3 Komentar

Mengerikan Hidup dalam konflik

Odi Shalahuddin

Berbagai konflik yang pernah terjadi di Indonesia baik konflik bersenjata seperti terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam dan Timor Timur ataupun konflik etnis dan sosial seperti di Poso,Ambon, dan Sampit, telah menyimpan banyak cerita duka. Jatuhnya korban tewas, ataupun luka, dialami oleh kedua belah pihak yang bertikai. Rumah-rumah terbakar, fasilitas-fasilitas publik hancur, dan kota-pun menjadi mati. Recovery orang-orang dan recovery fisik agar denyut kehidupan sebuah kota kembali hidup, tentunya membutuhkan biaya yang besar dan waktu yang panjang. 

Maka, terjadinya konflik di Tarakan antara dua etnis yang terjadi sejak minggu (26/09) menimbulkan kekhawatiran bagi segenap pihak. Konflik yang diawali oleh pertikaian individual telah meluas menjadi konflik etnis, diharapkan tidak berkembang dan menjadi konflik yang berkepanjangan.

Berbagai elite politik dari tingkat daerah hingga tingkat pusat sudah turun tangan guna mencegah agar konflik tidak berkembang. Termasuk Presiden turut menyampaikan himbauan.

“Marilah kita cegah kekerasan-kekerasan yang tidak perlu karena hanya akan merugikan kita semua,” ujar Presiden saat jumpa pers di Kantor Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara,Jakarta, Rabu (29/9/2010)

Kita semua memang sangat berharap bahwa Kepala Daerah, pihak keamanan dan para tokoh masyarakat mampu bekerja sama dengan baik untuk menyelesaikan konflik dengan cepat melalui proses perdamaian yang melegakan semua pihak. Upaya lain adalah mencegah sedini mungkin agar tidak ada pihak-pihak yang mencoba mengambil keuntungan (apapun) dengan berupaya memprovokasi kedua belah pihak agar tetap berseteru.

Secara pribadi, saya belum pernah mengalami situasi konflik antar kelompok. Saya, yang bukan seorang pemberani, ketika terjebak di sebuah jalan yang menjadi arena tawuran pelajar saja, sudah merasakan ketegangan yang luar biasa. Kekhawatiran  apabila ada batu-batu nyasar, apabila kibasan atau lemparan senjata tajam tiba-tiba mengenai bagian tubuh kita, dan berbagai kekhawatiran lainnya yang bisa mengancam keselamatan diri kita. Jadi, saya bisa membayangkan bagaimana kekhawatiran dan ketakutan seseorang yang hidup di arena konflik yang berkepanjangan.

Misalnya saja di Aceh, Konflik bersenjata dimulai sejak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dideklarasikan pada tanggal 4 Desember 1976  dan menyatakan perlawanan  memisahkan diri dari RI. Akibatnya  terjadilan perang selama 29 tahun antara Tentara Negara Aceh (TNA) melawan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Konflik bersenjata itu berakhir pada tanggal 15 Agustus 2005 setelah delegasi Indonesia dan GAM sepakat menandatangani MoU di Helsinski, Finlandia, atas fasilitasi The Crisis Management Intitative (DMI, sebuah organisasi  mediasi internasional). Sejak itu masa perdamaian dimulai di NAD.

Di Sulawesi Tengah, khususnya di Poso, dalam kurun waktu antara Desember 1998 hingga Juni 2000 telah terjadi konflik sosial yang melibatkan kelompok Muslim dan Kristen, yang dikenal dengan Kerusuhan Poso. Menurut Wikipedia (13 Februari 2008),  kerusuhan ini  terjadi dalam tiga babak :

  • Kerusuhan Poso (25-29 September 1998).
  • Poso II (17-21 April 2000)
  • Poso III (16 Mei-15 Juni 2000).

Kerusuhan tersebut dinyatakan berhenti setelah pada tanggal 20 Desember 2001 kedua pihak yang bertikai menandatangani Keputusan Malino. Namun menurut laporan George Junus Aditjondro, kerusuhan tersebut terbagi dalam tiga periode yang lebih luas (Sangaji, 2008):

  • Periode I (25-28 Desember 1998 sampai Pertemuan Malino 20-21 Desember 2001).
  • Periode II (Pasca Deklarasi Malino sampai penyerangan empat desa di Morowali dan Poso)
  • Periode III (pertengahan Oktober 2003 sampai tahun 2004 saat ditulisnya laporan tersebut).

Kerusuhan Ambon merupakan konflik sosial yang hampir sama pemicunya dengan kerusuhan Poso, yaitu konflik beragama.

Pada situasi ini saya teringat pertemuan-pertemuan dengan berbagai anak yang pernah hidup dalam situasi konflik. Ungkapan pengalaman yang mereka hadapi telah membuat saya bergidik dan tidak yakin apa-apa yang mereka ungkapkan benar-benar terjadi. Apalagi di negeri yang bangsanya dikenal sebagai bangsa berbudi, ramah dan menjunjung tinggi perbedaan. Untuk menuliskan berbagai pengalaman mereka saja, saya merasa tidak kuat hati.

Mereka menceritakan tentang adanya pembakaran-pembakaran rumah, penjarahan di rumah-rumah mereka, bakutembak antar dua kelompok bertikai, pem-bom-an, dan berbagai kasus pembunuhan sadis.

”Kami hidup dalam perang sangat pedih dan sangat ngeri waktu itu.Adateman saya yang dibunuh, otaknya keluar, perutnya keluar, dan badannya juga hancur” kata DMR, seorang anak perempuan berumur 16 tahun dari Aceh.

”Pada saat konflik juga saya menjadi anak yatim karena ayah ditembak oleh pasukan ”Y”, ayah diambil pada malam jum’at di rumah oleh pasukan ”Y” dan malam itu juga ayah meninggal ditembak,” tutur DZH, anak perempuan lainnya yang juga berasal dari Aceh yang berumur 15 tahun.

”Pengalaman buruk itu dari keluarga ada kakak dua orang meninggal. Itu sangat buruk sekali. Terus katong berpisah sama keluarga. Dulukan katong rumah tabakar samua jadi yang paling buruk tuh kehilangan kakak dua orang,” HJP laki-laki, 17 tahun dariAmbonmenceritakan pengalamannya.

”Saya sering berpikir bahwa ini terjadi karena perang, bukan kami yang ingin. Jika tidak ada perang mungkin kami masih berada di rumah kami yang lama.” cerita PSN, perempuan berumur  14 tahun yang sebelumnya tinggal di Timor Timur, namun setelah terjadinya konflik bersenjata mengungsi ke Indonesia.

Anak, sebagai kelompok yang paling rentan terkena dampak konflik mengalami kehidupan yang buruk. Mereka kehilangan orangtua dan anggota keluarganya, menyaksikan berbagai macam kekerasan secara langsung, hidup dalam pengungsian, pendidikan dan kesehatan terganggu, dan sebagainya. Pengalaman-pengalaman buruk yang dihadapi anak tentunya bisa menimbulkan trauma berkepanjangan yang akan mengganggu perkembangan kapasitas mereka.

Terjadinya konflik memang patut menjadi perhatian kita semua. Akibat buruk yang ditimbulkan sangat luar biasa. Oleh karena itu, semangat kebersamaan haruslah tetap terjaga, saling toleran dan bahu-membahu guna membangun kehidupan yang lebih baik bagi semuanya. Maka, mari berdoa agar segala macam konflik dapat terhindari di muka bumi pertiwi ini. Dan konflik etnis yang saat ini terjadi di Tarakan dapat segera berakhir.

Salam damai penuh jiwa merdeka,

Iklan

3 comments on “Mengerikan Hidup dalam konflik

  1. sedih, dengan bangsa ini yg mudah tersulut emosinya.

  2. Konflik di negeri sendiri itu sama aja membunuh keluarga sendiri…kita hrus mengingat di jaman kemerdekaan ,kta bergabung untuk melawan penjajah…seharusnya kita memusuin para pejabat negeri ini yg korupsi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: