1 Komentar

Catatan-catatan Atas Peringatan Hari Anak Nasional 2011

Catatan: Hari Anak Nasional di Indonesia yang ditetapkan pada tanggal 23 Juli  (dikaitkan dengan penetapan Undang-undang Kesejahteraan Anak) dirayakan dengan menggelar berbagai acara tentang dan bersama anak setiap tahun oleh pemerintah di tingkat nasional hingga tingkat kota/kabupaten, juga dirayakan oleh berbagai organisasi masyarakat sipil. Di Tingkat nasional, sejak tahun 2001, pada setiap puncak peringatan di tingkat nasional yang dihadiri oleh presiden dan pejabat tinggi negeri ini, ada agenda pembacaan “Suara anak Indonesia” yang dilahirkan dari Kongres Anak Indonesia yang biasa dilakukan sebelum tanggal 23 Juli. Tapi pada tahun 2010, ketika wakil anak yang siap membacakan deklarasi sudah berada di tempat acara, agenda tersebut dihapus dengan alasan tidak tersedia waktu. Pengulangan terjadi lagi pada tahun 2011 tentang penghapusan agenda pembacaan “Suara Anak Indonesia” sehingga menimbulkan reaksi dari anak-anak dan penyelenggara Kongres Anak Indonesia. Memang kita patut prihatin, bahwa aspirasi dan partisipasi anak yang mulai ditumbuhkan dan diberi ruang, justru dihapus dalam acara yang selayaknya dinikmati oleh anak-anak Indonesia dan dilakukan oleh pemimpin negeri ini.  Saya sendiri membuat beberapa tulisan seputar hal tersebut yang terposting di bawah ini.

Salam

Odi Shalahuddin

________________________________________

Protes, Anak Tidak Akan Hadir dalam Peringan HAN Nasional

Peserta Kongres Anak Indonesia ke X telah memutuskan untuk tidak mengirimkan wakilnya untuk menghadiri Peringatan Hari Anak Nasional yang akan dilangsungkan besok (23/7) yang akan dipusatkan di Ancol, Jakarta. Sikap ini merupakan respon atas kekecewaan mereka terhadap keputusan Panitia Nasional yang tidak memasukkan jadwal pembacaan dokumen Suara Anak Indonesia (SAI) yang dihasilkan dalam kongres.

Sebagai gantinya, mereka akan menyelenggarakan acara sendiri yang dilakukan secara paralel dengan melibatkan ribuan anak-anak lainnya untuk memperingati Hari Anak Nasional sekaligus membacakan Suara Anak Indonesia, di Bandung, Jawa Barat.

Tradisi membacakan dokumen SAI di hadapan Presiden saat peringatan Hari Anak Nasional telah dimulai sejak tahun 2001 saat dilangsungkannya Kongres Anak Indonesia Pertama.

Tradisi yang terus berlangsung, tiba-tiba dipatahkan pada tahun 2010. Menjelang acara, agenda pembacaan SAI tiba-tiba dihapus dari agenda dengan alasan tidak tersedia waktu karena jadwal yang padat. Konon ini adalah perintah dari istana. Dua anak wakil dari peserta Kongres yang siap membacakan SAI sangat kecewa. Sama kecewanya dengan peserta Kongres yang masih melangsungkan acaranya di Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka-Belitung.

Sontak, peristiwa ini menimbulkan reaksi keras dari para aktivis anak yang disebut sebagai “Hari Duka Nasional Anak Indonesia’. Kedukaan ini bertambah lagi dengan insiden penoyoran terhadap seorang anak yang dilakukan oleh orang yang diduga sebagai Paspamres. Peristiwa ini menjadi perhatian dari media nasional. (tentang ini saya menulis di SINI)

Hilangnya agenda pembacaan Suara Anak Indonesia yang terulang pada tahun ini sehingga menimbulkan reaksi mereka untuk tidak hadir, bisa dikatakan sebagai sikap protes anak-anak terhadap presiden. Masalah anak walaupun di dalam peringatan Hari Anak Nasional, suara-suara mereka tidak dianggap penting untuk didengarkan. Maka tidak berlebihan apabila hal ini menimbulkan keyakinan pada diri anak-anak bahwa pemerintah memang tidak menunjukkan kesungguhan untuk merespon berbagai masalah yang membelit anak-anak dalam berbagai kebijakan dan program-program mereka.

Arist Merdeka Sirait, selaku Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), ketika dihubungi melalui telpon, tidak bisa menyembunyikan rasa kekecewaannya yang mendalam. “Hak anak untuk berserikat, berkumpul dan menyampaikan pendapat, ini sudah diberangus oleh Negara. Alasan karena keterbatasan waktu, merupakan alasan yang tidak bisa diterima. Saya sangat kecewa sekali. Demikian juga anak-anak”

Mengenai rencana penyelenggaraan peringatan Hari Anak Nasional yang akan dilakukan secara paralel, Aris menyatakan, “Ini bisa dikatakan sebagai sikap dari anak atas ketidakpercayaan mereka terhadap para pemimpin nasional. Menyampaikan pandangan untuk didengarkan merupakan hak substansial dalam hak anak. Kalau tidak mau mendengar, bagaiamana kita yakin anak-anak akan didengar dan dilibatkan dalam berbagai persoalan yang menyangkut kehidupan mereka sehari-hari,”

Jadi, seperti sinetron politik yang tengah berlangsung di Indonesia dengan kisah yang tak berkesudahan, Peringatan Hari Anak Nasional tahun 2011 bisa dikatakan sebagai kisah sinetron tersendiri yang telah kehilangan esensinya lantaran menghilangkan agenda untuk mendengarkan suara-suara anak yang telah dirumuskan oleh peserta Kongres Anak Indonesia yang dihadiri oleh 330 peserta dari seluruh propinsi di Indonesia yang berlangsung sejak tanggal 18 Juli dan masih berlangsung hingga saat ini, di Gedung Merdeka, Bandung, Jawa Barat.

Yogyakarta, 22 Juli 2011

____________________________

Suara Anak Indonesia yang Dibungkam di Hari Anak Nasional

Diadopsinya Konvensi Hak Anak (KHA), merupakan perubahan radikal dalam memandang anak. Anak yang semula dipandang sebagai sosok yang layak dilindungi dan dikasihani sehingga pendekatannya bersifat karitatif telah berubah menjadi sosok manusia yang memiliki hak-hak tertentu.

Salah satu ketentuan yang pada awalnya melahirkan berbagai perdebatan dalam kaitan dengan hak anak adalah apa yang disebut sebagai penghargaan terhadap pandangan anak. Para aktivis hak anak sering menyebutnya sebagai partisipasi anak. Ini merupakan salah satu dari empat prinsip dasar hak anak. Prinsip dasar lainnya adalah; non-diskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak, dan hak hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan.

Terkait dengan prinsip dasar penghargaan terhadap pandangan anak, ketentuannya bisa kita lihat pada pasal 12 dari KHA, yaitu:.

1. Negara-negara Peserta akan menjamin anak-anak yang mampu mengembangkan pandangan-pandangannya, hak untuk menyatakan pandangan itu secara bebas dalam segala hal yang berpengaruh pada anak, dan pandangan anak akan dipertimbangkan secara semestinya sesuai usia dan kematangan anak.

2. Untuk tujuan ini, anak akan diberi kesempatan khusus untuk didengar dalam tata laksana hukum dan administratif yang bersangkutan dengan diri si anak, baik secara langsung, atau melalui seorang wakil atau badan yang memadai, dalam suatu cara yang sesuai dengan hukum acara pada perundang-undangan nasional.

Berbeda dengan orang dewasa menyangkut Hak Asasi Manusia, Hak Asasi Anak yang tidak dimiliki salah satunya adalah hak politik. Hak partisipasi ini dianggap sebagai satu pengganti dari hak politik. Anak tetap bisa berperan sesuai usia dan kematangannya untuk terlibat atau dilibatkan dalam segala hal yang berpengaruh terhadap kehidupan anak. Pada konteks ini, maka pertanyaan kunci yang layak diajukan, apa saja dalam kehidupan ini yang tidak berpengaruh terhadap kehidupan anak-anak?

Pada tahun 2002, pada spesial Session ke 27 dalam Sidang Majelis Umum PBB mengenai Special Session on Children, untuk pertama kalinya anak-anak dilibatkan dalam pertemuan internasional ini. Sekitar 400 anak dari seluruh dunia dihadirkan, untuk mendiskusikan masalah-masalah dan harapan-harapan mereka. Hasil diskusi dirumuskan dalam sebuah pernyataan “Dunia yang Layak bagi Anak” yang dibacakan oleh Gabriela Azurduy Arreta dari Bolivia dan Audrey Chenynut dari Monaco yang mewakili delegasi anak pada pembukaan Sidang Umum Perserikatan Bangsa-bangsa Special Session untuk anak, 8 Mei 2002.

Kofi Annan, selaku sekretaris Jendral PBB pada masa itu dalam pidato pembukaan menyatakan ”Anak-anak dalam ruangan ini adalah saksi hidup dari setiap kata yang kita ucapkan.”

Berdasarkan hasil Sidang Umum PBB tersebut, Indonesia telah mengadopsinya ke dalam kebijakan mengenai Program Nasional bagi Anak Indonesia (PNBAI) 2015.

Berkegiatan bersama anak-anak di Dompol, 30 Oktober 2010

Berawal dari itu, berbagai pertemuan internasional yang dilaksanakan oleh PBB atau lembaga-lembaga internasional lainnya, selalu melibatkan anak-anak dengan menyelenggarakan acara khusus untuk anak dan memberi kesempatan untuk mendengarkan aspirasi anak-anak sebagai salah satu bahan utama yang layak untuk dipertimbangkan di dalam mengambil keputusan ataupun perencanaan suatu program yang berpengaruh terhadap kehidupan anak.

Mengingat partisipasi anak bukan semata-mata menghadirkan anak saja, melainkan bagaimana bisa terbangun partisipasi yang bermakna, maka telah dikembangkan berbagai instrumen dan metode untuk mencapai partisipasi tersebut. Ini untuk menghindari terjadinya manipulasi, dekorasi ataupun tokenisme. Berbagai lembaga internasional yang bekerja untuk isu anak juga telah mengembangkan standar minimal bagi berlangsungnya konsultasi-konsultasi anak.

Partisipasi anak juga telah diakui dalam peraturan perundangan di Indonesia seperti dalam Undang-undang Perlindungan Anak (lihat pasal 2 dan pasal 10). Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan RI juga telah menyusun dokumen kebijakan mengenai Konsep dan Pengertian Pengarusutamaan Hak Anak. Beberapa kebijakan juga dilahirkan dengan mempertimbangkan masukan-masukan dari anak. Sebagai misal, ketika saya terlibat sebagai asisten fasilitator dalam penyusunan Rencana Aksi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial terhadap Anak (RAN PESKA) yang kemudian disahkan melalui Keputusan Presiden Nomor 87 tahun 2002, workshop-workshop yang dilangsungkan di tingkat daerah dan nasional, dilakukan secara paralel dengan workshop yang diikuti oleh perwakilan anak. Beberapa tahun terakhir, Musyawarah Rencana Pembangunan dari tingkat desa hingga tingkat kabupaten, di beberapa wilayah juga telah memberi ruang bagi perwakilan anak sebagai peserta untuk menyampaikan aspirasinya, yang biasanya telah mereka rumuskan terlebih dahulu melalui konsultasi-konsultasi anak.

Hari ini, tanggal 23 Juli. Indonesia biasanya memperingati apa yang disebut sebagai Hari Anak Nasional. Hal yang digagas oleh mantan Presiden RI, Soeharto, melalui keputusan Presiden RI No. 44 tahun 1984. Di luar sikap dari sebagian aktivis hak anak yang menolak merayakan HAN karena tanggal tersebut dinilai terkait dengan hari kelahiran Bambang Triadmojo, putra Soeharto, dan dinilai tidak ada sejarah yang bermakna bagi penetapan tanggal tersebut, Peringatan HAN tetap dilangsungkan setiap tahunnya hingga saat ini.

Biasanya, peringatan Hari Anak Nasional secara resmi akan dilakukan di tingkat nasional, propinsi yang diikuti pemerintah kota/kabupaten. Di tingkat nasional, sejak tahun 2001 ada warna baru yang menyertai peringatan HAN. Pada tahun tersebut, untuk pertama kalinya dilangsungkan Kongres Anak Indonesia yang biasanya diselenggarakan sebelum tanggal 23 dan berakhir setelah tanggal 23, yang diikuti oleh perwakilan anak dari seluruh propinsi yang ada. Pada peringatan HAN, akan dikirim wakil untuk membacakan hasil rumusan dari serangkaian diskusi yang dilangsungkan yang disebut dengan “Suara Anak Indonesia”. Sejak itu, menjadi tradisi dalam peringatan HAN, ada pembacaan Suara Anak Indonesia yang dibacakan oleh wakil anak peserta kongres di hadapan presiden.

Namun, pada tahun 2010, menjelang acara, ketika wakil anak telah bersiap di lokasi acara, disampaikan bahwa pembacaan SAI dihapus dari jadwal yang konon dilakukan atas perintah dari istana, dengan alasan tidak tersedia waktu. Padahal waktu pembacaan sekitar lima menit. Kekecewaan mendalam bagi anak-anak peserta Kongres, juga bagi anak-anak Indonesia secara umum, ketika aspirasi mereka yang hendak disampaikan kepada presiden, dihilangkan. Alasan jadwal yang padat dan tidak adanya waktu, merupakan alasan yang terlalu mengada-ada mengingat substansi dari pembacaan SAI adalah anak-anak menyampaikan aspirasinya kepada pemimpin nasional dalam hal ini presiden. Hal mana biasa dilakukan pula di tingkat kota/kabupaten dan propinsi, ketika hasil konsultasi mereka disampaikan kepada Bupati/Walikota dan Gubernur. Bukanlah hal aneh, bila para aktivis dan pemerhati anak menyatakan sebagai “Tragedi Nasional bagi Anak Indonesia”

Kini, pada tahun 2011, pada peringatan HAN di tingkat nasional, peristiwa yang sama terulang kembali. Hanya saja, sejak awal penyusunan agenda, pembacaan Suara Anak Indonesia memang sudah tidak dimasukkan kembali.

Oleh karena itu, para peserta kongres telah mengambil sikap tidak mengirimkan wakilnya untuk menghadiri acara peringatan HAN di tingkat nasional, tetapi menyelenggarakan acara sendiri dengan melibatkan ribuan anak lainnya yang dipusatkan di Bandung Jawa Barat, yang rencananya dilangsungkan pada hari ini.

Lantas, apabila para penguasa negeri ini tidak mau lagi mendengar suara anak-anak yang sesungguhnya menjadi hak anak yang telah menjadi ketentuan dalam instrumen internasional dan juga diatur didalam berbagai peraturan perundangan di Indonesia, maka ini sungguh menyedihkan. Para penguasa negeri di tingkat nasional sudah menunjukkan sikap “alergi” terhadap aspirasi anak. Ini tentu saja bukan contoh yang baik. Bagaimana anak-anak bisa percaya lagi terhadap para pemimpin negeri?

Saya sendiri, dalam perbincangan melalui telpon dengan seorang sahabat, Arist merdeka Sirait yang kini menjadi Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak), dapat merasakan kekecewaan dan kemarahannya atas peristiwa ini. “Negara telah membungkam suara anak!

Yogyakarta, 23 Juli 2011

 ___________________________________________

Tujuh Butir Suara Anak Indonesia

Akhirnya, para peserta Kongres Anak Indonesia ke X  yang berlangsung pada tanggal 18-24 Juli di gedung Merdeka, Bandung, Jawa Barat, menyelenggarakan acara sendiri untuk memperingati Hari Anak Nasional.

Hasil rumusan dari serangkaian diskusi yang berlangsung selama kongres telah disusun menjadi “Suara Anak Indonesia” dan dibacakan oleh dua duta anak 2011, yaitu: Rizky Aulia dari Jambi dan Kurdiyan dari Lampung.

Sebagaimana diberitakan oleh Kompas.com, ada tujuh butir yang mereka bacakan, yaitu:.

1. Kami anak Indonesia, meminta kepada pemerintah dan seluruh elemen masyarakat untuk memberikan ruang kepada anak agar dapat berpartisipasi dan menyampaikan pendapatnya, menyangkut diri dan kepentingan anak.

2. Kami anak Indonesia, meminta penyediaan Sekretariat Nasional Kongres Anak Indonesia yang dapat menjadi tempat komunikasi dan rumah bersama bagi anak-anak Indonesia.

3. Kami anak Indonesia, menyadari akan pentingnya kesehatan, oleh karena itu, kami meminta kepada pemerintah untuk membebaskan biaya kesehatan bagi seluruh anak Indonesia tanpa diskriminasi.

4. Kami anak Indonesia, bertekad menjauhi segala bentuk zat adiktif termasuk minuman keras, narkoba, dan rokok, serta memohon kepada masing-masing pemerintah daerah untuk membuat kawasan rokok di setiap tempat aktivitas anak. Menaikkan harga rokok, membuat peringatan kesehatan bergambar pada bungkus rokok serta melarang iklan rokok sama dengan minuman keras.

5. Kami anak Indonesia, menyuarakan kepada pemerintah untuk memberikan perlindungan secara khusus dan maksimal kepada anak-anak yang menjadi korban eksploitasi, kekerasan dan penelantaran.

6. Kami anak Indonesia, memohon kepada pemerintsh untuk meningkatkan kuantitas, kualitas, dan fasilitas pendidikan yang merata di seluruh Indonesia serta menolak pendiskrimasian sekolah dengan adanya program sekolah Standar Nasional (SSN), Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI)m Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) baik negeri maupun swasta.

7. Kami anak Indonesia, meminta kepada pemerintah untuk memenuhi pemerataan fasilitas teknologi informasi sampai ke daerah terpencil dan daerah terisolir agar terwujud kemerataan informasi bagi anak Indonesia.

Pembacaan berlangsung kurang dari lima menit. Jadi, memang terlalu mengada-ngada dan menunjukkan pemerintah tidak memiliki perhatian terhadap anak-anak Indonesia, bila agenda pembacaan Suara Anak Indonesia ini dihilangkan dari agenda Peringatan Hari Anak Nasional di tingkat Nasional. Suara Anak Indonesia, biasanya dibacakan di depan presiden yang berlangsung sejak  Kongres Anak Nasional Pertama di tahun 2001. Tapi sejak tahun 2010, agenda tersebut telah dihapus oleh Panitia Nasional.

Apakah aspirasi anak memang tidak layak didengar, wahai presiden?

Yogyakarta, 23 Juli 2011

______________________________________________

Nuansa Anak di Hari Anak di Kompasiana

Hari Anak Nasional (HAN), walaupun secara jujur saya dan kawan-kawan tidak pernah memperingatinya, dan lebih cenderung memperingati Hari Anak Internasional, lantaran sejarah penetapan HAN yang tidak jelas. HAN yang digagas oleh Soeharto dan ditetapkan melalui Keputusan Presiden No. 44 tahun 1984, entah kebetulan atau kesengajaan, merupakan tanggal lahir dari Bambang Triadmojo yang merupakan putra Soeharto. Seorang kompasianer juga menurunkan tulisan mengenai hal ini dan mempertanyakan apakah HAN masih penting (lihat di SINI)

Namun, perhatian terhadap HAN, baru saya mulai pada tahun 2010 ketika tiba-tiba merasa geram atas tindakan Panitia Nasional yang menghapus agenda Pembacaan Suara Anak Indonesia yang dirumuskan berdasarkan hasil Kongres Anak Indonesia ke IX yang dilangsungkan di Pangkal Pinang, provinsi Bangka-Belitung. Pembatalan yang konon atas perintah dari istana hanya beberapa menit menjelang acara dimulai, dengan alasan tidak ada waktu. Kegeraman ini kemudian saya tuangkan ke dalam tulisan, dan untuk pertama-kalinya saya memposting di kompasiana (lihat di SINI) yang kemudian membuat saya mencandu untuk terus memposting tulisan.

Pada tahun ini, kenyataannya lebih memprihatinkan. Agenda pembacaan Suara Anak Indonesia, benar-benar ditiadakan. Alasannyapun sama, alasan keterbatasan waktu. Padahal pembacaan tidak akan lebih dari lima menit. Hanya, para peserta Kongres Anak ke X yang berlangsung di Bandung pada tanggal 18-24 Juli 2011 lebih punya keberanian untuk bersikap dan memutuskan untuk tidak mengirim wakilnya pada acara Peringatan HAN di tingkat nasional.

Kegegeran lain, presiden-pun memilih membuka Rakornas Partai Demokrat dan mengalahkan kepentingan anak-anak Indonesia.

Pada hari ini, saya sungguh senang melihat para kompasianer banyak menulis seputar persoalan anak-anak sebagai perhatian terhadap anak-anak di Hari Anak Nasional. Namun hingga pukul 18.54, saya melihat admin tidak terlalu antusias menyambut tulisan-tulisan tersebut. Sehingga dalam menanggapi komentar, saya sempat melontarkan kekecewaan terhadap kompasiana, seperti di bawah ini:

Namun kekecewaan ini terobati, ketika sekitar pukul 22.30, saya melihat bahwa tulisan yang berkaitan dengan Hari Anak Nasional mendominasi Headline. Prasangka saya salah. Kompasiana tetap memberikan perhatian terhadap persoalan anak-anak. Bravo admin…

Selamat Hari Anak Nasional

Salam

Yogyakarta, 23 Juli 2011

Iklan

One comment on “Catatan-catatan Atas Peringatan Hari Anak Nasional 2011

  1. […] Hal serupa terjadi lagi pada tahun 2011. Agenda pembacaan “Suara Anak Indonesia” kembali dihilangkan dari agenda peringatan HAN. Panitia dan peserta Kongres Anak Indonesia yang mendengar informasi tersebut memberikan pernyataan untuk tidak hadir dalam Peringatan HAN dan merayakan sendiri di lokasi kongres yang berlangsung di Bandung. (Serangkaian postingan saya mengenai hal ini dapat dilihat di SINI) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: