Tinggalkan komentar

Dialog Pendidikan Anak: Ketika Kesadaran Terjajah Tanpa Tersadari #4

Para Guru Anak-anak Kita

Seseorang akan tumbuh, berkembang, seiring dengan ekplorasinya yang semakin luas. Bayi, tentu terbatas eksplorasinya pada ruang-ruang dalam rumah. Ketika ia telah bisa berjalan, berlari, maka ia akan mulai mengeksplorasi ke luar rumah. Semakin besar, bertambah usia, semakin luas jangkuannya.

Ketika masih anak-anak, tampaknya kita masih bisa merasakan kenikmatan mencuri waktu di kala orangtua lengah, untuk menyelinap menikmati tumpahan air hujan, sambil berlari-lari, bermain-main, dan curahan air dari talang bagaikan air mancur menghujam ke kepala kita. Bila ada keberuntungan pada masa kecil, maka menikmati aliran air sungai yang masih jernih, bermain lumpur di sawah, mencari ”ceplukan” di sela tanaman kacang, menyaksikan sapi-sapi membajak, menikmati gesekan pohon bambu yang melahirkan irama. Atau bermain dalam permainan kelompok dengan hati riang, walau kadang ada yang curang membuat hati meradang. Ruang-ruang bermain. Melekat. Menjadi pelajaran dan pembelajaran.

Kasihan anak-anak pada masa kini. Ruang-ruang bermain yang semakin sempit. Waktu-pun telah menghimpit. Jadwal sekolah dengan segenap ekstra-kurikulernya, dan tugas-tugas membuat menjerit. Ditambah lagi waktu orangtua yang semakin sedikit. Ditambah lagi kekhawatiran terhadap ancaman yang bisa mencekik, membuat orangtua terlalu protektif. Pembatasan anak bermain di luar rumah.

Pada saat bersamaan, acara televisi makin beragam. Dengan segala acara yang kadang kita sadari tak membuat pikiran berkembang, malah menanamkan nilai-nilai baru yang bisa merugikan. Mungkin benar, yang tersaji adalah fakta. Tapi persengkongkolan seorang anak dengan ibunya (hadir di banyak sinetron) untuk mencelakai saudara tiri atau suami/ayah, patutkah menjadi tontonan?

Berkembang pula segala alat permainan. Hadir dalam layar-layar kaca atau monitor HP dan komputer. Akses internet. Ekplorasi anak dalam ruang namun bisa menjelajah dunia. Banyak dari kita, mungkin masih asing. Anak-anak sudah canggih, kendati dalam posisi terbaring.

Itulah para guru anak-anak kita sekarang. Berolahraga dalam layar kaya. Bermain bola, kebut-kebutan, tembak-tembakan. Belum lagi bila terkena virus gambar dan film-film tontonan orang dewasa.

Bila masih sempat untuk menghitung. Berapa banyak interaksi kita dengan anak-anak? Jadi, bila anak-anak mendapatkan pendidikan yang beragam dari pihak lain yang melahirkan nilai-nilai baru, jangan salahkan anak-anak itu.

Yogya, 4 November 2011

Ilustrasi dari SINI

________________________________

Tulisan Terkait

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: