Tinggalkan komentar

Diperkosa dan Masih Dipersalahkan

Odi Shalahuddin

Sebuah pemberitaan dari Kompas.com, menarik perhatian saya. Seorang anak berumur 17 tahun, diajak oleh adik pacarnya bersama tiga orang rekannya berkaraoke. Ia dicekoki minuman keras hingga tak sadarkan diri, lalu diperkosa di kamar mandi. Selesai dikamar Mandi, anak ini dibawa kembali ke ruang karaoke, dibaringkan di sofa. Ketiga pelaku lainnya mulai membuka pakaian anak itu, difoto, dan kemudian disebarkan ke internet dan BBM. Informasi yang dikutip oleh jurnalis bersumberkan dari keterangan kakak korban setelah memberikan laporan ke kepolisian.  (lihat di SINI)

Setiap berita semacam ini, biasanya selalu ada komentar yang menyatakan keprihatinannya dengan memberikan dukungan kepada korban dan mengutuk pelakunya, tapi juga ada yang menyalahkan korban. Ada pula yang memberikan peringatan kepada orangtua.

Saya kutipkan beberapa komentar dari para pembaca tanpa memperhitungkan urutannya, hanya untuk memberikan gambaran pandangan orang atas suatu peristiwa:

”Diperkosa atau suka-sama suka? Sy bukan meng-under estimate, tapi sulit diterima akal sehat ceritanya”  

”aneh emang….. Critanya kurang logis… Kalo tempat karaoke dipakai mabok… brati sebagai tmpat pemerkosaan juga boleh”  

”Lah anak gadis dibiarkan karaoke dengan 3 remaja laki2. Ngak takut apa dengan hawa nafsu laki-laki yang suka tak terbendung !? Hati-hatilah orang tua dirumah menjaga gadis-gadis mereka !!”  

“pelaku harus dihukum seberat2nya biar kapok kalau bisa dihukum mati saja pelaku harus dihukum seberat2nya biar kapok kalau bisa dihukum mati saja”  

“SITA alat bukti kejahatan untuk DIMUSNAHKAN …. kalau itu diterapkan, orang pasti akan berpikir lagi sebelum memperkosa…….” 

* * *

Anak, berarti setiap manusia yang berusia di bawah delapan belas tahun, kecuali berdasarkan undang-undang yang berlaku untuk anak-anak, kedewasaan telah dicapai lebih cepat, demikian rumusan dari Konvensi Hak Anak (KHA) Pasal 1. Pada Undang-undang Perlindungan Anak,  yang disebut anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Mengacu kepada pengertian di atas, baik secara internasional maupun secara nasional, maka pada kasus di atas korban masih dikategorikan sebagai anak.

UUPA memberikan jaminan perlindungan anak dari kekerasan dan eksploitasi seksual.

Pada pasal 81, ayat 1 UUPA, ini mengatur tentang setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tahun) dan denda paling banyak Rp. 300.000.000 (tiga ratus juta dan paling sedikit Rp. 60.000.000. (enam puluh juta)

Pada ayat 2 dinyatakan, ketentuan pada ayat (1) berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.

Mengacu kepada ketentuan di atas, bisa dinyatakan bahwa siapapun yang melakukan persetubuhan dengan anak (berumur di bawah 18 tahun), baik dengan kekerasan ataupun tidak, merupakan tindak pidana.

Anak, karena posisinya sebagai anak, dinilai belum bisa mengajak atau diajak berhubungan seksual karena tidak diakui adanya persetujuan sadar dari seorang anak (informed consent). Maka, tidak penting untuk mengungkap apakah hubungan dilakukan suka sama suka, karena anak belum memiliki informed consent dan posisi anak tetap ditempatkan sebagai korban. Maka pada kasus di atas, apapun motifnya, anak merupakan korban kekerasan atau eksploitasi seksual yang dilakukan oleh sekelompok orang.

Seringkali kita terjebak pada perspektif lama dan berprasangka bahwa peristiwa bisa terjadi karena kesalahan anak, lalu memberikan stigmatisasi. Hal inilah yang selayaknya perlu dirubah dari cara berpikir kita. Anak yang telah menjadi korban, kembali menjadi korban stigmatisasi kita.

***

Menempatkan anak sebagai korban, bukan berarti pula kita akan mengamini apapun yang dilakukan oleh anak. Umum diketahui sekarang ini lingkungan pergaulan anak, berdasarkan berbagai hasil penelitian, telah terjadi pergeseran nilai terhadap seksualitas. Perilaku seks bebas sudah semakin mengemuka. Menghadapi situasi ini, bukan berarti pula kita mentolerir ataupun berhak untuk memvonis anak, melainkan harus ditempatkan sebagai tantangan.

Tantangan kita adalah bagaimana melindungi anak-anak dari lingkungan pergaulan seks bebas, atau dari berbagai ancaman yang berpotensi menjadi korban kekerasan dan eksploitasi seksual dalam bentuk apapun, dengan tetap mempertimbangkan hak-hak anak. Tentu, tidaklah bijak lantaran kewaspadaan kita yang berlebihan, anak-anak justru lebih banyak dikerangkeng di rumah.

Kepentingan terbaik bagi anak, sebagai salah satu prinsip dasar dari KHA, bisa menjadi alat bagi kita di dalam menentukan pengambilan keputusan. Termasuk pula mengajak dialog anak dengan mendengarkan pandangan-pandangan mereka, kemudian diputuskan bersama.

Bagaimana dengan pandangan anda?

Semarang, 1 Agustus 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: