Tinggalkan komentar

(ocehan) Cinta Gorilla

Oleh  :  Odi Shalahuddin

Facebook, sebagai situs jejaring sosial telah membius jutaan orang di Indonesia untuk larut di dalamnya. Mulai dari anak-anak SD hingga usia 50-an ke ataspun dapat kita jumpai menggunakan Facebook untuk berbagai kepentingan.

Sebagai situs jejaring sosial, tampaknya facebook inilah yang banyak berhasil mempertemukan seseorang dengan kawan-kawan lamanya yang mungkin tidak pernah berjumpa berpuluh-puluh tahun. Tercipta komunikasi kembali. Reuni-reuni terselenggara. Jalinan silaturrahmi antar orang atau antar keluarga

Ini pula yang kualami. Berkat facebook, aku bisa bertemu dengan kawan-kawan semasa kuliah (ya walaupun tak lulus, ceritanya pernah juga tercatat jadi mahasiswa.. he. h.e. he. he..)  kawan SMA, kawan SMP bahkan kawan-kawan SD. Yang susah mengidentifikasi kawan-kawan TK. He.h.e.h.eh.e..

Ketemu satu, diracuni untuk membuka account FB. Sistem sel bekerja, hingga puluhan yang bisa tersambung lagi. Atas nama almamater, walaupun mungkin benar-benar sudah lupa, tapi obrolan lewat torehan di dinding atau komentar-komentar terasa begitu hangat dan akrab. Walau terkadang terkesan berlebihan.

Gagasan bergulir. Tidak cukup komunikasi lewat FB, dirancang pertemuan. Reunian. Bersama kawan-kawan SMA, dalam satu bulan berlangsung tiga kali reuni. Gila!!! Tapi begitulah, rasa kangen, mengenang masa lalu, membuat kita terbius untuk menghabiskannya segera.

Bersama dengan kawan SMP di Jakarta (aku hanya sepenggal, tak tuntas selesaikan sekolah di sana), rancangan dibuat lebih rapi. Dipersiapkan enam bulan sebelumnya. Mencari waktu agar semakin banyak kawan yang bisa hadir. Pertemuan-pertemuan persiapan yang biasanya dihadiri lebih dari 20-an orang, sudah menjadi reuni tersendiri. Tapi, tidak percuma persiapan yang ada. Saat dilangsungkan reuni, 90-an lebih yang hadir, termasuk kawan-kawan yang sudah melanglang buana ke berbagai wilayah.

“Awas CLBK,” istriku memberi peringatan sebelum berangkat.

“Wah, gak ada gacoan pada saat itu. Tenang saja,” sahutku ringan.

Istriku hanya cemberut menanggapi. Seolah tak rela aku berangkat sendiri.

25 tahun setidaknya tak pernah jumpa. Hal pertama yang kulakukan adalah berkenalan kembali, mengajak berbincang (walau sebentar) dengan kawan-kawan yang menyebar dalam berbagai kelompok kecil. Tidak lupa mencuri moment untuk diabadikan dalam foto. Obrolan ini, bisa mengenang atau setidaknya mencatat kenangan baru.

Usai sudah reuni. Kembali ke rumah masing-masing. Aku yang masih bertahan di Jakarta, menggunakan kesempatan untuk kongkow dengan beberapa kawan.

Dari sinilah lahir pergunjingan tentang A & B, C & D, E & F, dan sebagainya. Busyet… Benar juga peringatan istriku. Bersama beberapa kawan, kami mencoba untuk meminimalisir kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi.

Ketika ada kesempatan ke Jakarta, kebetulan lebih dari 10-an orang berkumpul, di salah satu rumah kawan dekat sekolah. Gosip makin panas. Ada keluarga sudah terancam hancur. Strategi untuk mengatasi kembali di gelar. Bebarapa kawan mendapat tugas untuk mengajak dialog beberapa kawan yang tengah ”terpesona” dengan masa lalu..

”Wah, kalau dulu masa kita SMP disebut cinta monyet, sekarang ini tumbuh cinta Gorilla,” komentarku getir.

Semua tertawa, dengan kegetiran pula.

”Kalau 25 tahun lagi kita reuni, terus terjadi lagi, bagaimana?” seorang kawan menohok pertanyaan.

”Ah, kalau itu namanya cinta Kingkong….”

____________

Sumber ilustrasi dari SINI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: