3 Komentar

Dialog Pendidikan Anak: Ketika Kesadaran Terjajah Tanpa Tersadari #1

Hampir terlupa. Sore ini (1/11) harus hadir dalam satu acara. Padahal seminggu sebelumnya telah dikontak seorang kawan untuk menjadi teman belajar bagi kelompok perempuan di salah satu Komunitas di Kecamatan Banguntapan, Yogyakarta.

”Selamat pagi Mas Odi. Mengingatkan untuk acara nanti sore, Mas. Acara dimulai pukul 15.00,” bunyi sms yang masuk pagi tadi.

Program Pembelajaran  Kecakapan Hidup Berorientasi Pemberdayaan Perempuan, merupakan salah satu program kelanjutan yang dijalankan oleh Yayasan LKIS bersama Dirjen Pendidikan Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan Nasional. Program ini yang dilangsungkan di empat kabupaten telah dilangsungkan pada periode September – Desember 2010 yang lalu.

”Berdasarkan hasil evaluasi dan usulan tindak lanjut dari para peserta, akhirnya program ini tetap dilanjutkan. Pertemuan diselenggarakan dua kali dalam seminggunya dengan tema-tema yang terkait dengan keadilan gender,” demikian dijelaskan oleh Siti Habibah Jazila,  Koordinator Program Islam dan Gender Yayasan LKIS.

Cilakanya, hari ini aku juga ada pertemuan dari pagi hingga selesai. Membahas tentang editing hasil laporan penelitian yang akan diterbitkan sebagai buku. Maka tidak ada kesempatan untuk mempersiapkan materi yang akan disampaikan. Sambil mengikuti pertemuan, di kepala mencari outline materi.

Pertemuan berakhir pukul 14.00, tapi hujan telah datang menyambut. Menunggu sekitar setengah jam tidak reda, akhirnya nekat menerobos. Menahan tumpahan yang cukup membuat seluruh pakaian basah kuyub. Rasa dingin dan risih dengan pakaian basah, bisa terabaikan setelah satu persatu para peserta berdatangan. Para ibu-ibu, tua dan muda, sekitar 15 orang jumlahnya.

Setelah dibuka oleh tuan rumah, saya menyampaikan permohonan maaf lantaran tidak mempersiapkan materi, dan memilih metode berdialog saja.

Nah, berikut ini ringkasan hasil dialog yang berlangsung pada pertemuan sore itu:

Kita semua pernah menjadi anak-anak. Kita melewati proses yang telah kita pahami. Dilahirkan dari rahim seorang ibu. Tumbuh, melewati waktu, menjadi dewasa, menikah, dan memiliki anak. Demikianlah adanya kita saat ini, sebagai orangtua dari anak-anak kita.

Ketika ingatan melayang ke masa silam. Titik terjauh manakah yang bisa kita tuju? Pada saat berumur tiga tahun, empat tahun, lima tahun, enam tahun, atau….? Peristiwa macam apakah yang terus melekat, tak lenyap, selalu teringat pun telah puluhan tahun berlalu.

”Ketika berumur tiga tahun, saya memiliki adik. Setelah itu saya merasa tidak pernah diperhatikan orangtua lagi. Semua tercurah untuk adik saya,” seorang ibu, yang kini telah memiliki empat anak, yang tertua seorang sarjana dari universitas terkemuka di Yogyakarta.

”Ketika berumur tujuh tahun, saya merasa seluruh pekerjaan di rumah, sayalah yang mengerjakan. Saya anak kelima, satu-satunya perempuan,” seorang ibu mengemukakan ingatannya.

”Masa kecil saya menyenangkan. Pada saat kami kecil, ketika masa-masa SD, orangtua kami selalu membagi pekerjaan di rumah tanpa membedakan antara anak laki-laki dan anak perempuan,” seorang ibu lainnya.

”Wah, pada saat umur tiga tahun, saya selalu teringat bagaimana ibu saya selalu mengajari lagu-lagu, bercerita tentang dongeng-dongeng, dan kami benar-benar menikmatinya,” tutur seorang ibu, lalu menyanyikan lagu yang pernah diajarkan oleh orangtuanya.

Sebagian ibu yang terkutip ungkapannya pada tulisan ini, hampir semua berumur di atas 40 tahunan. Ya, kadang mengingat masa lalu, bisa menggemaskan, menyenangkan, atau kadanhg melahirkan kesedihan.

Ketika terlontar pertanyaan tentang ingatan ketika dilahirkan, menjadi seorang bayi, hingga berumur satu atau dua tahun, tidak ada satupun yang bisa mengingatnya. Saya pun tidak. Dan kukira, demikian pula dengan dirimu.

Baiklah, mengingat tidak ada satu-pun diantara kita, yang memiliki ingatan pada saat dilahirkan dan pada masa-masa menjadi seorang bayi, tapi bukankah ibu-ibu semua pernah mengalami proses melahirkan, merawat anak-anak dari lahir dan tumbuh. Bagaimana proses mereka berkembang, dan bantuan langsung apa yang kita berikan pada mereka?

Berlompatan jawaban. Hampir serupa. Menyusui, menyuapi, memandikan, menjaga agar anak tidak terhempas ketika mulai memiringkan tubuhnya, tengkurap, merangkak, merambat, dan membimbing untuk belajar berjalan.

”Saya bahkan mencatat seluruh proses perkembangan anak saya,” komentar seorang ibu.

Saya kira seluruh orangtua, utamanya sang ibu, senantiasa memberikan perhatian penuh dan mengamati segenap perkembangan anak(anaknya). Pada proses ini, sesungguhnya anak telah banyak belajar sehingga dapat terus berkembang, dan sang ibu telah menjadi pendidik yang baik dengan kesabaran luar biasa. Bukankah demikian adanya? (bersambung)

_________________

Ilustrasi gambar dari SINI

3 comments on “Dialog Pendidikan Anak: Ketika Kesadaran Terjajah Tanpa Tersadari #1

  1. […] Dialog Pendidikan Anak: Ketika Kesadaran Terjajah Tanpa Tersadari #1 […]

  2. […] Dialog Pendidikan Anak: Ketika Kesadaran Terjajah Tanpa Tersadari #1 […]

  3. […] Dialog Pendidikan Anak: Ketika Kesadaran Terjajah Tanpa Tersadari #1 […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: