Tinggalkan komentar

(ocehan) Hidup di Negeri Berdarah

HIDUP DI NEGERI BERDARAH 

Aku sama sekali tak pernah membayangkan bisa menikmati kehidupan dalam suasana yang mencekam. Perjalanan waktu, detik demi detik,  apalagi di malam hari yang penuh berjuta kemungkinan, malaikat maut terasa menari-nari di hadapan kita, memandangi satu persatu, dan tiba-tiba menunjuk siapa yang akan direnggutnya. Kita terpenjara, menunggu giliran. Tanpa daya, duhai, pastilah terasa menyiksa.

Bukan mengingkari Kematian,  memang siapalah yang tahu. Tapi mengetahui ancaman tengah bermain-main di sekitar kita, siap hadir mengetuk pintu beriringan dengan helaan nafas yang tersengal, tentunya menjadi teror tersendiri.

Demikian, rasa, mungkin, yang dialami oleh orang-orang yang berada di area konflik. Atau bahkan bisa melebihi bayanganku.

Berbagai konflik telah terjadi di berbagai wilayah di indonesia. Konflik antar kampung, antar etnis, antar aliran, agama, ideologi, dan sebagainya. Kabar yang tersiar, benar tidaknya tiada tahu pula kita ini, bisa membuat hati menjadi pedih, prihatin, atau membangkitkan emosi, mendorong solidaritas untuk melibatkan diri.

Apalagi bila foto-foto atau dokumentasi film yang menunjukkan hasil kekejaman, yang rasanya tidak kita percaya bisa terjadi di negeri ini. Negeri yang bangsanya konon terkenal sangat ramah dan santun. Berubah menjadi beringas dan kehilangan naluri kemanusiaannya.

Rumah-rumah terbakar, mayat-mayat berserak, barak-barak pengungsian, menjadi kisah luka yang menghitam, namun lekat dalam kepala.

Bagaimana dengan anak-anak? Pastilah mereka menjadi satu kelompok yang paling rentan terkena dampak konflik. Masa anak-anak yang dikenal dengan masa bermain dan belajar, tidak dapat dinikmati oleh mereka. Perkembangan kapasitas mereka secara fisik, mental dan sosial bisa terhambat. Pengalaman buruk, yang mereka lihat dan alami, menjadi pelajaran sehari-hari. Bila tidak tertangani, maka ajaran kekerasan sebagai jalan keluar untuk menghadapi persoalan bisa menjadi bagian dari hidup mereka di masa-masa mendatang. Bukankah ini bisa berbahaya, bila ratusan atau jutaan anak mengalami hal seperti ini?

Yogyakarta, 20 Agustus 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: