Tinggalkan komentar

Keperawanan #1

KEPERAWANAN #1
Odi Shalahuddin

Pada saat melakukan diskusi kelompok terarah dan wawancara dengan anak-anak yang dilacurkan di sebuah kota dalam rangka penelitian untuk mengetahui perkembangan situasi Eksploitasi Seksual Komersial terhadap Anak (ESKA), pada Oktober 2010, Saya sangat terkesan dengan pernyataan dari seorang anak perempuan yang belum genap 17 tahun, untuk mengingatkan pada anak-anak yang lain agar tidak mengalami hal serupa dengan dirinya. Ia mengatakan:

“Untuk anak-anak yang seumuran Saya, jangan sampe kayak saya gitu. Masa depannya masih panjang, jangan dirusak gitu aja. Udah lah, jangan, ibaratnya umurnya segini mah hanya tahu pendidikan, udah, yang lebih-lebihnya enggak usah lah. Ya kayak tahu ngerokok, minum-minuman, seks bebas, jangan lah. Sayang gitu. Sayang banget ngelepasin perawannya, nggak akan bisa balik lagi meskipun nangis darah juga. Karena kan kebanyakan anak SMP yang kelas 1 kelas 2 itu udah nggak pada virgin kan? Sayang banget. Udah pada nggak bener.

Ya, sampai nangis darah, katanya, tidak akan balik lagi keperawanan. Kata-kata itu selalu terngiang-ngiang di kepala saya. Walau sempat membuat tulisan dengan menorehkan kutipan dari pernyataannya yang mengesankan yang saya posting juga di kompasiana, saya terdorong untuk menuliskan kembali. Keinginan yang berulang kali gagal. Tulisan selalu saja tak pernah selesai.

Hingga akhirnya, saat ini, saya menulis tentang tema yang selalu menggelayut di kepala. Tulisan yang juga didorong oleh berbagai peristiwa yang terberitakan beberapa hari terakhir, seperti seorang bapak yang menjual dan menawarkan anak gadisnya yang masih bau kencur ke para hidung belang (lihat beritanya di SINI  dan di SINI), dan tentang terbongkarnya jaringan yang menjual anak-anak sebagai PSK (lihat di SINI). Lantas teringat kembali tentang pemberitaan di berbagai media yang berbau sensasional tentang seorang artis penyanyi yang dikenal dengan goyang gergajinya, ialah Dewi Persik, yang mengaku telah melakukan operasi keperawanan di Mesir pada April lalu. (lihat misalnya di SINI)

Sekarang masih membicarakan keperawanan? Ah kuno, jadul, tidak gaul, tidak mengikuti perkembangan jaman, kolot, tidak modern. Bisa jadi anda akan mengungkapkan tuduhan semacam itu kepada saya. Untuk sementara, saya mengganggukkan kepala saja.

Keperawanan, lekat dengan kaum perempuan. Ini merupakan hal yang suci, dianggap sebagai suatu kehormatan yang harus dijaga kuat, dilepas pada saatnya kelak, dipersembahkan kepada sang suami, dalam ikatan pernikahan yang sah. Setidaknya demikian pandangan pada umumnya dalam masyarakat kita. Pandangan yang digenggam kuat pada masa-masa lampau.

Saya teringat, pada karya fiksi jaman 1970-1980-an, berupa cerpen, novel, fragmen, sandiwara televisi ataupun film-film, banyak yang mengangkat persoalan tersebut. Kita menyaksikan betapa seorang perempuan akan penuh penyesalan, penuh ketakutan akan bayang-bayang masa depan dalam pikirannya, bila terlena dan menyerahkan kesuciannya meski kepada sang kekasih yang dicinta. Kita bisa membaca kisah tentang seorang suami yang marah besar merasa ditipu ketika mengetahui sang istri sudah tidak perawan lagi, dan pertengkaran hingga perceraian-pun terjadi. Kita juga membaca, bagaimana orangtua meletakkan selembar kain putih pada tempat tidur sang pengantin yang akan terperciki darah sang perawan, menantu mereka. Bila tidak terjadi, dapat terbayangkan pula situasi yang akan terjadi. Lantas pada kisah seorang perempuan yang menjadi korban perkosaan, ia akan menempatkan dirinya sebagai sosok yang kotor, selalu menyirami seluruh tubuhnya agar kotoran-kotoran yang dirasanya dapat segera hilang, bisa merasa frustasi, dan mengambil jalan pintas: Bunuh diri.

Karya fiksi tentunya tidak hadir dalam ruang kosong. Ketika seseorang menulis, disadari ataupun tidak, ia akan sangat terpengaruh oleh kesadaran tentang sebuah nilai yang dianutnya, berdasarkan berbagai referensi dari bahan bacaan ataupun nilai-nilai yang tertanam dalam masyarakat. Tidak berlebihan bila kita mendengar pernyataan: Karya sastra menghadirkan realitas masyarakatnya.

Di tengah pandangan umum seperti tergambar di atas, maka saya teringat juga tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh seorang siswa SMA (kalau tidak salah bernama Eko) di Yogyakarta pada tahun 1983, yang segera menggegerkan Indonesia. Penelitiannya mengungkapkan tentang kecenderungan hidup bersama tanpa ikatan perkawinan (samen leven) yang disebut ”kumpul kebo” yang dilakukan oleh mahasiswa di Yogyakarta. Penelitian ini dianggap tidak sahih, dan metodologinya diperdebatkan. Sang peneliti juga mendapatkan teguran dari pihak sekolahnya (saya tidak ingat lagi apakah ia dikeluarkan dan berpindah sekolah), mendapatkan hujatan karena dianggap mencoreng nama baik Yogyakarta sebagai kota pelajar, dan hampir terjerat kasus hukum. Ini tampaknya merupakan penelitian yang pertama mengungkap tentang kecenderungan seks bebas.

Penelitian lain yang menggemparkan Indonesia yang juga terkait dengan Yogya adalah penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Pelatihan Bisnis dan Humaniora (LSCK PUSBIH) di tahun 2002. Dikatakan bahwa hampir 97,05 persen mahasiswi di Yogyakarta sudah hilang keperawanannya saat kuliah. Penelitian yang dilakukan selama tiga tahun pada periode 1999-2001 dengan melibatkan 1,660 responden juga dipersoalkan mengenai kesahihan temuannya. (hasil penelitian pernah dimuat di detik.com, tapi sudah tidak ada lagi di arsip. Beberapa berita detik.com dapat dilihat di SINI)

Berbagai penelitian yang dilangsungkan secara nasional, melibatkan beberapa wilayah atau di kota-kota tertentu terkait dengan perilaku seksual, semakin banyak dilakukan dan mudah untuk ditemukan informasinya. Apalagi pada masa sekarang dimana ada berbagai media online dan situs yang mudah untuk diakses. Hal memprihatinkan adalah semakin melibatkan orang-orang berusia muda, termasuk anak-anak yang terlibat dalam hubungan seks bebas. (Bersambung)

Tulisan terkait:

__________________________

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: