2 Komentar

30 Tahun Gerakan Anak di Indonesia

Odi Shalahuddin


Bikin Jalan Sambil Buat Jalan: Perbincangan setelah 30 tahun bergerak dalam isu anak” demikian judul buku yang diterbitkan oleh Save the Children bersama Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN).

Buku yang disunting oleh Setiawan Cahyo Nugroho dan Antariksa ini, berisi dokumentasi “Refleksi 30 Tahun Gerakan Anak di Indonesia” yang berlangsung pada tanggal 1-11 Juli 2010 di gedung Jogja National Museum (JNM), yang berisi tulisan kurator dan direktur artistik pameran, prosiding seminar dan diskusi, serta serangkaian wawancara terhadap para aktivis anak yang dinilai memiliki pengaruh terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Tercatat para kontributor tulisan adalah: Setiawan Cahyo Nugroho, Bambang ”Kirik” Ertanto, Antariksa, Odi Shalahuddin, dan Fathuddin Muchtar.

 Buku ini dibagi ke dalam lima bagian, yaitu:

  1. Catatan Awal
  2. Arsip, pameran dan tafsirnya
  3. Periode 80-an
  4. Periode 90-an
  5. Periode 2000-an

Pada bagian catatan awal, Setiawan Cahyo Nugroho, selaku Program Manager Child Right Save the Children, menjelaskan bahwa pameran arsip dan refleksi 30 tahun gerakan anak digagas saat peluncuran “Laporan Tinjauan Pelaksanaan Konvensi Hak Anak” di Jakarta. Dikatakannya: Muncul pertanyaan lagi, dari mana kita dapat melihat lintasan sejarah gerakan anak di indonesia? Kami melihat dari diri kami sendiri, yang bergerak di wilayah organisasi non pemerintah. Maka, kami memutuskan untuk mulai dari diri kami sendiri. Jadi, kenapa, kenapa kita mulai dari organisasi non-pemerintah? Jawabannya cukup sederhana: Disitulah kami bergerak dan mulai dari diri sendiri kami rasa adalah langkah yang realistis.

Nugroho juga mengutip pepatah yang oleh Paulo Freire diambil alih dan dimaknainya sendiri dari lamen penyair Antonia Machado, ”We, make the road by walking”, yang akhirnya menginpirasi menjadi judul buku. Selanjutnya, Nugroho menjelaskan proses bagaimana akhirnya bisa tercipta buku ini.

Antariksa dan Bambang ”Kirik” Ertanto, selaku kurator pameran arsip, melontarkan persoalan utamanya: Inilah kenyataannya, kita tidak punya rujukan memadai tentang sejarah persoalan-persoalan anak di Indonesia.

Dikatakannya, cara pandang tentang sejarah persoalan anak-anak di Indonesia yang biasa diterima hingga sekarang adalah cara pandang yang mencampurkan sejaharah masalah anak-anak dengan sejarah pendidikan. Ini yang telah berkembang satu abad lebih dan juga dilakukan oleh rejim Soeharto. Namun, keduanya mencoba menampilkan alternatif sejarah persoalan anak di Indonesia, dengan dua titik tolak, yaitu: Pertama, meolak mengisolasi persoalan anak dan meletakkannya ke dalam hubungan yang tidak terpisahkan dari persoalan-persoalan sosial dan politik di Indonesia, Kedua, memulai narasi dari periode akhir 1970-an.

Mengacu kepada arsip-arsip sejarah yang dimiliki (sangat terutama arsip yang masih tersimpan di berbagai Organisasi Non-Pemerintah), kedua kurator mengelompokkan sejarah gerakan anak di Indonesia ke dalam tiga periode, yaitu:

  1. Periode 80-an
  2. Periode 90-an
  3. Periode 2000-an

Periode 80-an, disebut juga periode pendidikan, di mana gerakan anak ditandai dengan reaksi terhadap sistem pendidikan yang ada. Pemikiran Ivan Illich tentang bebas dari sekolah dan pemikiran Freire tentang Pendidikan Kaum Tertindas.  Pada periode ini, pendidikan menjadi medan yang penting untuk memaknai anak-anak. Bila Negara dan elit nasional menggunakan seragam sebagai teknik yang penting untuk melakukan kontrol maka aktivis anak-anak menandinginya dengan cara menggali budaya lokal yang majemuk. Wacana yang dominan adalah pendidikan kritis-alternatif versi masyarakat sipil berhadapan dengan pendidikan versi Negara.

Periode 90-an, diidentifikasikan sebagai periode mencari jati diri. Wacana yang dimaksud adalah cerita anak-anak secara luas mulai membicarakan kenyataan-kenyataan dirinya. Benturan-benturan kepentingan antara anak-anak (masyarakat sipil) dengan negara sangat dominan. Gerakan yang sangat menonjol dilakukan oleh kelompok dan organisasi anak jalanan.

Periode 2000-an, adalah periode pendekatan berbasis hak. Ini terkait dengan semakin menguatnya pendekatan hak yang bersandar pada Konvensi Hak Anak yang telah diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1989 dan Indonesia telah turut meratifikasi pada tahun 1990. Pada periode ini wacana hak menjadi dominan. Instrumen-instrumen legal tentang hak anak semakin mapan, dan para aktivis mengembangkan pendidikan-pendidikan yang makin sistematis dan terukur terhadap pemenuhan hak-hak dan partisipasi anak.

Pembagian ketiga periode tersebut tidaklah bersifat linear. Tampaknya ketiganya bisa berjalan bersamaan, namun hal yang paling menonjol yang terjadi itulah yang dijadikan dasar untuk menentukan periodisasi.

Lantas, sejauh manakah gerakan anak mampu melahirkan perubahan-perubahan yang lebih baik? Berdasarkan diskusi refleksi dan serangkaian wawancara dengan para aktivis anak, gerakan anak (dan juga gerakan-gerakan kelompok marginal lainnya) sebagai bagian dari gerakan sosial bisa dikatakan mengalami kelumpuhan. Gerakan anak seakan berjalan sendiri.

Untuk selanjutnya, memang sebaiknya membaca buku ini. Buku yang dicetak luks setebal 194 halaman full colour, berukuran 22 X 27,5 cm ini penting terutama bagi para pemerhati anak, akademisi, dan para pengambil kebijakan.

Iklan

2 comments on “30 Tahun Gerakan Anak di Indonesia

  1. saya widya nusantara mahasiswa PPS UM mau tanya bagaimana cara saya mendapatkan buku tersebut….. saya membutuhkan banyak literatur berhubungan dengan anak jalanan atau pekerja anak trim’s

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: