Tinggalkan komentar

Anak-anak, Hari Ini dan Masa Depan

Catatan Odi Shalahuddin

Beberapa hari ini, perut terasa mual, kepala berputar-putar, dada sesak, tatkala membaca berita-berita menyangkut persoalan anak. Persoalan yang juga mengemuka di tingkat nasional.

Sebut saja tawuran pelajar, yang di beberapa kota sering terjadi dan menghiasi pemberitaan, kini telah meningkat tidak saja secara kuantitas tetapi juga kualitas tindakannya. Bermula dari tawuran yang terjadi antara pelajar SMA 6 dan SMA 70 di Jakarta, seorang reporter stasiun televisi swasta yang kebetulan berada di tempat, segera melakukan liputan dengan merekam peristiwa tersebut. Namun nasib naas menimpanya. Sekitar duapuluhlimapelajar mengeroyok dan merampas film hasil rekamannya.

Solidaritas sesama jurnalis,  puluhan wartawan melakukan aksi damai di depan sekolah. Ini berujung pada bentrok antara ratusan pelajar dengan puluhan wartawan.

Menyedihkan. Anak-anak semakin berani melakukan aksi-aksinya. Sayang aksi yang dilakukan adalah aksi kekerasan. Tentu tindakan semacam ini tidak lahir dengan sendirinya. Para orang dewasa, telah memberikan contoh buruk kepada mereka bukan? Lihat saja aksi-aksi kekerasan yang berlangsung misalnya pada Pilkada-pilkada yang berlangsung di berbagai daerah atau pertarungan politik lainnya yang melibatkanmassa. Ketidakpuasan, menggerakkanmassa, melakukan aksi kekerasan. Referensi peristiwa yang dihadirkan hampir setiap hari, telah mendidik anak-anak kita menjadi pemberani untuk menyelesaikan masalah dengan jalan kekerasan sebagaimana diajarkan.

Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh siapapun, tentu saja tidak dibenarkan. Saya sepakat bahwa para pelaku tindak kekerasan haruslah diproses secara hukum. Namun, tanpa bermaksud membela para pelajar SMA tersebut yang notabene masih anak-anak, saya melihat ada ”amuk” di kalangan jurnalis yang pada akhirnya membutakan tindakan-tindakan mereka sebagai jurnalis profesional, yaitu mengabaikan kode etik pemberitaan yang menyangkut anak-anak. Cobalah dicermati liputan pemberitaan berbagai media, wajah anak-anak ditampilkan secara jelas. Beberapa nama-pun disebutkan secara langsung. Bukankah kode etik yang ditandatangani puluhan organisasi jurnalis menyatakan bahwa dalam kasus anak tidak akan menampilkan wajah, nama hanya disebut inisialnya? Belum lagi kode etik dari organisasi jurnalis internasional dan UNICEF?

Pada kasus lain, tersebar pula pemberitaan mengenai anak perempuan yang masih duduk di bangku SMP yang berperan sebagai “sutradara” untuk membuat film pornografi yang melibatkan anak perempuan SMP dan lelaki lulusan sebuah SMK untuk melakukan adegan mesum. Peristiwa yang berlangsung di sebuah kecamatan dari salah satukotadi Jawa Timur ini, tentu mengundang keprihatinan yang mendalam.

Film yang konon telah tersebar melalui handphone di kalangan pelajar dan masyarakat umum, menambah deretan film-film porno yang melibatkan anak-anak yang terproduksi dari keisengan belaka, pencurian gambar secara diam-diam, atau terekam di bawah ancaman pihak lain.

Melalui kasus-kasus semacam, bisa pula ditarik situasi lain, yaitu merebaknya seks bebas di kalangan anak-anak. Ini pula yang memudahkan mereka dijerumuskan ke dunia prostitusi, menjadi korban perdagangan anak untuk tujuan seksual dan menjadi korban bahan-bahan pornografi.

Tentu saja, situasi yang nyata hadir dalam kekinian, yang dikatakan semakin merebak dan menjadi bagian darigayahidup anak-anak, bukan berarti untuk dimaklumi dengan pernyataan bahwa “anak-anak sekarang sudah lebih maju, sudah mengenal seks lebih dini,”. Bukan, bukan itu. Justru ini menjadi tamparan bagi kita, para orang dewasa, tidak mampu membendung pengaruh buruk dari perkembangan teknologi dan juga tata nilai yang semakin bergeser. Atau jangan-jangan kita juga turut mendukung prose situ?

Bagaimanapun, itu tetap harus dianggap sebagai persoalan, menjadi tantangan bagi kita untuk mengatasinya, termasuk juga tantangan bagi anak-anak agar lebih waspada dan tidak mudah dijerumuskan ke situasi yang bisa menempatkan mereka pada posisi dan situasi sulit yang menghambat perkembangan anak-anak.

Jadi, ya, itulah PR bagi kita semua…

Yogyakarta, 21 September 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: