Tinggalkan komentar

Menjadi Pelayan yang Baik

Menjadi Pelayan yang Baik ?

Beberapa hari yang lalu, saya diminta memberikan catatan dalam pertemuan para relawan yang bekerja untuk anak-anak di lereng Merapi. Sebelumnya, saya sering menolak. Kebiasaan saya, kalau ngomong berpanjang lebar, kasihan mereka nantinya.

Pertemuan para relawan sendiri berlangsung rutin setiap hari. Pada awal-awal, pertemuan dilangsungkan dua kali seharinya, yaitu pagi hari untuk membahas rencana kegiatan pada hari itu, dan pada malam hari sesudah dari lapangan untuk memberikan laporan.

”Saya tidak percaya kalian benar-benar bisa memfasilitasi anak-anak dengan baik,” prasangka yang kuutarakan. Semuanya diam. Kaget mungkin, karena langsung divonis demikian. ”Kalian tahu, di sini tidak ada PRT. Tidak ada yang bekerja khusus untuk membersihkan rumah, mencuci piring dan gelas-gelas kotor” lanjutku.

Semuanya mengangguk-angguk tanda setuju. Memang tidak ada PRT.

”Nah, bila tidak ada PRT, maka pernahkah kawan-kawan membayangkan atau setidaknya terpikir, siapa yang akhirnya melakukan itu semua?”

Semua diam.

”Pasti ada yang melakukan. Toh, lantai juga bersih. Piring dan gelas kotor juga kembali bersih. Bukankah begitu,”

Mengangguk-angguk.

”Nah, bagaimana mungkin saya merasa diyakinkan kalian mampu untuk melayani anak-anak, bila melayani diri sendiri saja belum bisa. Membayangkan ada orang yang akan terbebani pekerjaan-pekerjaan itu saja tidak terlintas dalam pikiran. Jadi, tolonglah, seperti awal-awal, masing-masing setidaknya bertanggung-jawab untuk membersihkan atau mencuci barang-barang yang digunakannya. Bukan berarti saya bicara seperti ini lantaran saya sudah tertib. Saya menyatakan untuk diri saya sendiri juga. Kebiasaan buruk kita, pada barang-barang milik publik, justru kita tidak pernah menjaga. Ok. Itu saja dari saya. Selamat bekerja…,”

Aku tidak tahu bagaimana reaksi kawan-kawan semua. Apakah menjadi bahan perenungan atau sekedar lewat atau justru merasa marah karena merasa tidak dihargai seluruh dedikasinya untuk melakukan pelayanan terhadap anak-anak korban Merapi itu.

Saya kira, pengalaman hampir serupa pernah dihadapi oleh kawan-kawan yang aktif dalam berbagai kegiatan – apapun – yang melibatkan orang-orang untuk berhimpun di dalam satu tempat. Kegiatan kepanitiaan misalnya, menempati sebuah ruang atau rumah sebagai sekretariat di mana orang-orang hilir-mudik dengan intensitas yang tinggi, maka terbuka kemungkinan berbagai gelas kotor akan menyebar di mana-mana. Bila tidak ada satupun yang peduli, maka bisa menjadi seperti kapal pecah. Bila ada satu orang yang peduli dan mencoba menatanya, maka ia akan menjadi orang yang sangat tertindas.

Kebetulan sekali saya memiliki banyak kawan, senior-senior saya, yang walaupun sudah banyak dikenal di tingkat nasional ataupun internasional, tapi masih sering bersikap rendah hati. Pada sebuah pertemuan, seorang kawan yang telah puluhan tahun tinggal di Jerman dan menjadi salah satu rujukan yang harus ditemui bila ada orang-orang Indonesia berkunjung atau studi di sana, dengan santai membuatkan minuman untuk seluruh peserta pertemuan. Ini berkali-kali dilakukan di berbagai pertemuan yang menyebabkan tuan rumah menjadi merasa tidak enak hati. Demikian juga seorang kawan yang pernah menjadi pejabat negara, tidak segan mencuci gelas-gelas kotor yang baru digunakan oleh orang lain.

Dari mereka saya banyak belajar tentang sikap, walaupun bukan berarti saya bisa mengikuti jejak mereka. Pada pikiran bawah sadar, seringkali kita merasa bahwa melakukan sebuah pekerjaan tertentu akan merendahkan diri kita sendiri. Membersihkan sampah, menata ruang, dan mencuci gelas-kotor, misalnya, dalam kehidupan bersama, seakan takut dianggap sebagai “kacung” atau  PRT. Ya, diakui pula, memang ada orang-orang yang memandang orang lain dengan cara demikian.

Hal-hal di atas, barangkali sering menjadi bahan perbincangan bagi kita semua. Masalah yang terus muncul di berbagai komunitas. Kebersamaan ditonjolkan, tapi kelakuan belum menunjukkan kebersamaan tersebut.

Lantas bagaimana dengan orang-orang yang kita jadikan sebagai pelayan kita? Abdi negara, bukankah itu artinya melayani para warganegaranya dengan baik? Para wakil rakyat, Mentri, bahkan Presiden sekalipun, sesungguhnya adalah pelayan-pelayan kita. Mandat atau amanah yang dibebankan adalah bagaimana mengelola negara ini untuk kepentingan warganegaranya. Sebagai pelayan, agar bisa bekerja dengan baik, mereka diberi kewenangan, diberi kekuasaan. Sayang, yang terjadi banyak terjungkir-balik. Mereka-mereka inilah malah yang paling sering minta dilayani oleh rakyatnya sendiri… Jadi malu deh… Atau mereka disuruh belajar untuk mencuci piring dan gelas kotor di rumahnya masing-masing terlebih dahulu?

Yogyakarta. 16.01.11.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: