2 Komentar

Dialog Pendidikan Anak: Ketika Kesadaran Terjajah Tanpa Tersadari #3

Kita Orang Tua yang Curang

Sebagai orangtua, seringkali kita berlaku curang. Kekuasaan yang dimiliki, tanpa sadar menjadi pembalut “kemalasan” kita. Dengan mudah kita meletakkan vonis bahwa kejengkelan yang menyeruak di dalam diri lantaran Anak bersifat ”nakal”.

Sebagaimana disinggung pada bagian sebelumnya, aktivitas anak untuk mengetahui lebih banyak, mengeksplorasi kepekaan dan pengetahuan terhadap sekelilingnya, menyebabkan kita, sebagai orangtua menjadi ”direpotkan”. Keletihan atas beban kerja, terasa ditambah dengan aktivitas normal para anak-anak, yang berlari kian kemari, mengacak-acak barang-barang, mencoret-coret dinding, atau meminta sesuatu. Belum lagi ketika anak sudah bisa bicara dan banyak bertanya tentang berbagai hal. Kita, sadar atau tidak sadar, seringkali memunculkan sikap otoriter kita sebagai orangtua.

Sebagai orang dewasa, yang pernah mengalami masa anak-anak, bisa merasakan pengalaman-pengalaman yang membahagiakan, dan juga pengalaman-pengalaman pahit dalam berbagai peristiwa, yang tampaknya bisa dianggap sederhana. Namun hasilnya terus melekat menjadi bagian dari kehidupan kita dalam kekinian.

”Ya, saya tidak pernah bisa melupakan bahwa saya merasa tidak diperhatikan lagi oleh orangtua ketika adik saya lahir. Semua lebih memperhatikan adik saya. Padahal saya masih ingin terus diperhatikan,”seorang ibu mengungkapkan perasaannya.

”Hal yang menyedihkan bagi saya, ketika Bapak tidak mengantarkan saya ketika berangkat sekolah untuk pertama kalinya,” seorang ibu yang lain.

Ya, kita pernah mengalami. Kita pernah merasakan. Pengalaman yang mungkin kita sembunyikan dalam diri kita. Menjadi suatu rahasia.

Tapi adakah kesadaran, bahwa pengalaman-pengalaman masa kecil itu, juga memberikan pengaruh terhadap sikap, pikiran dan tindakan kita? Marilah kita ingat kembali, kecenderungan-kecenderungan yang ada dalam diri kita saat ini, apakah dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa masa kecil kita?

Para ibu, tersenyum. Hampir semuanya mengangguk.

Jadi. Mengapa kita yang telah mengalami masa anak-anak, justru yang harus menuntut anak-anak memahami orangtua? Bukankah anak-anak belum memiliki pengalaman sebagai orangtua? Lalu kita tertawa tentang hal ini.

Memang jaman telah berubah. Tapi hakikat anak belajar dalam kehidupannya teruslah hidup. Pada masa kecil dulu, mungkin kita pernah berkesempatan belajar dengan bimbingan orangtua yang lebih intens. Bimbingan melalui permainan, lagu-lagu dan dongeng-dongeng, serta mungkin dilibatkan untuk melakukan dan mengalami sendiri. Seperti seorang pemburu yang mendidik anaknya berburu dengan mengikutsertakan anaknya dalam perburuan seraya melatih cara memegang senjata dan menggunakannya. Seperti seorang nelayan yang melibatkan anak-anaknya untuk turut berlayar mencari ikan. Seperti petani yang melibatkan anak-anaknya untuk turut serta.  Bukankah itu suatu proses belajar? Bukankah itu juga disebut pendidikan anak?

Pengecualian memang ketika meletakkan dan menggunakan anak-anak untuk membantu pekerjaan orangtuanya melebihi batas, sehingga mengabaikan waktu anak untuk belajar dan bermain sebagaimana kita pahami tentang dunia anak. Apalagi bila anak tidak menjalankan tugas yang diberikan, lalu diberi hukuman. Ini bisa dikatakan kita mengeksploitasi anak, bukan mendidik mereka.

Memang jaman telah berubah. Pikiran kita tentang pendidikan tanpa sadar merujuk kepada pendidikan formal: Sekolah!  Pada masa sekarang, anak digiring ke pendidikan formal menjadi semakin muda. Tidak dimulai dari Sekolah Dasar, tetapi bisa dimulai dari Taman Kanak-kanak, bisa dimulai dari tahap sebelumnya yaitu play group, dan sekarang lebih muda lagi, kita kenal Pendidikan Anak Usia Dini.

Pada satu  sisi, ini menunjukkan adanya kesadaran tentang proses pendidikan yang harus dilakukan lebih dini pada anak-anak, tapi di sisi lain, seringkali tanpa sadar bisa berarti menyerahkan anak-anak kita kepada orang lain atau suatu institusi.

Kita menjadi semakin berjarak dengan anak-anak kita sendiri. Apakah itu yang tengah terjadi dan kita alami? (bersambung)

__________________________

Ilustrasi dari SINI

________________________________

Tulisan Terkait

2 comments on “Dialog Pendidikan Anak: Ketika Kesadaran Terjajah Tanpa Tersadari #3

  1. […] Dialog Pendidikan Anak: Ketika Kesadaran Terjajah Tanpa Tersadari #3 […]

  2. Dangke lae sdh mau membantu🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: