1 Komentar

Cerpen: Lewat Tengah Malam

LEWAT TENGAH MALAM

Cerpen Odi Shalahuddin

Lewat tengah malam.

Sebuah mobil melaju cepat. Di sebuah perempatan di pinggiran kota, seorang lelaki setengah tua menyebrang jalan. Ia tak menoleh ke kiri ke kanan. Wajahnya menunduk dan muram. Bunyi ban menggosok aspal, lelaki itu tersentak. Namun ia tak sempat untuk menghindar. Terdengar jeritan. Lelaki itu terpental dan terkapar.

Wajah-wajah pucat di dalam mobil. Mereka saling berpandangan satu sama lainnya.

”Ayo, kita turun dan bawa dia ke rumah sakit,” usul seseorang.

”Tunggu dulu. Bagaimana ketika kita mengangkat dia, ada orang lewat? Kita bisa kena cilaka,” komentar yang lainnya dengan nada cemas.

”Jadi bagaimana?” sebuah pertanyaan terlontar.

“Ah, dasar orang itu goblok! Nyebrang jalan tidak lihat-lihat,”

“kita juga salah,”

“Eh, mati gak ya orang itu?”
”Kalau mati, kita akan lebih cilaka lagi,”

”Kabur saja,”

”Ya, mumpung sepi,”

Mobil tetap berhenti di situ. Orang-orang di dalamnya semakin resah. Mereka membujuk kawan mereka yang menyetir untuk cepat meninggalkan tempat. Sang sopir masih terpaku dengan wajah yang amat pucat.

“Ayo, mau ditahan polisi, kita?”

Ada kebimbangan. Ada ketakutan. Ketakutan lebih mendominasi. Tangan bergerak mengganti persneling dan kaki menginjak gas. Melesat. Sesaat kemudian mobil telah hilang dari pandangan mata di tempat itu.

Lelaki itu diam. Tak bergerak. Bajunya yang lusuh itu telah koyak dan basah. Banyak bagian tubuh yang terluka. Darah yang tergenang. Bulan setengah bulat, memberikan sinarnya yang muram.

Angin dingin menyapu pagar-pagar rumah di sekitar itu yang tegak membisu. Lampu-lampu teras dan lampu-lampu taman tampak getir. Tiadakah satu telinga para penghuni rumah mendengarnya? Entahlah.

Mendengar. Mungkin. Tapi mungkin pula mereka lebih memilih untuk tetap di ranjang, berselimut, setelah hari-hari seakan telah menerkam dan mencabik-cabik ruang kehidupan yang penuh persaingan sengit.

Sekitar setengah jam kemudian. Sebuah motor melintas. Cahaya lampu menangkap sosok lelaki itu. Pengendara motor ,mengurangi kecepatan. Setelah dekat dan melihat keadaan lelaki itu, ia merasa terkejut dan was-was. Di kepalanya muncul berbagai pertimbangan. Keputusan yang diambil terlihat ketika ia malah mempercepat lari kendarannya.

Sosok tubuh lelaki itu kelihatan mulai bergerak perlahan. Mula-mula jemari tangan yang mulai tampak bergetar, kekinya tergeser sedikit, kepalanya bergoyang. Terdengar erang yang menyayat.

Sang lelaki merasakan sakit yang teramat. Namun ia merasa sama sekali tak berdaya. Ia tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya. Ia hanya menyebut: ”Allah…Allah..Allah…”

Dalam keremangan bulan, terlihat tas plastik hitam yang sudah koyak di dekat kepalanya. Beberapa isinya telah terlempar keluar. Butiran-butiran nasi yang berserakan. Air minum dalam plastik sudah tumpah. Ada dua bungkus obat yang biasa kita liohat di iklan sebagai obat penurun panas bagi anak yang tergeletak dan kotor. Sekitar satu smeter dari tas plastik itu, ada boneka bekas yang tubuh dan kepalanya sudah terpisah.

Lelaki itu berusaha membuka matanya. Berat dan perih. Ia berusaha terus sampai matanya membuka. Tidak terlihat apapun. Hanya hitam belaka. ”Ya, Allah, Ya, Allah…” desisnya pasrah yang justru menambah kekuatan. Perlahan, ia mulai bisa melihat meskipun samar.

Terlihat sorot lampu yang semakin mendekat dan terdengar suara mesin kendaraan. Lelaki itu sangat berharap, ada kelegaan dalam dirinya, terlebih ketika mendengar suara rem yang terkesan mendadak. ”ayolah, cepat turun,” harap sang lelaki.

Mobil itu memang berhenti. Sekitar tiga meter dari sosok lelaki yang terkapar. Pengemudi, seorang pemuda dan di sampingnya seorang perempuan muda. Pengemudi itu memandang ke depan, ke arah lelaki yang tersorot lampu mobilnya. Ia hendak beranjak, membuka pintu mobil, perempuan di sebelahnya telah menahan dengan pegangan di bahu.

”Jangan-jangan ini pancingan, Mas. Bukankah perempatan jalan ini pernah dikenal sebagai sarang kejahatan. Sudah lama memang tidak terjadi apapun, tapi jangan-jangan, malam ini…..”

”Jangan berprasangka,” lelaki hendak bergerak. Tapi masih tertahan oleh pegangan tangan sang perempuan.

”Mas, meskipun niat kita baik, bagaimana kalau ada orang melihat dan mengira kitalah penyebabnya. Masa sangat beringat, tidak bisa berpikir rasional untuk hal-hal macam begini,”

Lelaki muda memandang perempuan itu, lalu bergerak memandang sang lelaki. Ada kebimbangan. Ada pertentangan.

”Sudahlah, Mas…”

Lelaki itu menimbang-nimbang. Keputusannya, terlihat mobil bergerak, menghindari sosok lelaki itu, dan kemudian melesat cepat. Keheningan kembali meraja.

Lelaki itu merasa sangat terpukul harapannya tak terkabul. Ia sudah berusaha berteriak memanggil, meminta pertolongan. Tapi tiada suara yang keluar dari mulutnya. ”Ya, Allah, tumbuhkanlah kekuatanku, ya Allah…”

Ia menggerak-gerakkan jemari tangannya, sampai berhasil mengepal, melepas lagi, mengepal lagi. Kakinya-pun mulai bisa diperintah untuk menggerakkan jemari. Ia mencoba mengangkat kepala. Perlahan. Perlahan. Tetap tak bisa bergerak. Hanya sakit yang dirasakan.

Dalam pandangan samar. Ia melihat tas plastik hitam yang koyak. Ia merasa dirinya ikut terkoyak. Ah, tentu mereka tentu telah lelah menunggu. Bagaimana cara Minah membujuk Karjo, Parno dan Triman untuk bersabar menunggu Bapaknya pulang. Oh, bukan itu.. bukan… ! Tapi bagaimana mereka bisa terisi perutnya.

Mendongengkah Minah? Atau terus menghibur sehingga kantuk membawa anak-anaknya dapat tertidur dalam rasa lapar? Bagaimana bila mereka tahu bahwa yang dinanti telah berhamburan dan bercampur dengan berbagai kotoran di aspal?

Lantas bagaimana dengan Imah? Panas badannya sudah surutkah? Oh, mana obat yang terbeli tadi? Imah sangat membutuhkannya.

Lelaki itu berusaha mengangkat tangannya. Terasa tiada tenanga. Ngilu, dan sakit. Ia tidak peduli, terus mencoba. Satu tangannya berhasil dijatuhkan di depan muka. Ia mencoba meraba-raba. Hatinya terasa senang ketika tangannya mampu menyentuh dan meraih bungkusan obat. Digenggamnya erat, ia letakkan di depan muka.

Ah, di mana boneka yang kubawa tadi? Itu untuk Imah. Imah pasti senang. Ia pasti segera sembuh. Bukankah karena keinginan memiliki boneka yang membuatnya menjadi sakit?

Mata lelaki itu liar meneliti. Hatinya tertegun. Ia melihat kepala dan tubuh boneka telah terlepas. Ia mengangkat tangannya kembali dan dijatuhkan ke depan. Ia berusaha keras meraihnya. Tidak terjangkau pula.

Akal sehatnya memang mengatakan tidak mungkin akan terjangkau. Entah mengapa harus dicoba pula. Pada kondisi normal, jarak ini tidaklah seberapa. Tapi sekarang? Ia berusaha menyeret tubuhnya, menahan sakit yang teramat sangat. Wajah Imah yang terbayang-bayang tengah tersenyum gembira menerima boneka, membangun kekuatan baru untuk memaksakan seretan tubuhnya, walau hanya berhasil bergeser sedikit. Ia mencobanya lagi, hingga akhirnya bisa teraih.

Tenaganya hampir habis ketika ia dapat meraih tubuh dan kepala boneka. Ia pandang dengan lekat. Ia coba letakkan kepala di tubuhnya dan berpikir bagaimana kelak menyatukannya. Ah, plastik dibakar dan dilekatkan akan bisa menyatu. Tapi untuk berapa lama?

Ia mendekap boneka itu. Mulutnya mengucapkan rasa syukur kepada Allah. Matanya basah.

Lelaki itu hanya mampu memiringkan tubuhnya. Ia memandang sepanjang jalan. Berharap ada kendaraan lewat dan benar-benar mau berhenti. Biarlah tidak menolong, tapi bisa membawakan obat dan boneka ini ke rumah.

Angin terus saja lewat. Waktu terus merambat. Lelaki itu menikmati rasa sakit dan ketidakberdayaannya, sambil memeluk boneka tanpa kepala.

***

Ilustrasi foto diambil dari SINI

Iklan

One comment on “Cerpen: Lewat Tengah Malam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: