Tinggalkan komentar

Orang Gila Di Tengah Peradaban (Engkong Eddy)


Eddy Hidayat nama yang dikenal sekarang. Eduard nama yang diberikan ketika ia lahir. Orang uanya yang berdarah Cina juga memberi nama kepadanya yang berarti si ”Penghubung Terang”.

Tapi orang-orang di sekelilingnya, lebih akrab memanggilnya ”Engkong” atau Engkong Eddy. Ia dilahirkan di Cianjur, pada Jum’at Pahing, 31 Januari 1941 atau 3 Moeharam 1360/3 Suro 1872. Hari kelahiran yang bertepatan dengan hari libur untuk memperingati ulang tahun ke tiga dari Princess Beatrix (yang kini menjadi Ratu Belanda).

Pertama kali saya bertemu dengan dirinya pada tahun 1996. Saya sudah lupa apakah pada saat itu sempat berbincang-bincang dengan dirinya. Intensitas pertemuan dan obrolan dengan dirinya baru terjadi pada tahun 2002.

Pada tahun itu, seorang kawan, Direktur Yayasan Aulia meminta saya untuk memfasilitasi pembuatan buku mengenai hak anak yang bisa dipahami oleh anak-anak. Penyusunnya juga anak-anak, yaitu anak-anak yang tergabung di Remaja Aulia, mitra Yayasan Aulia, yang berasal dari berbagai perkampungan miskin di Jakarta. Rata-rata mereka adalah anak jalanan. Melalui delapan kali pertemuan, akhirnya naskah dan gambar-gambar bisa diselesaikan. Buku yang diberi judul ”AKU ANAK DUNIA” pada akhirnya bisa diterbitkan atas dukungan lima lembaga internasional, yaitu Jakarta Japan Network, Save the Children US, Save the Children UK, Terre des Hommes Netherlands, dan lembaga PBB untuk anak, yaitu UNICEF.

Buku ini pada awalnya hanya digagas dan disupport oleh Jakarta Japan Network, yang merupakan kumpulan para istri orang Jepang yang peduli dengan nasib kaum miskin di Jakarta. Pada perkembangannya, ketika  sudah ada draft dan didiseminasikan, banyak organisasi yang tertarik untuk turut mendukung. Termasuk UNICEF yang menyatakan akan memberi dukungan biaya percetakan. Namun, proses tidak berjalan begitu mulus terutama dengan UNICEF. Permasalahannya bisa dikatakan sederhana, tapi bisa juga tidak. Soal warna pada sampul buku, UNICEF minta diganti biru. Tapi Yayasan Aulia ngotot untuk mempertahankan warna asli yang didesainnya, warna hijau.

Nah, di sinilah, akhirnya saya banyak bertemu dan lebih mengenal Engkong Eddy. Saya belajar tentang ketegasan pada prinsip-prinsip yang dipegangnya. Termasuk kengototannya untuk tetap mempertahankan warna sampul buku tetap hijau. Untuk hal ini, sempat memberikan surat untuk membatalkan rencana kerjasama dengan UNICEF. Akhirnya pertemuan yang melibatkan seluruh pihak, termasuk saya di dalamnya, memutuskan warna sampul tetap hijau.

Buku itu, sudah dicetak berulangkali. Pada kenyataannya tidak hanya menjadi bahan bacaan bagi anak-anak, tetapi juga menjadi bahan bacaan orang dewasa untuk memahami hak-hak anak secara mudah. UNICEF, kalau tidak salah telah mencetak ulang tiga kali dan setiap kali cetak sekitar 20,000 eksemplar. Jadi sedikitnya buku itu telah tercetak sekitar 60,000 eksemplar (tanpa menghitung beberapa organisasi internasional yang turut meminta ijin untuk menggandakan).

Sikapnya terhadap sponsor atau lembaga-lembaga yang memberikan dukungan dana dipandangnya sebagai hubungan kerjasama yang setara. Ia tidak ingin dipermainkan oleh Sponsor. Direktur Yayasan Aulia menceritakan kepada saya bagaimana ketika ia dipusingkan oleh sikap sponsor, Engkong Eddy memberikan komentar: “Jangan  menjual diri  demi uang 300 juta. Murah banget  uang segitu. Harga diri di atas segalanya. Aulia tidak bisa di beli dengan apa pun. Jangan manut aja dengan sponsor. Harus berani mengutarakan pendapat “.

Beberapa bulan lalu, saya dikontak oleh Yayasan Aulia. Mereka merencanakan akan menyusun buku yang berisi profil, pesan dan kesan dari orang-orang yang mengenalnya. Saya langsung menyatakan kesanggupan. Tapi, seperti biasanya, ini lama terabaikan, baru menjelang deadline saya bisa menyelesaikan hutang itu. Semalam buku berhasil diselesaikan, siang tadi telah dikirimkan. Agak berkurang ketegangan para personil Aulia karena buku tersebut akan dipersembahkan pada perayaan ulang tahun ke 70 Engkong Eddy.

***

Bila anda tidak mengenalnya, saya kira itu wajar. Ini lantaran memang ia bukanlah seorang selebritis. Ia hanya seorang yang telah mendedikasikan hidupnya tiga puluh tahun lebih untuk karya kemanusiaan. Ia belajar dan bekerja bersama kaum miskin kota di berbagai perkampungan miskin di Jakarta. Ia juga bukan orang yang suka publisitas. Ia lebih menikmati kebersamaannya bersama kaum miskin itu.

Pilihan hidupnya dalam karya kemanusiaan telah dimulai sejak tahun 1978. Ia, yang memiliki kesempatan menyelesaikan studinya di Jerman, telah menjadi salah seorang pengusaha yang bergerak di bidang ekspor, tiba-tiba mengalami kebosanan dan keresahan menggelayut mencari makna tentang hidup. “Pada saat itu, hidup bapak penuh tragedi dan pahit sebagai pedagang. Hati merasa bosan dan resah,” demikian dikatakannya.

Pada masa itu pula Engkong Eddy mendatangi Gereja Katedral dan bertemu seorang Romo. Saat itu ia bertanya kepada Romo, “Apakah ada dunia selain dagang?”. Sang Romo memperkenalkan Engkong Eddy kepada Seorang suster yang menjabat sebagai pimpinan Biro Pelayanan Masyarakat (BPM).  Melalui suster inilah ia merasa mendapat pencerahan. Sebuah buku berjudul Jonathan Livingstone Seagull, karya Richard Bach yang diberikan oleh Suster itu pada tahun 1978 sangat berpengaruh terhadap kehidupannya. Novel yang terbit pada tahun 1970 dan menjadi karya fenomenal yang sangat digemari pada masa 70-80an. Novel ini mengisahkan tentang burung camar yang dinilai banyak pengamat sebagai alegori kehidupan Tuhan

Ia kemudian terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial dan kemudian meninggalkan usahanya. Langkah hidup yang mengejutkan para sahabat dan keluarga besarnya. Terlebih ketika ia dengan sukarela menyediakan rumah tempat tinggalnya sebagai tempat tinggal dan tempat berkegiatan para anak jalanan, yang biasa mangkal di seputaran Pasar Senen agar bisa memberikan pelayanan selama 24 jam. Menanggapi reaksi-reaksi itu, ia hanya berkomentar dengan santai, “Saya menemukan dunia lain , dunia yang bebas, saya jatuh cinta pada dunia yang baru ini , sakit maag ku hilang “ katanya tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Kegiatan bersama anak jalanan yang dilakukannya bersama kawan-kawannya pada akhir tahun 70-an bisa dikatakan sebagai orang atau kelompok yang pertama kali melakukan pendampingan terhadap anak jalanan di Indonesia.

Engkong Eddy sempat berpindah dari satu organisasi ke organisasi lainnya, baik berangkat dari organisasi yang sudah ada maupun organisasi yang dirintisnya, dikembangkan kemudian ia tinggalkan. Namun dari keseluruhan itu, ia tetap mencurahkan seluruh waktunya untuk berkarya bersama kaum miskin. Organisasi terakhir yang ia dirikan adalah Yayasan Aulia pada tahun 1995. Walaupun sekarang posisinya bukan sebagai pelaksana, ia tetap rajin mendampingi kaum muda yang berada di Yayasan Aulia.

Sebagai pendiri Yayasan Aulia, Engkong Eddy tidak merasa ini menjadi milik pribadi. Ia menyatakan:  ”Aulia bukan milik bapak. Aulia adalah milik mereka (anak-anak dan kaum miskin) karena semua donasi dan segala sumbangan yang ada diberikan bukan kepada bapak, tapi buat mereka. Bapak hanya sebagai symbol yang diwakilkan, yang dipercayakan istilahnya. Betapa sedihnya, betapa durhakanya bapak, kalau merasa ini milik bapak. Betapa jahatnya Bapak, bahkan diakhirat pun masuk neraka kalau Bapak berani mengambil barang yang diberikan untuk mereka. Jadi semua barang-barang yang di Aulia maupun semuanya ini adalah milik mereka. Maka itu harapan bapak tentang Aulia adalah bahwa suatu saat mereka bisa mengelola Aulia. Mereka ini adalah anak-anak yang dilayani.”

Sekarang memang sudah terbukti, beberapa staf dari Yayasan Aulia adalah anak-anak yang semula difasilitasi, didampingi, dan diperkuat kapasitasnya. Ini tentunya merupakan terobosan baru yang luar biasa. Model semacam ini, menurut Engkong Eddy, akan menyebabkan tongkat estafet bisa berjalan terus.

***

Engkong Eddy, adalah sosok yang sederhana. Sejak ia mengambil keputusan melakukan kegiatan sosial, ia memang merubah penampilannya. Seluruh orang yang mengenalnya selalu dapat memberikan gambaran yang satu sama lain hampir senada mengenai penampilannya: Kaos oblong dan sandal jepit. Ia juga sering berjalan kaki di tengah terik matahari Jakarta. Gaya penampilan yang sederhana apa adanya pada perkembangan selanjutnya juga menular kepada rekan-rekan kerjanya di Yayasan Aulia. Engkong Eddy menegaskan bahwa ini bukan sekedar ingin bergaya berbeda atau sok-sok-an  biar kelihatan miskin, melainkan sebagai sikap untuk menunjukkan kesejajaran dengan anak dan keluarga miskin yang didampinginya. Sikap ini juga diiringi dengan intensitas yang tinggi untuk berinteraksi dengan masyarakat.

Kedekatannya dengan kaum miskin tidak diragukan lagi. Beberapa sahabatnya, mengungkapkan berbagai pengalaman yang menunjukkan hal itu. Misalnya saja Magdalena Sitorus, yang pernah menjadi ketua dan anggota Komisi Nasional Perlindungan Anak (KPAI) menceritakan pengalamannya: “Bahkan yang paling berkesan, bagaimana Pak Eddy membawa saya ke Pasar Senen untuk meperkenalkan daerah layanan Aulia juga orang-orang yang ada di dalamnya dan bagaimana orang-orang di daerah tersebut kelihatan begitu akrab dengan Pak Eddy  yang sering diberi sebutan “Engkong”, padahal menurut saya yah belum tua juga koq disebut Engkong.  Tapi itulah cara menunjukkan keakraban mereka dan Pak Eddy dituakan oleh mereka”.

Bila dirimu berkesempatan misalnya mengunjungi beberapa perkampungan miskin seperti di  Pengarengan (lokasi ini sudah tergusur), pedongkelan, Penas, kawasan Senen, Pasar Gaplok, Sunter, Pulo Ngandang, dan Semper, bertanyalah tentang Engkong Eddy, maka saya yakin sebagian besar masyarakat dan anak-anak di sana akan segera bisa mengenali dan menjawab pertanyaanmu. Ini lantaran Engkong Eddy, sering tak sungkan untuk keluar masuk perkampungan-perkampungan miskin ini.

Strategi yang dikembangkan oleh Engkong Eddy berdasarkan pengalaman masa kecilnya dan panjangnya belajar dan bekerja bersama masyarakat adalah pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan. Obsesinya adalah bagaimana segenap potensi anak dan masyarakat dapat berkembang.

Ia menyatakan bisa melakukan karya kemanusiaan dikarenakan ia memiliki sesuatu. ”Bapak bisa memberikan perasaan baik, perasaan penuh sayang, perhatian dan sebagainya karena Bapak memiliki itu. Bapak memiliki itu, pertama-tama dari orang tua, saudari-saudari dan teman- teman Bapak.  Waktu kecil bapak mendapatkan ini sehingga bila sekarang dibagi pun tidak akan pernah habis,”

”Pertama adalah pendidikan. Pendidikan adalah fasilitas  utama untuk mengembangkan potensi anak. Namun pendidikan tanpa mental dan moral yang kuat, maka akan matilah mereka. Karena itu mental dan moral harus diperkuat”, demikian dikatakan oleh Engkong Eddy.

”Kedua adalah kesehatan. Kalau kesehatan rapuh, mereka tidak bisa kemana-mana. Dari pada pusing ke rumah sakit ngemis-ngemis, harga diri juga rusak, kita bikin supaya mereka datang berkumpul di sini untuk kesehatan mereka. Mereka bisa mengatasi sendiri dengan memberikan penyuluhan, meningkatkan kemampuan dan ketrampilan sehingga mereka bisa mandiri. Tentu saja mereka masih perlu seorang dokter. Ada sponsor mau ongkosin, ya syukur, pakai aja itu.” tambah Engkong Eddy.

Engkong Eddy kemudian melanjutkan ”Ketiga, belakangan melihat lagi, keluarga ini kapan jadinya (mandiri)? Hidup miskin jadi keenakan. Ada juga yang bilang, mau maju tapi nggak ada duit. Bikinlah pemberdayaan kaum perempuan,”

Bila ketiga strategi itu bisa dilangsungkan dan berjalan dengan baik, Engkong Eddy mengharapkan bahwa pada suatu saat tidak ada lagi kemiskinan. Ia sering menyampaikan pesan kepada anak-anak dan para orangtua mereka bahwa hal itu cukup mereka saja yang mengalami. Anak-anak mereka diharapkan tidak akan mengalami. Anak-anak diharapkan dapat menyayangi dan menghormati orangtuanya karena mereka telah menjaga, merawat dan membesarkan. Sedangkan kepada orangtua diharapkan mereka dapat memberikan perhatian kepada anak-anak mereka sendiri.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa masyarakat miskin sebenarnya memiliki potensi besar, maka potensinya yang perlu dikembangkan. Kita harus memberi ruang atau memfasilitasinya. Jangan sampai terjebak bahwa merasa sebagai sahabat ingin menolong orang yang kesusahan. Misalnya merasa karena pendidikan lebih tinggi dan memiliki banyak pengalaman, lantas untuk membantu justru mengatur-atur mereka. Atau sebaliknya mengambil alih semua urusan sehingga justru mereka menjadi tergantung. Kepada para orangtua, Engkong Eddy sering memberikan pesan ”Cukup elu  aja yang ngalamain. Anak lu nggak boleh ngalamin hal yang sama kayak luh – cukup sekali orangtua yang ngalamin, kalu itu luh udah ngerasain.”

***

Sosok Engkong Eddy, saya kira adalah sosok orang gila di tengah peradaban ketika semua orang berlomba untuk mencari kesempatan dan kemapanan, ia justru meninggalkan itu semua dan mengabdikan dirinya untuk kehidupan kaum miskin.

Banyak langkah yang telah ia lakukan tanpa banyak kata. Ia terus saja bergerak dengan keyakinannya di tengah hiruk pikuk kehidupan sosial-politik di Indonesia. Mohammad Farid, seorang tokoh hak anak terkemuka di Indonesia dan juga mantan anggota Komnas HAM, memberikan pandangannya bahwa “Dalam benak saya, jejak pak Eddy memang tidak gemerlap dalam gegap gempita. Dan saya ingin terus tenggelam dalam kesan hening yang merasuk seperti itu, berjalan kaki beralaskan sendal, baju tidak dimasukkan kedalam celana, menenteng “tas aktifis”, memandang lurus ke depan dengan posisi kepala sedikit menunduk. Sederhana. Tekun. Tulus. Dan meninggalkan jejak hanya bagi mereka yang memerlukan.

Saya berkeyakinan ia akan tetap melanjutkan karya kemanusiaan semampu yang ia bisa sampai akhir hayatnya kelak. Pada kesempatan ini, ketika menyambut hari ulangtahunnya yang ke 70, saya hanya mampu mengucapkan “Selamat ulang tahun Engkong”. Semoga Tuhan tetap memberi kesehatan dan semangat baginya.

Semarang, 30 Januari 2011
(Odi Shalahuddin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: