Tinggalkan komentar

Ancaman Terhadap Anak Memang Nyata

ANCAMAN TERHADAP ANAK MEMANG NYATA

Odi Shalahuddin

Para pelajar di Semarang yang tergabung dalam Forum Anak Anti ESKA (Eksploitasi Seksual Komersial terhadap Anak) mengadakan workshop untuk penulisan mengenai situasi ESKA di Semarang. Acara berlangsung di Bandungan, 27-29 Mei 2011.

Santai tapi serius saling berbagi dan belajar

Selama ini, mereka aktif melakukan diseminasi persoalan ESKA, yang terdiri dari tiga bentuk, yaitu prostitusi anak, pornografi anak dan perdagangan anak untuk tujuan seksual) ke berbagai kelompok anak di berbagai kampung dan sekolah-sekolah, juga menerbitkan buletin yang terbit setiap empat bulan sekali.

Pada tiga bulan terakhir, mereka melakukan investigasi dan berupaya melakukan wawancara dengan anak-anak yang telah menjadi korban.

Delapan anak yang mengikuti acara workshop ini secara bergantian menceritakan pengalamannya. Menyimak kisah-kisah yang dilontarkan memang membuat sesak nafas.

Seorang anak perempuan berumur 14 tahun, sebut sajalah namanya Melati, yang kabur dari rumahnya di salah satu kota di Jawa Tengah. Ia tiba di Semarang dan bermaksud untuk menjumpai kakaknya yang bekerja di SK. Ia tidak tahu apa itu ESKA. Ia bertemu dengan seorang anak jalanan yang menjanjikan akan mengantarkannya. Tapi anak jalanan ini mengulur-ulur waktu. Singkat cerita akhirnya mereka berpacaran dan beberapa kali melakukan hubungan seksual.

Nasib buruk menghampiri dirinya. Keberadaan anak perempuan baru di salah satu tempat mangkal anak jalanan menarik perhatian para preman yang berada di sekitarnya.  Atas ijin sang pacar (pasti terpaksa) mereka mengajak perempuan itu dan dipaksa untuk melayani banyak orang. Di Semarang untuk istilah ini dikenal dengan istilah Jepang Baris (Pangris) atau diantri.

Perempuan itu kemudian meninggalkan komunitas jalanan ini dan bertemu dengan komunitas lain. Ia mendapatkan pasangan baru. Tapi beberapa waktu kemudian ia diketahui sudah tinggal di salah satu lokalisasi yang berada di wilayah perbatasan Semarang dengan Kendal yang dikenal dengan nama Gambilangu dan sering hanya disebut sebagai GBL.

Kasus lain adalah seorang perempuan ketika duduk di kelas satu SMA, ia tinggal di sebuah tempat kost. Setelah tinggal di sini, ia tampak jarang terlihat di sekolahnya. Kawan-kawan berusaha untuk mengetahui keberadaan dan kabarnya. Setelah berhasil berkomunikasi, diketahui bahwa ia telah berada dalam cengkraman seorang mucikari dan di bawah kekuasaannya. Ia tidak bisa keluar dari tempat kost tersebut kecuali mendapatkan perintah dari sang mucikari untuk melayani konsumennya.

Yulianto "BDN", salah satu fasilitator

Ada berbagai kisah lain yang dikemukakan. Tempat-tempat mangkal-pun sudah sangat beragam dan seringkali tidak terduga. Umum diketahui bahwa anak-anak biasanya berada di lokalisasi, rumah bordil, tempat-tempat hiburan, di salah satu sudut mall atau pusat pertokoan, dan di sepenggalan jalan tertentu di sebuah kota. Namun, dari kisah yang dikemukakan anak, banyak anak yang sudah tidak mangkal di tempat tertentu. Mereka hanya menunggu panggilan melalui sms atau telpon ke HP pribadi mereka. Dengan pola ini tentunya sulit untuk mengungkap keberadaan anak-anak yang berada di prostitusi. Sehingga tantangan besar terpampang di depan bagi upaya untuk mengatasinya.

Semarang, yang pada awal 2000-an pernah dikenal dengan banyaknya anak-anak yang berada di prostitusi jalanan, yang dikenal dengan  sebutan ciblek atau chilik-chilik betah melek atau chilik-chilik isa digemblek,  pada kenyataannya keberadaan mereka masih banyak namun tersembunyi sifatnya. Ada istilah baru yang dikenal yaitu ”Gadis Mio”. Sebutan ini merujuk kepada satu jenis merek motor  yang sering digunakan oleh anak-anak itu.

Kisah di atas hanya bagian kecil dari banyak kisah yang diungkap. Saya tidak membayangkan betapa banyak orang dewasa tertutupi kesadarannya dan berhasil dikuasai oleh bisikan Syetan yang menjadikan mereka sebagai tangan-tangan Syetan untuk menjerumuskan anak-anak ke situasi yang buruk. Mereka telah dengan tega memangkas kehidupan anak sehingga masa depan menjadi buram. Apakah kita hanya diam saja menghadapi situasi semacam itu?

Pengalaman dari anak-anak ini direncanakan akan dirumuskan dan disusun ke dalam berbagai tulisan yang akan dihimpun ke dalam sebuah buku. Buku yang ditargetkan bisa diterbitkan dan di-launching pada bulan Juli untuk memperingati Hari Anak Nasional. Jadi kita tunggu saja kabar dari Yayasan Setara yang berbasis di Semarang ini.

Bandungan, 28 Mei 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: