Tinggalkan komentar

Cerpen: Hadiah Buat Sumi

Cerpen  :   Odi Shalahuddin

Di dalam kamar sebuah Rumah, ujung selatan kampung Eng, gelap. Seorang laki-laki tergeragap. Bangun dari tidurnya. Ia menguap lebar. Terdengar helaan nafasnya yang berat. Tangannya meraba-raba meja dekat amben. Sekotak korek api teraih tangannya. Ia mengambil satu batang dan menggoreskannya. Wajah kamar terlihat. Matanya memandang sekeliling kamar. Hanya sejenak. Cahaya padam. Ia ambil lagi sebatang dan menggoreskan lagi.

Kakinya mulai turun ke tanah. Dibantu cahaya buram. Ia mendekati salah satu dinding di mana lampu teplok tercantel. Ia lekatkan api dengan sumbu. Kamar yang gelap mulai menampakkan wajahnya meski secara samar.

Matanya memandang ke amben. Sumi masih terbaring. Berkali-kali tubuhnya bergerak tak terarah. Kepalanya sering kali bergoyang seakan melepaskan diri dari sesuatu yang menakutkan.

“Mimpi buruk lagi, dia,” desis lelaki itu.

Lelaki itu menghela nafas. Pikirannya melayang. Perasaannya bergetar. “Bangsat!” desisnya geram.

Tangannya meraba wajah Sumi. Lalu membelai-belai rambut di keningnya. Masih terlihat mata Sumi yang sembab. Lelaki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Sumi. Bibirnya mengecup kening Sumi dengan mesra.

“Tidak seharusnya kau bersedih terus,” bisiknya di telinga Sumi. Lelaki itu tidak perduli apakah Sumi mendengarnya ataukah tidak.

“Kesedihanmu akan terhenti mulai pagi nanti, Sumi,” Lelaki itu berkata pelan sambil berdiri tegap. Perkataan yang diucapkan dengan serius yang muncul dari keinginan terdalam. Lelaki itu meletakkan lampu teplok di atas meja.

“Kesedihanmu akan terhenti mulai pagi nanti, Sumi. Kita akan mulai membuka lembaran baru. Kita akan menjalani kehidupan ini dengan kebahagiaan bersama. Seperti dulu. Atau lebih indah lagi, Sumi. Aku akan hancurkan perusak kebahagiaan kita,” lelaki itu sambil menatap wajah Sumi, sebelum kemudian ia menyelinap ke luar kamar.

* * *

Kampung Eng masih gelap gulita. Sisa air hujan semalam masih terdengar menetes dari genting dan pepohonan. Angin yang lewat menyebarkan hawa dingin. Menusuk. Suara anjing-anjing kampong sesekali menyalak seru.

Terdengar kokokan ayam jantan. Mungkin yang pertama. Memecah keheningan. Bersamaan dengan itu sesosok tubuh kelihatan tergesa menuruni bukit. Kedua tangannya menyilang memegang pundak, menindih sarung yang menutupi tubuhnya. Ia berhenti sebentar. Memandang ke atas, masih sepi. Kembali ia melanjutkan perjalanannya.

Kampung Eng telah lewat. Hanya hamparan sawah yang luas. Sepi. Sosok itu memandang sekeliling. Pikirannya menimbang-nimbang. “Ah, Sumi.”

Diputuskan untuk melalui pematang. Setidaknya jarang orang melewati di pagi buta begini. Ia berjalan dengan hati-hati. Tanah pematang sangat licin, masih basah oleh sisa hujan. Beberapa kali ia tergelincir hamper jatuh. Udara dingin di luar, sedang panas di dalam. Sesekali ia menyumpah dengan cercauan yang tak jelas. “Ah, Sumi… Sumi.. Ah.”

Otak bagaikan melesat menjejaki langkah-langkah perjalanan. Dan mengalirlah film-film masa lalu. Secara otomatis, ia lewat begitu saja bila tidak diinginkan. Sedang satu adegan bisa berulang-ulang tergantung pilihan.

Sumi.. hai kembang desa kampung Eng. Siapa tak berbangga bila mampu meraihnya. Mengalahkan puluhan lelaki dari kampung Eng sendiri, dan kampung-kampung sekitarnya. Keberuntungan yang tak terhingga. Ia merasa mendapat kehormatan luar biasa untuk menapaki hidup. Bersama Sumi.

Gigit jarilah si Sudin anak kepala Kampung. Terpukullah si Sunip anak kepala desa. Terlemparlah si Genot, pegawai bank pasar. Sakit hatilah si Mindun, orang terkaya se kecamatan.Mung tinggal tinggal di kampong Nging.

Biarlah mereka begitu. Buat apa diurus. Demikian pikirnya. Ia pun tak peduli. Hari-hari dilewati dengan kerja keras dan bercumbu dengan Sumi. Hari-hari lewat terus berganti.

Percintaan mereka, terasa semakin lekat ketika pada suatu malam Sumi mengatakan dirinya telah hamil. Wahai, siapa lelaki yang tak berbangga menjadi calon seorang Bapak. Bergembiralah hati lelaki itu. Semangatlah ia bekerja. Mencari peluang kerja tambahan di luar kerja rutin.

Namun, siapa sangka, ketika kehamilan Sumi berjalan tiga bulan, Mindun telah memperkosa Sumi pada suatu malam ketika ia tengah berada di rumah Paiman bersama penduduk kampong yang lain, waktu ada selamatan.

Matanya merah, dadanya bergolak. Sumi yang duduk di lantai sudut kamar terus saja menangis dengan rambut yang berantakan. Di pahanya mengalir darah.

Diambilnya parang, ia bergegas keluar. Ia akan membalas perlakuan Mindun. Mindun, Bangsat Kau! Kau harus Mati!

Namun orang-orang keburu mencegahnya. Mencoba menenangkan dirinya. Memintanya untuk menyelesaikan masalah secara kekeluargaan. Tak perlu ada darah yang tumpah.

“Tapi ini menyangkut harga diri,”

“Tapi juga demi stabilitas kecamatan ini,” kata Pardio, kepala Keamanan Kampung.

Lelaki itu memandang orang-orang di sekelilingnya. Beberapa mata kelihatan keras menghantamnya. Ya, lelaki itu tersadar. Banyak dari penduduk kampung, tergantung kehidupannya pada Mindun. Menggarap sawah-sawahnya yang tersebar luas di kecamatan ini. Lelaki itu mencoba menahan diri. Mencoba mengikuti permintaan mereka.

Geram lelaki itu. Dendam membara. Tuntutan kepada Mindun mengambang begitu saja. Tiga bulan lewat, pihak berwenang selalu mengatakan sedang diproses. Tapi mengapa Mindun bebas berkeliaran? Bahkan dengan bangga menceritakan kepada banyak orang.

Dimana wahai, kau keadilan? Apakah orang kecil tidak berhak? Apakah orang kaya mampu menciptakan keadilan demi kepentingannya sendiri? Oh, harga dirinya terasa semakin terinjak-injak.

Sumi dihantui rasa takut sepanjang perjalanan hidupnya setelah kejadian itu. Ia keguguran. Mimpi-mimpi selalu buruk. Lelaki itu menyimpan dendang teramat sangat. Benih yang ditanam dirusak dengan kekerasan. Hatinya yang luka, berusaha ia tidak tampakkan di depan Sumi. Ia mencoba menghibur Sumi. Agar Sumi tidak larut dalam kedukaannya.

“Kinilah saatnya,” lelaki itu mendesis sambil meraba benda tajam di balik sarungnya.

Pada sebuah Rumah, lelaki itu mengamati keadaan sekitar dengan seksama. Secara perlahan, termat berhati-hati, ia menyelinap masuk.

* * *

“Sumi, Sumi, Sumi…. Bangunlah,” lelaki itu dengan nada riang. “Sumi, lihatlah apa yang kubawa,”

Sumi mengeliat. Perlahan matanya mulai terbuka. Ia segera bangkit, spontan tubuhnya dirapatkan ke dinding. Mulutnya terbuka. Namun tak terdengar suara. Sumi kelihatan takut sekali.

“Sekarang kau bisa bebas, Sumi. Hilangkan kesedihanmu. Kita jalani perjalanan hidup dengan tenang, bahagia, bukankah begitu Sumi? Sumi, kita akan raih kebahagiaan kita. Kita akan bahagia… Mampuslah Kau Mindun…! Ha..ha..ha..ha..” lelaki itu terbahak. Tangannya memegang kepala Mindun yang telah lepas dari tubuhnya. Darah segar masih terus menetes. Lama kemudian, jeritan panjang Sumi pecah. Lelaki itu masih saja terus tertawa.

Yogyakarta, 1995

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: