Tinggalkan komentar

Disia dan Dianiaya, Anak Jalanan Terus Berjuang Berdaya, Berkarya, dan Bersuara

Anak-anak seusai pementasan teater di TIM

Perkenalan intensif saya dengan persoalan dan komunitas anak jalanan dimulai pada pertengahan tahun 1996, walau sesungguhnya sejak tahun 1990 banyak mendengar persoalan anak jalanan melalui media dan para sahabat yang telah bekerja bersama mereka. Intensitas tinggi lantaran saya membantu program anak jalanan di Semarang dimana separo waktu saya berada di Semarang, bekerja membantu seorang pekerja sosial yang bekerja secara individual, yang perkembangan kemudian melahirkan organisasi berbadan hukum: Yayasan Setara.

Keterlibatan inilah yang membuat saya mengetahui adanya Konsorsium Anak Jalanan Indonesia yang memiliki anggota di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Malang, Medan, Banda Aceh, Pematang Siantar, dan Mataram. Ruang pertemuan tidak hanya terjadi pada aktivis pendamping, tapi juga sesama anak jalanan. Kegiatan-kegiatan berskala nasional bagi anak jalanan sering dilangsungkan di tengah tindakan sangat represif dari penguasa terhadap anak-anak jalanan di berbagai kota. Pada masa itu, penggunaan istilah anak jalanan sendiripun dianggap masalah dan bisa membawa pendamping diinterogasi aparat atau petugas keamanan. Pemerintah lebih cenderung menggunakan istilah anak nakal.

Pada tahun 1996, satu kegiatan Pameran Eksperimental Anak Jalanan di medan yang digagas KKSP bersama Konsorsium Anak Jalanan Indonesia dan melibatkan ratusan anak dari 11 kota dibubarkan paksa oleh tentara. Informasi yang saya dapatkan, Direktur KKSP sempat diinterogasi di Kodam, dan anak-anak jalanan bersama pendamping dari luar Sumatra, ketika kapal yang digunakan berlabuh, sudah langsung berhadapan dengan tentara. Di lokasi acara akhirnya dikawal untuk dipulangkan.

Pada tahun 1996 pula seingat saya, YLPS Humana bersama GIRLI, menyelenggarakan serangkaian acara anak jalanan dengan tema: Dongeng Tersembunyi. Pada saat itu saya diminta membuat suatu tulisan tentang situasi anak jalanan. Ketika menghimpun bahan bacaan, ada satu tulisan yang menggetarkan saya mengenai situasi anak jalanan Jakarta dengan menampilkan kasus-kasus kekerasan yang dialami. Salah satunya  kasus yang terjadi pada tahun 1993 yang dialami satu anak pengasong yang tertangkap di Stasiun Jatinegara dipaksa berbaring dan tubuhnya disetrika. Ia juga dipaksa membersihkan lantai stasiun dengan lidahnya (Tigor dalam Mulandar, 1996). Betapa tidak manusiawinya perlakuan terhadap anak jalanan seakan mereka adalah monster yang bisa diperlakukan sewenang-wenang. Melalui tulisan tersebut, Saya kira, itulah perkenalan pertama saya dengan Sanggar Anak Akar yang telah berdiri pada November 1994.

Sanggar Anak Akar yang didampingi oleh satu Organisasi Non Pemerintah yang berperan sangat aktif dalam gerakan advokasi bersama Konsorsium Anak Jalanan Indonesia, sering saya dengar kiprahnya, baik bersumber dari aktivis Ornop-ornop lain ataupun anak-anak jalanan Semarang dan Yogyakarta yang sering berinteraksi dengan anak jalanan Jakarta.

Satu terobosan yang mengejutkan adalah ketika diselenggarakan pemberian Penghargaan Terhadap Anak Pinggiran yang bila tidak salah dimulai pada tahun 1997. Ini menjadi semacam  bentuk ”perlawanan” terhadap bentuk pemberian penghargaan-penghargaan yang tengah marak dan cenderung mengabaikan kaum pinggiran. Sayang kegiatan ini hanya bertahan beberapa tahun saja.

Sekitar pertengahan tahun 2000-an, bersama beberapa kawan dari berbagai kota yang tengah mengikuti satu acara di Jakarta, berkesempatan untuk mengunjungi markas Sanggar Anak Akar di pinggiran KaliMalang. Bangunan bertingkat dengan bahan dari bambu terlihat penuh kegiatan, walau sudah malam. Di lantai satu, beberapa anak tengah latihan musik, sedangkan di lantai dua anak-anak tengah belajar menggunakan komputer dan beberapa anak tengah asyik membaca di perpustakaan.

Mengenai kegiatan anak-anak yang berhimpun di Sanggar Anak Akar, saya kira sudah tidak terhitung banyaknya. Intensitas memperjuangkan hak-hak anak bagi kaum pinggiran di Jakarta, dan berbagai kegiatan kreatif yang menghasilkan berbagai karya utamanya dalam kesenian, seperti musik dan teater, tidak saja berbicara pada ruang-ruang publik di jalanan ataupun pada aksi-aksi demonstrasi, melainkan juga telah memasuki gedung-gedung kesenian, dan juga istana. Berulang kali kelompok musik hadir dalam acara di setasiun televisi swasta. Beberapa kali pula anak-anak di Sanggar Anak Akar ini turut berperan dalam film layar lebar.

Sanggar Anak Akar yang menetapkan visi mereka untuk mengembangkan sebuah pola pendidikan sebagai suatu pergerakan budaya yang menghargai keberadaan serta hak-hak anak kelompok marginal untuk tumbuh dalam kelompok masyarakat yang baik, merealisasikan visi tersebut dengan cara memberikan kesempatan anak-anak menjadi bagian dalam masyarakat, juga untuk bergabung dalam proses pendidikan kreatif. Harapannya adalah agar pendekatan yang dilakukan bisa menciptakan kehidupan dan dunia yang lebih baik bagi anak-anak tersebut.

Sebagai kelanjutan dari pengembangan pola pendidikan, pada tahun 2009 dibentuk Sekolah Otonom Sanggar Anak Akar, dengan visi menjadi model praksis pendidikan pembebasan yang menguarkan gerakan budaya yang menghormati martabat anak sebagai manusia yang utuh. Sedangkan misinya adalah untuk:

1. Mengembangkan dan memperkuat sistem pendidikan otonom sebagai praksis pengembangan kesadaran anak sebagai pribadi utuh dan upaya pengembangan kemampuan anak untuk menghadapi tantangan dunianya

2. memperkuat peran Sanggar Anak Akar, sebagai proyek model pendidikan otonom dalam mengembangkan gerakan pendidikan dan budaya yang menghormati hak azasi manusia dan hak-hak anak khususnya menjadi landasan ideal pembangunan otonom ke dalam kehidupan sosial-budaya.

Saya bersama Pakde Sus, sesepuh Sanggar Akar

Sekolah otonom Sanggar Anak Akar (Sekosa) ini berpusat di markas mereka di pinggiran Kali Malang. Tapi ada kekhawatiran bahwa kampus sekolah ini akan terancam penggusuran. ”Ancaman tergusurnya Kampus Sekolah Otonom Sanggar Anak akar sudah di depan mata. Kami harus bersiap diri, menggalang dukungan. Berita yang dilansir oleh beberapa media, tahun 2013 pembangunan jalan Layang Bekasi Cawang Kampung Melayu akan dilanjutkan. Jalan layang itu akan menggusur Kampus Sekosa yang sekarang ada. Saat ini kami sedang menggalang dukungan masyarakat untuk relokasi kampus. Dukungan dana untuk pembelian tanah maupun sarana  belajar.” Demikian dikatakan oleh Susilo Adinegoro, seorang pengurus yang akrab dipanggil Pakdhe Sus oleh anak-anak dan para sahabat-sahabatnya.

Bulan ini Sanggar Anak Akar berulang tahun. Umurnya sudah 17 tahun. Berbagai rangkaian kegiatan telah direncanakan akan berlangsung pada tanggal 19-21 November 2011 yang berpusat di berpusat di Plaza Teater Jakarta dan Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta,diantaranya adalah:

  • Karnaval Topeng dan Kostum Anak (Rute : Tugu Proklamasi-TIM), 19 Nov 2011
  • Pameran Karya Komunitas dan CSR, 19-21 Nov 2011
  • Festival Perkusi, 19-20 Nov 2011
  • Festival Film Anak, 20-21 Nov 2011
  • Konser Teater Musical “Lentera Rumah Kita”, 20-22 Nov 2011
  • Bazaar kuliner, 19-21 Nov 2011
  • Workshop permainan tradisional, 19-21 Nov 2011

“Pada Karnaval-Street Performance 1000 Topeng, ini akan diikuti oleh sekitar 400 anak dari berbagai kota seperti Jember, Surabaya, Malang, Klaten, Yogya, Muntilan, Salatiga dan Jakarta sendiri. Ini sekaligus dalam rangka memperingati Hari Anak Se-Dunia,” jelas Pakdhe Sus.

Anak-anak sebagai masa depan. Anak-anak pinggiran Jakarta, yang sering disia dan dianiaya, telah menunjukkan hasil dari perjuangan mereka agar lebih berdaya, dengan melahirkan berbagai karya, serta mampu untuk menggemakan suara-suara yang mewakili kepentingan mereka sebagai anak-anak pinggiran sebagai bagian dari anak-anak dunia.

Selamat ulang tahun Sanggar Anak Akar !

Salam,

Odi Shalahuddin
Yogyakarta, 12 November 2011

__________________________

Tulisan ini pernah diposting di Kompasiana. klik di SINI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: