1 Komentar

Pekerja Anak dan Pendidikan

Oleh:  Odi Shalahuddin

Sore tadi, istri saya menyatakan bahwa perlu bagi kami mengajak anak-anak untuk menonton film “Serdadu Kumbang”. Istri saya pun bercerita tentang synopsis film itu yang saya lupa menanyakan darimana sumbernya, tapi saya kira dari televisi.

“Filmnya tentang anak yang menjadi joki kuda dan juga tentang penghukuman di sekolah. Pemainnya Dedy Mizwar, Putu Wijaya, Titi Sjuman… Produsernya Nia Zulkarnaen tuch, dan sutradaranya si suaminya itu loh. Film-nya pasti bagus deh. Mendidik buat anak,” istriku setengah berpromosi.

Ya, istriku sering mengajak anak-anak (dan juga diriku) bila dinilainya ada film yang menurutnya mendidik bagi anak-anak. Aku sendiri sebenarnya waktu muda dulu maniak menonton film. Tapi sekarang sungguh sangat jarang.

Saya sungguh tertarik dengan ajakannya. Sayang walaupun baru pulang dari luar kota tadi pagi, besok saya sudah berangkat lagi ke kota lain. Jadi, sungguh menyesal tidak bisa ikut bersama istri dan anak-anak.

Saya lalu mensearch pemberitaan tentang film Serdadu Kumbang. Kebetulan di Kompasiana tulisan  yang membahas tentang film itu tengah menjadi headline. Membaca, lalu mencari sumber lain.

Saya tertarik, lantaran pernah terlibat diskusi mengenai anak-anak yang menjadi joki kuda ketika saya berkeliling ke beberapa desa di Dompu, Nusa Tenggara Barat dan juga terlibat diskusi dengan berbagai tokoh masyarakat di beberapa desa di Nusa tenggara Timur mengenai kekerasan terhadap anak di rumah dan di sekolah.

Sekitar setahun yang lalu saya ke Dompu untuk urusan menilai suatu program dari satu lembaga internasional yang berkaitan dengan partisipasi anak. Di kabupaten ini ada Forum Anak Dompu (FAD) yang merupakan wadah dari berbagai organisasi anak yang berada di desa-desa. Mereka baru saja selesai menyelenggarakan kongres anak, dan salah satu pernyataan yang mereka buat adalah menuntut penghapusan anak-anak yang dijadikan sebagai joki.

Pacuan kuda atau disebut sebagai Pacoa Jara memang rutin dilangsungkan di Dompu sebanyak empat kali dalam setahunnya. Hal serupa juga rutin dilakukan di wilayah Bima, Sumbawa, dan Lombok. Setiap ada pacuan, para joki dari luar daerah pasti akan terlibat. Dengan demikian, maka anak-anak pasti akan disibukkan dengan berbagai pertandingan yang menyebabkan pendidikan mereka terancam putus sekolah. Itu, salah satu pikiran yang disampaikan.

Saya tidak mengetahui sampai sejauh mana pengaruh pernyataan yang disampaikan kepada pemerintah kabupaten. Nyatanya, pacuan kuda yang melibatkan anak-anak sebagai joki justru dijadikan sebagai satu mata acara untuk menarik wisatawan.

Mengenai penghukuman fisik di sekolah, saya tidak banyak mendapat informasi bahwa hal tersebut masih kental berlangsung di Dompu. Tapi pada wilayah lain, di Nusa Tenggara Timur, hal ini masih banyak berlangsung. Beberapa bulan lalu saya berkeliling ke beberapa desa di Kabupaten Timor Tengah Utara dan bertemu tokoh-tokoh masyarakat desa, seperti guru, pemerintah desa, tokoh adat, tokoh pemuda dan sebagainya. Pembicaraan dengan mereka lebih banyak terkait dengan persoalan kekerasan anak di rumah dan di sekolah.

Awalnya saya kesulitan untuk mencari cara memulai pembicaraan tentang kekerasan terhadap anak. Namun akhirnya saya temukan pula cara yang saya nilai efektif untuk membuka informasi dari masyarakat. Saya memberikan pernyataan bahwa kita semua pernah menjadi anak-anak. Pernah membuat kesalahan di masa anak-anak. Nah, bila kita melakukan kesalahan, apa hukuman yang diberikan oleh orangtua atau para guru di sekolah?

Maka mengalirlah berbagi kisah-kisah kekerasan yang pernah dialami di rumah ataupun di sekolah. Bentuk-bentuk penghukuman fisik yang saya kira melewati batas dengan kesalahan yang saya kira bisa ditolerir. Anak bisa dipukuli secara brutal baik dengan tangan ataupun dengan alat, disuruh berlutut di terik matahari di bawah tiang bendera, berlari keliling lapangan sekolah,  dan sebagainya.

Ketika saya tanyakan perasaan mereka, hampir semuanya menyatakan merasa sakit hati dan masih berbekas hingga saat ini. Buktinya mereka masih dengan lancar menceritakan secara mendetail tentang kesalahan dan hukuman yang diterima.  Pertanyaan lanjutan yang saya ajukan, bagaimana sikap mereka atau para guru bila anak melakukan kesalahan? Setelah terdiam sesaat, mereka menceritakan tindakan-tindakan yang diambil yang tidak kalah kejam dengan apa yang telah dialami ketika mereka masih kecil.

”Lha, kalau itu menyakitkan, mengapa masih melakukan terhadap anak-anak kita sekarang?”

”Tapi dulu lebih kejam daripada sekarang,” sahut seseorang yang disetujui peserta lainnya.

Tentang penghukuman oleh guru, ada yang mengejutkan dari pernyataan hampir seluruh peserta, ”Wah, kita para orangtua di sini malah senang kalau anak kita dihukum dengan keras oleh guru-guru mereka. Biar mereka dididik untuk disiplin dan bisa belajar dengan baik agar bisa menjadi sukses nantinya,”.

Jawaban ini mengingatkan kembali pada kisah seorang teman ketika beberapa waktu saya ke Ambon tentang pernyataan seorang bupati di Maluku ”Saya bisa menjadi Bupati karena saya dididik dengan keras,” Dan dengan bercanda kawan saya memberikan komentar, ”Wah, seandainya Bapak tidak mendapat kekerasan, mungkin sudah bisa menjadi gubernur atau menteri,”

Ya, lintasan pengalaman semacam itu kembali hadir malam ini lantaran istri saya menceritakan  tentang sinopsis sebuah film. Film yang saya bayangkan menarik dan berharap berkesempatan menontonnya.

Lantas apa hubungan cerita ini dengan judul yang saya berikan?

Joki kuda untuk mengikuti pacuan di beberapa daerah di NTB memang dilakukan oleh anak-anak yang bahkan masih sangat muda. Ini bisa diklaim sebagai tradisi budaya yang telah lama hidup. Namun dalam perspektif hak-hak anak, kegiatan ini bisa dikategorikan sebagai salah satu bentuk pekerja anak. Kegiatan yang juga memiliki resiko tinggi terhadap keselamatan anak. Mengancam terputusnya pendidikan anak. Menghapus joki anak tentu merupakan perjuangan yang sulit dilakukan namun harus terus diupayakan dengan melakukan promosi terhadap hak-hak anak ke seluruh lapisan masyarakat.

Pada tanggal 12 Juni yang lalu, kita baru saja memperingati Hari Dunia Menentang Pekerja Anak, dan Presiden Indonesia juga menjadi salah satu dari empat pemimpin negara yang menyampaikan  pidatonya dalam konferensi ke 100 ILO yang berlangsung pada tanggal 13 – 15 Juni 2011 di Jenewa. Ini selayaknya menjadi momentum bagi gerakan untuk menghapus segala bentuk pekerjaan terburuk bagi anak.

Langkah ini sejalan pula dengan rekomendasi dari Komite Hak Anak PBB terhadap Indonesia di dalam kesimpulan pengamatannya terhadap Laporan Indonesia atas Pelaksanaan Konvensi Hak Anak periode 1993 – Juni 2000 yaitu agar Indonesia melanjutkan usaha-usahanya untuk menghaous pekerja anak khususnya dengan menangani sebab-sebab yang mengakar dari eksploitasi ekonomi anak melalui penghapusan kemiskinan dan akses terhadap pendidikan.

Sedangkan mengenai penghukuman fisik, hal ini menjadi keprihatinan dari Komite Hak Anak PBB. Dikatakan bahwa Komite sangat prihatin bahwa hukuman fisik dalam keluarga dan di sekolah-sekolah masih tersebar luas, diterima secara budaya dan masih diperkenankan secara hukum. Karena itulah, Komite merekomendasikan agar Indonesia a) mengamandemen aturan legislasi saat ini untuk melarang hukuman fisik di semua tempat, termasuk dalam keluarga, di sekolah-sekolah dan tempat-tempat pengasuhan anak lainnya, b) menjalankan kampanye pendidikan publik tentang konsekuensi-konsekuensi negatif dari perlakuan buruk terhadap anak-anak dan mempromosikan bentuk-bentuk disiplin yang positif tanpa kekerasan sebagai alternatif dari hukuman fisik.

Nah, bagaimana situasi dari persoalan di atas? Tampaknya kita memang masih berhadapan dengan realitas adanya pekerja anak dan penghukuman fisik yang masih kental di keluarga dan sekolah.

Sebagai penutup saya teringat kisah dari seorang rekan dua hari lalu di Bali, ketika dia menceritakan satu pertemuan yang membahas tentang kekerasan anak di salah kabupaten. Ia memulai pertanyaan dengan apakah bapak-bapak dan ibu-ibu pernah memukuli ternak-ternak peliharaan. Spontan semua menjawab tidak. Ia lalu melanjutkan, apakah Bapak-bapak dan ibu-ibu pernah memukuli anak-anak sendiri?

Yogyakarta, 18 Juni 2011

_______________________

Iklan

One comment on “Pekerja Anak dan Pendidikan

  1. Miris memang melihat mereka bekerja, sementara teman-teman yang lain bermain sambil belajar.

    Bicara tentang Hukuman fisik, sudah tepatkah apa yang dilakukan teman saya “Pak Andy” dalam tulisan http://arebyne.wordpress.com/2012/01/20/pesan-rahasia-si-anak-batu-untuk-siswa-pak-andy/#more-613

    Salam Blogger Persahabatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: