Tinggalkan komentar

Cerpen: Duka Agus

Cerpen  :  Odi Shalahuddin

Agus melihat nomor rumah yang tertera di pagar depan. Nomor 37. Ia mengeluarkan kertas dari saku bajunya, melihat alamat untuk mencocokkannya. “Benar ini,”. Ia lihat lagi  nomor  rumah itu. Dan ia merasa sangat yakin. Ia melipat kembali kertas tersebut dan memasukkan ke saku baju.

Agus turun dari sepeda dan menyandarkan di tembok pagar dengan hati-hati. Wajahnya basah dengan keringat. Begitu pula pakaiannya terasa lekat. Ia mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya. Lalu mengeringkan keringat di wajahnya.

Sambil menoleh kiri-kanan, merasa yakin tidak ada orang, ia membuka dua kancing baju bagian atas. Ia masukkan tangan yang masih memegang sapu tangan dan melap tubuh sekenanya dengan cepat sambil meniup-niupkan udara dari mulutnya. Ia menoleh kiri-kanan lagi dan merasa lega. Masih tidak ada orang. Setidaknya tidak ada yang menyaksikan apa yang dilakukannya tadi. Ia mengancingkan lagi bajunya.

Sapu tangan ia masukkan kembali ke dalam saku celana. Hidungnya mengendus bagian ketiak. Tidak begitu bau. Wangi parfum milik kakaknya masih ada. Mampu menutupi bau keringat.

Ia memandang rumah itu. Pintu pagar masih tertutup. Pintu rumah juga. Sepi sekali rumah ini.

Ia baru saja hendak melangkah, dadanya tiba-tiba terasa berdebar-debar tak karuan. Kata-kata yang sudah disiapkan sejak beberapa hari yang lalu  seperti pecah menjadi puing-puing  yang tak  terbaca lagi. Ia menjadi sangat gelisah. “Bagaimana  nanti?” keluhnya dalam hati.

Hampir saja ia mengurungkan niatnya. Tangannya yang sudah meraih stang sepeda dilepaskan kembali. “Sudah sampai di sini, percuma untuk pulang,” katanya lagi dalam hati.

Ia amati dirinya sendiri. Sepatu hitam yang tadi disemir mengkilat kini sudah berdebu dan ada goresan tanah. Mungkin kena kotoran  di pedal. Ia membungkuk dan membersihkan dengan tangan. Kotoran tidak hilang justru merata. Tangannya sendiri malah yang ikut-ikutan kotor sekarang.

Kelihatan kerutan di kening Agus. Ia tersenyum. Lalu mengambil sapu tangan yang sudah basah oleh keringat. Ia lebarkan dan menggunakan satu sisi untuk membersihkan tangannya. Setelah itu bagian yang lain ia gunakan untuk membersihkan sepatunya. Ia pandangi dengan seksama sampai merasa yakin tidak ada lagi kotoran berarti di sepatunya.

Kemudian ia perhatikan bajunya. Masih saja lekat dengan tubuh akibat keringat. Ia kibas-kibaskan sebentar. Kemudian ia ratakan bagian yang sedikit kusut dengan tangan.

Merasa yakin barulah ia melangkah. Tapi baru dua langkah, ia ingat akan rambutnya. “Pasti acak-acakan,” Ia keluarkan sisir kecil dari saku belakang. Disisirnya cepat seperti biasa. Bagian tengah ia tarik sedikit. Agak janggal sebenarnya. Entah ia lupa memakai  minyak rambut atau tidak. Bentuknya, bagian tengah terurai, tapi bagian lain mampat.

Sampai di pintu pagar yang tertutup rapat, Agus mencoba mencari kalau-kalau ada tombol bel. Tidak ada. Bingunglah ia. Bagaimana masuk  ke dalam? Bagaimana mengetuk pintu rumah itu? Persoalan masuk sihsesungguhnya gampang. Tinggal memasukkan satu tangan ke dalam, mengangkat besi panjang, lalu  didorong, maka pintu pagar akan segera terbuka. Tapi, ia baru pertama kali datang, agak ragu untuk melakukannya. Iya, kalau benar?

Keragu-raguan kembali hinggap di hatinya. Agak lama ia tercenung. Ia berharap ada orang yang keluar dari rumah itu. Pembantu misalnya. Atau ada salah satu penghuni yang sedang pergi, kembali ke rumah  ini. Atau ada tamu yang sudah terbiasa  datang. Atau apalah. Yang penting ia bisa nunut masuk tanpa perlu ragu.

Lama Agus tercenung. Pikirannya melayang-layang. “Adakah ia?” ucapnya dalam hati. Sesosok wajah hadir. Sosok gadis bertubuh mungil dengan rambut pendek yang selalu mengenakan celana panjang. Wajahnya bulat, dengan sorot mata yang bening. Alisnya lentik. Ada lesung pipit pula. Kulitnya  kuning langsat.  Ah, dialah yang telah menggeleparkan diri Agus. Yang selalu bermain di dalam kepala dan khayalan sepanjang waktu.

Agus mengenalnya lantaran gadis itu  sering berkunjung ke desanya di pelosok selatan kota Yogya. Di sebuah perbukitan. Gadis itu sangat baik kepadanya. Oh, tidak! Gadis itu sangat baik kepada warga desanya. Terutama anak-anak yang dibimbingnya untuk menggambar, mengarang, menyanyi dan rekreasi. Tapi Agus merasakan perhatian gadis itu berlebih dibanding dengan yang lainnya. Tidak heran bila selama ini Agus selalu giat membantu gadis itu. Dari memotong kertas, mengumpulkan anak-anak sampai memboncengkan Heni dengan sepeda ke jalan raya bila ingin pulang.

Heni namanya. Dan Agus telah berdiri di depan rumahnya sekarang. Setidaknya di depan rumah dari alamat yang diberikan kepadanya. Agus telah memutuskan untuk datang ke rumahnya setelah menimbang-nimbang selama  satu minggu lebih. Ini lantaran Heni tidak datang lagi ke desanya sekitar dua bulan lebih. Agus merasa tersiksa. Ia merasakan rindu teramat sangat. Suaranya yang merdu. Senyumannya yang manis. Gayanya yang membuat gemas.  Dan…pokoknya semua yang melekat dalam diri Heni dirindukannya. Beruntung ia masih menyimpan alamat Heni.

Agus benar-benar mempersiapkan diri dengan matang. Penampilan harus meyakinkan, minimal tidak membuat malu  Heni di depan keluarganya. Ia segera membeli sepatu baru, menjahitkan bahan baju yang dimilikinya, membeli semir sepatu, menyemprotkan parfum kakaknya tanpa bilang-bilang.

Dan pada pukul 14.30, ia mulai meninggalkan rumahnya, mengayuh sepeda menuju utara tanpa menghiraukan sengat matahari yang masih belum bersahabat. Satu setengah jam kemudian barulah ia sampai di sini.

Sekitar setengah jam sudah berlalu. Agus masih saja tercenung di  depan rumah Heni. Orang-orang yang lewat hanya memandangnya heran. Tapi tidak perduli lagi. Ngapain capek-cepek ngurus orang.

Mencari siapa, Mas?” seseorang telah berdiri di balik pagar. Agus tersentak dan buyarlah lamunannya.

“Eh, he, sa-saya. Eh, he, benarkah ini rumah Heni, Bu?”

“Heni? Heni, siapa, ya, Mas?” ibu di balik  pagar  itu bertanya.

“Heni….”  Agus mengeluarkan kertas di sakunya, membuka lipatan dan membaca sebentar. “Heni Kusumastuti, Bu,”

“Heni Ku…Ku, siapa, Mas?”

“Heni Kusumastuti, Bu,”

“Heni Kusumastuti. Siapa, ya? Eh, tidak  ada yang bernama seperti itu di sini. Anaknya Bu Maya, tidak ada yang  memiliki nama Heni. Ada juga yang namanya Reni,”

Agus kelihatan tertegun. Dadanya terasa berat. “Eh, apakah Reni rambutnya pendek dan selalu memakai celana panjang, Bu?”

“Oh, Reni itu rambutnya panjang. Dia itu perempuan tulen. Selalu memakai rok atau pakaian terusan,”

“Oh,” Agus kelihatan sedih sekali. Ia merasa terpukul sekali dan merasa ditipu oleh Heni. Alamat yang diberikan adalah alamat palsu. Diremasnya kertas itu dan dibuang ke  jalan. Ingin ia menangis dan menjerit.  Di dalam hatinya merutuki Heni.  ”Ya, sudah, Bu. Maaf, Bu, sudah mengganggu,”

Dengan lunglai Agus mengambil sepedanya. Mengangguk kepada ibu  itu, menuntun sepedanya beberapa meter, lalu menaikinya. Senja terasa suram.

Sekitar seratus  meter Agus telah meninggalkan rumah itu,

seorang gadis mungil keluar dari rumah. “Siapa itu tadi, Mbok?” tanyanya.

Ibu yang masih berada di dekat pagar, menoleh dan  memandang keponakan ibu Maya. “Oh, Jeng Uti. Itu, ada orang  kesasar. Ia mencari Heni Kusumastuti. Kasihan, kelihatannya dari jauh,”

“Mbok!  Heni Kusumastuti, kan, saya Mbok,”  gadis itu setengah menjerit.

Ibu itu  kelihatan bengong dan  hatinya merasa bersalah. “Oalah, jadi nama Jeng Uti itu Heni Kusumastuti,tho,”.

“Ah, Mbok, kok lupa. Kemana tadi orangnya, Mbok?”

“Ke selatan,”

Gadis itu setengah berlari, membuka pagar, memandang  ke selatan. Sayang, Agus sudah tidak tampak lagi. Sudah pergi menyeret dukanya.

Imogiri,  15 Juli 1995

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: