Tinggalkan komentar

Cerpen: Mata

Cerpen  :  Odi Shalahuddin

Betapa  terkejutnya Mantio ketika mencoba membuka mata saat terjaga dari tidurnya, tidak dilihat apapun juga. Iapun  menjerit keras, membangunkan Lia, istrinya.

“Ada apa Mas?”

“Mataku! Mataku! Mataku!” teriak Mantio.

Istrinya bangkit, memeluk suaminya, lalu memandangi wajah dan memperhatikan mata Mantio. Tidak ada yang aneh. Merahpun tidak. Masih berkedip-kedip pula. Istrinya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. Suaminya hanya menggoda, pikirnya. Ia kembali membaringkan tubuhnya, memejamkan mata kembali yang belum lepas dari kantuk.

“Lia! Di mana kau? Aku membutuhkanmu, Lia!” teriak Mantio.

Istrinya tidak memperdulikan, memiringkan tubuhnya, dan telinganya ditutupi bantal. Sebentar saja kembali terlelap.

“Lia!” teriakan keras Mantio.

Tempat tidur diguncang-guncang. Terdengar barang-barang berjatuhan dan beberapa pecah. Lia terjaga. Ia merasa sangat terganggu. Betapa kasar cara Mantio menggoda, keluhnya.

Lia membuka matanya. Saat itu Mantio tengah menarik sprei kasur dengan keras. Lia terjatuh ke lantai setelah beberapa saat terseret. Ia memekik keras.

“Lia! Lia! Kenapa kau?” tanya Mantio.

Lia bangkit sambil menyeringai kesakitan. Ia terbelalak melihat seluruh peralatan kecantikannya telah tumpah ke lantai. Ia memandang Mantio. Iapun tertegun. Mantio saat itu tengah berjalan sambil memanggili namanya dengan meraba-raba. Lia mendekat, memainkan jari-jari tangannya di depan mata Mantio. Tidak ada reaksi. Iapun mulai cemas.

“Kenapa Mas?” tanya Lia lalu memeluknya.

“Oh, Lia. Mataku gelap, Aku tidak bisa melihat apa-apa, Lia,” suara Mantio resah dan memeluk erat.

“Duduklah  dulu, Mas,” kata Lia sambil menuntun  berjalan  ke sisi ranjang, “Aku panggil Dokter Bram,”

Lia membanting gagang telpun dengan kesal. Dokter Bram tidak bersedia datang dan menyuruhnya datang ke rumah sakit di mana ia bekerja. Meskipun Lia telah menawarkan bayaran tiga kali lipat, Dokter Bram tetap menolaknya.

“Maaf sekali Nyonya, bukan saya tidak menghargai anda, tapi pada saat ini sulit bagi saya memenuhi permintaan Nyonya. Meskipun Nyonya menawarkan bayaran sepuluh kali lipatpun,”

Edan! Maki Lia dalam hatinya.

“Telah puluhan telpun datang dari orang-orang penting dalam waktu setengah jam. Demi keadilan, saya minta dengan hormat agar mereka datang ke rumah sakit,”

“Bangsat! Tidak kenal budi! Dia menjadi dokter mata termahal di negeri ini berkat aku!” Maki Mantio mendengar berita dari istrinya.

Lia diam, berpikir. Diruntutnya kata-kata Dokter Bram. Aneh! desisnya.  Pada saat bersamaan, puluhan orang mengalami  penyakit mata. Pasien Dokter Bram bukanlah main-main. Berarti semua orang-orang penting. Dan waktu ini masih sangat pagi. Belum ada  pukul enam.

“Lia, bagaimana aku, Lia?” keluh Mantio menghiba.

Lia merangkul Mantio.

“Kita ke rumah sakit, Mas,”

“Apa? Kita harus menuruti Dokter bangsat itu ?”

“Ssst, tenang dulu, Mas,” Lia mencoba menentramkan suaminya. Ia lalu menceritakan apa yang ada di pikirannya. Mantio mencoba memahami.

“Baiklah, Lia. Tapi jangan sampai ada yang tahu keadaanku. Semua yang telah kubangun bisa berakhir sia-sia.” pesan Mantio.

Lia mengangguk. Ia lalu menyadari bahwa Mantio tidak bisa menangkap jawabannya.

“Iya, Mas,” katanya cepat.

Lia sendiri yang mengendarai mobil. Mantio duduk di sebelahnya dengan mengenakan kaca mata hitam.

Sampai di rumah sakit, tempat parkir telah dipenuhi oleh mobil-mobil mewah. Pemandangan sangat luar biasa! Lia  kesulitan mencari tempat untuk parkir. Terpaksa ia harus  memarkir kendaraannya di luar pagar, di pinggir jalan karena tidak ada tempat lagi  di dalam. Begitu ia turun, dua orang telah menyongsongnya. Memberi penjelasan singkat dan mendampingi mereka masuk.

Di ruang tunggu, kursi-kursi telah penuh terisi. Beberapa bahkan duduk di lantai. Laki-laki dan perempuan  banyak yang berkaca-mata  hitam. Wajah-wajah yang sangat dikenal Lia atau rasa-rasanya pernah mengenal. Lia mengatakan kepada Mantio dengan hati-hati bagaimana kalau duduk di lantai.

“Bangsat! Ini adalah penghinaan terburuk sepanjang hidupku!” teriak Mantio.

“Ssst,  Mas…” Lia berbisik dan mengatakan nama-nama orang yang ada di situ. Dan itu cukup untuk  menghentikan kejengkelan Mantio. Mantio tidak menolak lagi untuk duduk di lantai.

Lia menghampiri petugas dan mendaftarkan diri.

“Jabatan?” tanya petugas itu.

Lia terperanjat. Wajahnya memerah. Sebelum sempat ia berkata, petugas itu memberi penjelasan.

“Maaf, Nyonya. Ini demi kepentingan kita semua. Saya harap Nyonya dapat memahami,”

Lia  memaki-maki di dalam hati. Tiba-tiba ia merasa malu sendiri. Bukankah selama ini ia banyak mengalami kemenangan dalam antrian lantaran jabatan suaminya? Dan pada kali ini, rata-rata adalah orang-orang sederajat dan orang-orang yang lebih tinggi lagi. Lia menyebutkan nama suaminya dan jabatan yang dipegangnya.

“Mudah-mudahan tidak lama,” harapnya.

Lia duduk di lantai bersama suaminya. Mereka berbincang-bincang dengan nada pelan. Pasien-pasien baru terus  berdatangan. Bisik-bisik bermunculan.

“Oh, si anu juga datang,”

“Oh, si ini kena juga,” dan beragam komentar bermunculan.

Kapan tepatnya, Lia tidak memperhatikan. Tiba-tiba saja banyak aparat keamanan telah berjaga-jaga. Ia baru menyadari kehadirannya ketika terjadi keributan. Seseorang dengan kamera tergantung di lehernya memaksa untuk masuk ruangan. Terjadi perdebatan. Toh, orang itu tidak juga mendapatkan hasil, malah tergiring dengan paksa oleh beberapa aparat keamanan untuk keluar dari ruangan.

Menunggu memang sangat menjengkelkan. Lia melihat ke jam tangannya. Sudah pukul 10.13. Sudah tiga jam lebih ia  menunggu, belum juga kunjung panggilan datang.

Lia berdiri, menyibakkan tirai jendela, dan ia melihat di luar  telah banyak orang berkerumun yang terus berusaha  mendesak diperkenankan masuk. aparat keamanan telah membuat pagar betis yang cukup kokoh dan sulit ditembus. Nekad? Bisa kena pentungan nanti!

“Tuan Mantio!” terdengar panggilan petugas.

Lia bersorak. Melepas tirai dan memapah Mantio memasuki ruang periksa. Dokter Bram menyalami erat Mantio dan memohon maaf. Mantio diam.

“Ya, saya maklum Dokter,” justru Lia yang menjawab.

Dokter Bram memeriksa dengan teliti.

“Sakit apa Dokter?” tanya Lia.

Dokter Bram menghela nafas dan bersandar pada kursinya. Matanya menatap ke atas. Tangannya memainkan pena.  ”Saya tidak tahu pasti. Ini sangat aneh. Semua mata normal,”

Lia menahan nafas. “Kita berdoa saja semoga semuanya cepat berakhir,” Kata Dokter Bram.

Pemeriksaan  usai.  Lia dan Mantio  keluar  ruangan.  Petugas memanggil nama pasien selanjutnya.

Pada kesempatan waktu yang pendek itu, Dokter Bram  berkesah pelan; “Ya, Tuhan. Peringatan apa yang kau timpakan kepada kami?”

* *  *

______________

Gambar diambil dari SINI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: