2 Komentar

Dialog Pendidikan Anak: Ketika Kesadaran Terjajah Tanpa Tersadari #2

Sempurnalah segenap pemahaman, ketika membangun ingatan tentang masa anak-anak, dan juga mencermati dengan seksama segenap perkembangan anak-anak kita sejak lahir hingga ia bisa berdiri dan berlari.

Kasih sayang tertumpah penuh: kebahagiaan dirasa ketika pertumbuhan baru mulai terlihat (kerapkali kita tidak sabaran untuk menceritakan kepada pasangan dan kawan-kawan), dan kecemasan meraja ketika anak-anak kita menunjukkan sikap yang berkebalikan, menjadi diam, menjadi ramai dengan tangis tak berkesudahan. Ya, kita pernah mengalami dan menikmati perjalanan itu.

Namun, jujur saja, perkembangan kemudian, perhatian berkurang, dan kejengkelan mulai muncul. Syukur tidak berkepanjangan dan menjadi kebiasaan. Pada saat apakah itu?

”Kalau siang tidak tidur, uhg,”

”Kalau sudah mengacak barang-barang,”

”Maunya bergerak terus,”

”Dikasih tahu tidak mau mendengarkan,”

Apakah sikap yang kita saksikan pada anak-anak kita merupakan pertumbuhan yang wajar? Apakah kita hanya mau menyaksikan anak-anak kita seperti bayi yang banyak terdiam dan bergerak hanya sebatas ranjang?

Di sini kita mulai tersipu.

”Ya, wajar, sih. Memang kita mau enaknya. Kalau siang bisa beristirahat,”

”Ya, biar bisa menyelesaikan pekerjaan lain,”

Jadi?

”Iya, kita jengkel karena merasa capek,”

”Mengacak-acak jadi tambah kerjaan,”

”Kita yang egois ya….”

Kita semua tertawa tertahan dengan pandang mata entah kemana. Menyelemai lagi berbagai pengalaman? Entahlah.

Mengapa anak melakukan itu?

”karena ada keingintahuan,” jawab seorang ibu muda.

Ya, keingintahuan. Itu inti yang membangkitkan semangat belajar. Semangat untuk mengetahui. Melepaskan kepenasaran. Mencoba, belajar, belajar, dan belajar. Jadi, pada intinya, belajar adalah sifat dasar manusia. Bukankah bayi tidak kita ajarkan untuk memiringkan tubuhnya, tidak kita ajarkan untuk tengkurap, tidak kita ajarkan untuk merangkak (biasanya malah merangkak mundur terlebih dahulu, baru kemudian merangkak ke depan), tidak kita ajarkan untuk duduk, dan mencoba berdiri. Bayi belajar melakukan, lantaran ada dorongan.

Seiring dengan perkembangannya kemudian, ia akan melakukan peniruan-peniruan atas apa yang dilihatnya. Benarkah demikian? (bersambung)

Ilustrasi dari SINI

________________________________

Tulisan Terkait

2 comments on “Dialog Pendidikan Anak: Ketika Kesadaran Terjajah Tanpa Tersadari #2

  1. […] Dialog Pendidikan Anak: Ketika Kesadaran Terjajah Tanpa Tersadari #2 […]

  2. […] Dialog Pendidikan Anak: Ketika Kesadaran Terjajah Tanpa Tersadari #2 […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: