Tinggalkan komentar

Ocehan: Aku Adalah Pengecut

Oleh  :  Odi Shalahuddin

 

 

Membayangkan saja aku tidak berani. Apalagi melakukannya. Jangan, jangan kau paksa aku. Lebih baik makilah diriku. Aku akan diam saja. Tidak akan memberikan komentar apapun. Tidak akan memberontak. Tidak akan membawa dendam dalam perjalanan hidupku. Tenang sajalah. Tapi, sekali lagi jangan paksa aku.

Sungguh. Aku tak kuasa untuk melihat darah. Darah yang terkucur, dari melayangnya nyawa makhluk yang dihalalkan saja, seperti pemotongan ayam, kambing, kerbau, yang bisa dilihat sehari-hari, tak kuasa bagiku. Sungguh. Bukan mengada-ada.

Jadi, melihat senjata tajam. Silet, pisau dapur, golok, kapak, yang biasa digunakan untuk kepentingan sehari-hari yang produktif, seringkali aku membayangkan hal buruk apabila itu tergores pada kulit manusia. Terkena tanpa sengaja, sudah terbayangkan sakitnya. Apalagi bila dengan kesengajaan untuk melukai. Darah akan mengucur. Mengerikan…

Jadi, jangan paksa aku. Aku sangat bermohon padamu. Bukan lantaran aku tidak memiliki rasa solidaritas, bukan lantaran aku tidak merasa terhina, bukan lantaran menolak untuk menjadi ”pahlawan”,  sama sekali bukan. Tiadakah jalan penyelesaian selain menumpahkan darah. Darah yang pasti akan tersia pula. Yang hanya akan menimbulkan luka menganga, membawa dendam berkepanjangan, dan tak pernah usai pertikaian. Sungguh, jangan paksa aku.

Makilah aku. Berbuatlah sesukamu. Katakanlah bahwa aku memang pengecut. Ya, aku adalah pengecut. Katakan saja. Aku tetap akan diam.

Yogyakarta, 16 September 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: