Tinggalkan komentar

Cerpen: Dua Perempuan

Cerpen : Odi Shalahuddin

Dua perempuan, usianya sekitar empat puluh tahunan, duduk beralaskan tikar pandan yang telah lusuh di bagian kiri taman kota. Di depannya gerobak makanan yang ditunggui oleh  seorang laki-laki yang rambutnya telah memutih. Dua orang pemuda tengah menikmati teh panas, duduk di bangku panjang depan gerobak. Berhadapan dengan dua perempuan itu. Sesekali dua pemuda  melihat ke arah dua perempuan, lalu saling berpandangan, melontarkan kata dengan  berbisik, saling lempar seraya tertawa. Kedua perempuan itu  tak perduli. Mata mereka liar kemana-mana namun tatapan kosong belaka.  

Kedua pemuda itu lalu pergi, setelah membayar jajanannya. Masih terdengar tawa mereka terbahak dan kata-kata saling lempar.

Bulan menampakkan dirinya secara utuh. Ratusan burung gereja meringkuk menempel pada bangunan tua di tepi taman. Desir angin lembut menerpa orang-orang di jalan. Satu perempuan memandangi sekeliling taman. Memandangi lampu-lampu megah yang berjajar di taman, pohon-pohon yang berjejer rapi, tanaman yang dibentuk menggambarkan lambang kota ini beserta slogannya, air mancur di tengah taman yang di sekelilingnya diduduki pasangan-pasangan muda yang mencoba menggoreskan kenangan dalam catatan  hidupnya. Lalu ia mendesah.

“Kenapa Ti?” tanya kawannya.

Gelengan kepala jawabnya.

Waktu terus merambat dengan pasti. Di depan taman, jalan raya Utama tepat tengah kota. Terlampau banyak kendaraan dan orang-orang hilir mudik. Suara kendaraan, terutama kendaraan roda dua seringkali tidak memunculkan irama yang menyenangkan. Biasalah, anak-anak muda yang bergaya melepaskan ekspresi dirinya dengan memain-mainkan gas secara berkelompok, melarikan kendaraannya dengan kencang, ber zig-zag diantara riuh kendaraan. Suara yang memekakkan telinga. Suara makian dari penyebrang jalan sering terdengar sampai ke taman.

“Waktu terasa cepat berlalu ya, Nah?”

“Hm,”

“Dulu tidak terbayang perubahan macan begini, ya..,”

“Hm,”

“Nah,kau ingat tempat yang kita duduki ini?” Ti tiba-tiba dengan melontarkan senyuman

“Hm, maksudmu?”

Ti masih saja tersenyum-senyum.

“Kenapa sih Ti?”

Ti tertawa kecil. “Pura-pura lupa atau pura-pura?

Nah mencoba menebak apa yang dimaksud Ti. Ia ikut-ikutan tersenyum, menjerit pelan, lalu mencubit pinggang Ti. Ti menjerit sambil tertawa-tawa.

“Kau ini!”, sungut Nah.

Keduanya tersenyum-senyum aneh.

“Kamu loh yang paling akrab,”

“Ya, samalah. Semua menggunakannya,”

“Kamu kan primadonanya,”

Keduanya kembali tersenyum.

Sebuah sepeda motor berhenti. Dua penumpangnya turun. satu  berbadan gemuk, mukanya bulat, rambutnya cepak,  matanya kecil, dan kumis tebal serta dagunya ditumbuhi rambut yang lebat, di pipinya ada goresan bekas luka. Yang satu lagi agak kurus dan tinggi, rambut lurus dan panjang, di telinganya tergantung anting-anting. Celana jeans yang dikenakan sudah robek-robek. Keduanya menggunakan jaket kulit warna hitam.

“Wah, bosan aku, tiap ke sini, ya kok ada kamu berdua. Masih lengket saja bertahun-tahun,” kata si gemuk sambil terkekeh-kekeh. “Kopi satu Pak Tris…Kau?”

“Kopi jugalah,” sahut temannya.

“Hei, Ti, Nah… Di sini sama saja nunggu hantu. Gak akan muncul. Cari yang gelap atau remang-remang dong,” kata si gemuk bercanda.

Ti dan Nah tersenyum menanggapi.

“Hei Ti, ini orang pernah belum bayar loh sama kamu,”

Si gemuk tertawa-tawa.

“Nah, Nah, mulutmu itu loh,” kata si gemuk, sambil meraih tahu goreng dan langsung menggigit separonya. “Hei, Ti, hati-hati lho. Lama-lama kamu yang diterkam,”

Mereka terbahak. Pak Tris memberikan pesanan kopi kepada kedua orang itu.

“Kalau Pak Tris, mati urip ya di sini. Tapi semakin banyak yang membutuhkan,”

Si Gemuk bermaksud bercanda. Tapi itu membuat Ti dan Nah merasa sesak. Iya, Pak Tris semakin jelas. Semakin ramai tempat ini, warung Pak Tris menjadi pilihan untuk menikmati suasana taman kota dengan biaya murah. Sedangkan untuk orang seperti Ti dan Nah?

Usia semakin menua, taman ini semakin terbuka dengan gemerlap lampu-lampunya, tiada ruang lagi untuk bercinta.

Selesai menghirup kopi di gelas yang masih tersisa setengahnya, si gemuk pamit kepada mereka.

“Kok cepat,” tanya Ti.

“Cuma mampir. Ada janjian sama orang,”

“Tinggalannya,” pinta si Ti.

“Sama Pak Tris, ambil aja kembaliannya, ya” Si Gemuk mengeluarkan uang lima puluh ribuan dan memberikan kepada Pak Tris. Tidak lebih dari sepuluh ribu makanan dan minuman yang dihabiskan.

“Makasih, besok kesini lagi,”

Lelaki  itu terbahak. “Sudah semakin tua, semakin sadarlah. Aku sekarang orang baik-baik, loh. Soal minum, masih, yang lainnya, stop” kata si Gemuk sambil melambaikan tangan dan menuju motornya yang terparkir dekat.

* * *

Malam semakin  bangkit, angin dingin memainkan perasaan. Waktu tak bisa ditahan untuk terus merambat. Jalanan  mulai sepi dari kendaraan lewat. Kedua perempuan itu membaringkan diri di atas tikar yang digelar di conblox trotoar. Pandangan ke atas, hamparan langit terasa indah. Bulan dan bintang-bintang gemerlap. Sesekali bintang jatuh melesat cepat.

“Kalau malam begini, enaknya mengenang yang dulu-dulu ya, Ti,” Nah, memecah kebisuan.

“Biarlah lewat. Hari ini dan besok bagaimana, itu yang penting Nah,”

Diam lagi.

“Tapi mengkhayal kan tidak apa-apa?” Nah sambil memejamkan matanya.

Keduanya menikmati helaan nafas masing-masing. Pikiran kedua perempuan itu melayang bagaikan layangan putus. Diterbangkan angin menuju entah kemana. Dan mereka sangat menikmati pengembaraan ini. Hiburan yang masih dimiliki adalah imajinasi dan mimpi. Biarkan mengembara bebas menembus segala batas. Walau nanti terhadang kenyataan jua.

“Kita semakin tua, ya Ti,”

“Tidak usah dipikir,”

“Untung ada Pak Tris. Masih bisa makan,”

Kemudian diam lagi. Jalan semakin sepi Hanya sesekali orang-orang lewat. Para tukang becak banyak yang sudah terdengar dengkurannya. Sirine aparat keamanan berbunyi memcah kesunyian. Dua perempuan itu masih saja terbaring di atas tikar. Sesekali terdengar desahan nafas.

Sedangkan Pak Tris mulai berbenah.

Yogyakarta, 1995

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: