bila pada tahun 1980-an, perilaku seks bebas yang banyak disorot adalah kalangan mahasiswa-mahasiswi, pada periode berikutnya, terungkap mulai menjalar ke kalangan yang lebih muda, yaitu anak-anak SMA, berikutnya menjalar kembali ke yang lebih muda lagi, yaitu kalangan pelajar SMP. Konon walau belum banyak kasus yang terungkap dan belum ada studi mengenainya, juga sudah merambah ke anak-anak SD.

Kecenderungan seks bebas ini tidak hanya didominasi oleh kota-kota besar saja, melainkan juga di kota-kota kecil. Sebagai gambaran, pada tahun 2007, hasil penelitian Annisa Foundation selama enam bulan menemukan bahwa 42,3 persen pelajar perempuan di Cianjur sudah hilang keperawanannya. (di SINI). Di tahun yang sama, penelitian Dinas Kesehatan kota Sukabumi menemukan bahwa 30 persen pelajar telah melakukan hubungan seks bebas. (Lihat SINI).  Pada tahun 2010, PKBI KALTIM dalam penelitiannya mencatat 25 persen pelajar (putra dan putri) telah melakukan hubungan seks bebas. (Lihat SINI)

Konsultan Badan Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Malang, CV Orbit Nusantara mencatat 29 persen pelajar (di SINI). Sedangkan, di tahun 2010 pula survey dari Komisi Penanggulangan AIDS secara nasional terdata bahwa 66 persen remaja putri usia SMP dan SMA tidak lagi perawan (lihat di SINI).

Pada situasi di atas, posisi yang disorot adalah perempuan. Berbagai perbincangan santai ataupun diskusi serius kerapkali menempatkan anak-anak perempuan ini sebagai fokus pembahasannya. Tampaknya bisa dipahami bahwa akibat seks bebas, pihak yang paling dirugikan adalah perempuan. Tentunya mengingat ketika keperawanan seorang anak perempuan hilang, ini menimbulkan bekas yang bisa diketahui. Lebih jauh, bisa mengakibatkan kehamilan yang tidak dikehendaki.

Pada sisi lain diakui ataupun tidak telah terjadi pergeseran nilai. Masyarakat kita tampaknya saat ini lebih bersifat permisif. Persoalan keperawanan tidak begitu kental lagi dipersoalkan. Hal ini, sebagaimana saya sampaikan pada postingan sebelumnya, juga tercermin dalam karya-karya fiksi. Coba saja diamati tema-tema dari film-film Indonesia, terutama film-film remaja, cerpen, novel, dan sebagainya. Tema-tema mengenai pergaulan bebas sangat mengemuka dan disikapi tanpa ketegangan tertentu yang berlebihan. Sekali lagi, kita bisa katakan; karya fiksi menggambarkan realitas masyarakatnya.

Pada tataran tertentu, kita sering terjebak bersikap tidak adil mensikapi persoalan ini dengan memberikan sorotan ataupun memberi stigmatisasi kepada anak perempuan dengan mengabaikan laki-lakinya. Selayaknya, bentuk keprihatinan kita diwujudkan dengan memberi empati dan mencari alternatif untuk menanganinya dengan mempertimbangkan kepentingan terbaik anak perempuan.

Memberikan stigmatisasi tanpa aksi nyata untuk mengatasi bahkan bisa memperarah situasi. Sebagaimana kita ketahui, pada saat bersamaan berkembang pula persoalan Eksploitasi Seksual Komersial terhadap Anak. (ESKA). Istilah ESKA pertama kali diperkenalkan pada tahun 1996, dengan diselenggarakannya Kongres Dunia Pertama untuk Menentang Eksploitasi Seksual Komersial terhadap Anak yang dilangsungkan di Stockholm, Swedia. Setelah itu, kongres dilangsungkan setiap lima tahun sekali.

Eksploitasi Seksual Komersial terhadap Anak adalah sebuah pelanggaran terhadap hak-hak anak. Pelanggaran tersebut terdiri dari kekerasan seksual oleh orang dewasa dan pemberian imbalan dalam bentuk uang tunai atau barang terhadap anak, atau orang ketiga, atau orang-orang lainnya. Anak tersebut diperlakukan sebagai sebuah obyek seksual dan sebagai obyek komersial. Eksploitasi seksual komersial anak merupakan sebuah bentuk pemaksaan dan kekerasan terhadap anak, dan mengarah pada bentuk-bentuk kerja paksa serta perbudakan modern (ECPAT, 2006). Ada tiga bentuk ESKA, yaitu  prostitusi anak, pornografi anak dan perdagangan anak untuk tujuan seksual. (Bersambung)

Tulisan terkait:

__________________________

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: