1 Komentar

Cerpen: Lelaki itu

Cerpen  :  Odi Shalahuddin 

Senja baru saja turun. Mobil yang kutumpangi hampir memasuki pintu gerbang sebuah perumahan elite di selatan kota. Perumahan yang berada di daerah perbukitan dengan sebuah danau buatan yang indah di tengahnya.

Ketiga cucuku masih saja rebut di kursi belakang. Anik, anak sulungku sekaligus ibu mereka, tidak berhenti berkicau mencoba menenangkan anak-anaknya. Justru menambah ramai. Sumpek juga kepala.

Aku menoleh ke arah Jaus, sopirku yang menjalankan tugasnya dengan baik. “Besok, kau jemput Darwis ke airport. Jangan sampai terlambat,” aku memberi tekanan.

Jaus mengangguk

Ah, lelah sekali aku. Fisikku sudah tidak kuat. Baru rekreasi ke lebuah lereng gunung dan menaiki bukit-bukit yang tidak terlalu tinggi, nafas sudah terasa sesak. Sudah tua aku. Tidak terasa perjalanan waktu,

Aku menyandarkan tubuh dengan kedua tangan di belakang menopang kepala. Pandangan mata ke depan. Tiba-tiba aku terkejut. Seorang lelaki berpakaian hitam-hitam, berdiri di tengah jalan dengan sebuah pedang terbuka yang tergenggam. Cahaya pedang berkilau tertimpa cahaya senja. Wajahnya tampak kukuh. Sorot matanya tajam terasa menusuk hatiku. Aku menjadi tegang. Sosok itu semakin dekat.

“Jaus, menghindar!” teriakku.

“Ada apa, Pak?” tanyanya dengan nada heran.

“Cepat menghindar!” bentakku. Lalu dengan cepat tanganku merebut setir darinya, membanting kea rah kiri. Masih jelas kulihat, lelaki itu tidak berusaha menghindar, bahkan tersenyum mengejek. Mobil membentur tubuhnya. Jaus mengerem. Suara ban bergesekan dengan aspal. Keringat derasku mengalir. Aku menengok ke belakang. Lelaki itu masih kulihat berdiri. Sorot matanya masih tajam. Ia lagi-lagi melemparkan senyum mengejek. Ah, rasa-rasanya wajah itu pernah kukenal.

“Ada apa, Pak? Jaus dan Anik hampir bersamaan melontarkan pertanyaan kepadaku.

“Lelaki itu,”

“Siapa, Pak?” Tanya Anik.

“Mobil kita menabrak orang,”

Kulihat Anik dan Jaus saling berpandangan.

“Lelaki itu, di belakang mobil kita,” kataku sambil menoleh ke belakang. Tak tampak siapapun.

“ Bapak letih, istirahatlah,” kata Anik.

Aku tetap menoleh ke belakang. Ketiga anak Anik memandangiku. Tidak ada siapapun. Sesekali mobil lewat.

“Teruskan Jaus,” Anik memberikan perintah.

Mobil kembali melaju. Tapi pikiranku masih lekat saja pada lelaki itu. Siapa? Rasa-rasanya tak asing.

Setibanya di Rumah, kuikuti saran Anik untuk segera beristirahat. Masuk kamar. Ingin berebah, tapi aku justru duduk di pinggiran tempat tidur. Lelaki itu mengusik pikiranku. Kucoba mengobrak-abrik berbagai memori di kepala. Peristiwa demi peristiwa coba aku hadirkan dengan mengamati setiap sosok. Lelaki itu, siapa?

Degh! Jantungku terasa mau berhenti. Ya, lelaki itu. Lelaki itu?

Tidak mungkin,” desisku pelan. “Tadi aku tidak melihat apa-apa. Itu hanya ilusi. Itu di luar kesadaran. Lamunan yang jatuh. Aku seperti Jaus dan Anik. Tidak melihat apapun,” hibur hati agar perasaan tidak terkacaukan.

Lelaki itu? Ah, lelaki itu? Tidak mungkin!

Semakin aku mencoba menepiskan, semakin ia lekat untuk hadir. “Kau memang telah melihatnya! Sungguh, ia telah hadir lagi. Ia memang mencarimu. Dan akan selalu mencari dan menghantuimu. Bersiaplah” terasa ada suara menyatakan itu dengan penekanan.

“Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaak!” aku berteriak spontan. Anik masuk ke kamarku dengan tergesa. Wajahnya kelihatan khawatir.

“Tidak ada apa-apa,” kataku kepada Anik.

“Istirahatlah,” Anik, sambil membaringkanku di tempat tidur.

* * *

Film diputar kembali. Aku menjadi penonton tunggal. Peristiwa lima belas tahun lalu.

Waktu itu, kami asyik berbincang-bincang sambil menyusuri tanah berbatu usai pertemuan dengan warga di balik bukit. Berjalan bersamaku pejabat provinsi, Kabupaten, aparat keamanan, dan tiga kawan satu tim denganku.

Gelak tawa sangat lepas tanpa beban. Masalah-masalah yang selama ini menggayuti kepala, telah musnah. Hal ini berkaitan dengan warga di balik bukit yang selama ini ngotot tidak mau melepaskan tanahnya. Pertemuan yang baru saja terjadi, menjadikan semuanya cair. Warga dengan sukarela telah menyerahkan tanahnya. Ini dikuatkan dengan tandatangan yang mereka bubuhkan pada surat pernyataan yang kini terselip di dalam map, yang dibawa Amir, kawanku.

Benar-benar warga yang baik. Warga yang mau memahami arti pembangunan dan arti pengorbanan. Kalau kau tidak setuju dan mempunyai prasangka-prasangka buruk kepadaku, boleh-boleh sajalah. Tapi harus dibuktikan. Bukan sekedar tuduhan membabi-buta. Bila tidak, maka itu adalah fitnah belaka. Bukankah kita sudah saling mengerti bahwa masing-masing punya rahasia?

Terus-terang aku teramat gembira. Ingin rasanya aku melonjak-lonjak kegiarangan bagaikan anak kecil. Setelah enam bulan tenaga dan pikiran terkuras, hasil yang didapatkan sangat memuaskan. Terbayang di kepala, sebuah rumah lengkap dengan segenap isinya, sebuah mobil mewah, dan fasilitas lainnya, sebagaimana dijanjikan oleh big boss. Lain dari itu, ini prestasi terbesar dan awal karier yang baik. Tugas berat yang kusandang, berhasil kulaksanakan dengan hasil gemilang. Wow, siapa tak gembira? Istriku kuyakin akan teramat bahagia mendengar kabar ini.

Tapi, saat ini aku masih berhasil menahan diri. Menyembunyikan kebahagiaan berlebihan. Aku menunjukkan sikap bahwa persetujuan warga bukanlah sesuatu yang besar, namun sesuatu yang wajar. Jadi tidak ada yang luar biasa. Begitu kira-kira perasaan yang aku tumpahkan untuk mencegah sikapku seperti anak-anak. Sikap professional!

“Kawasan ini pasti akan tumbuh dengan pesat,” komentarku yang disambut dengan persetujuan rombongan.

Matahari kian meninggi. Keringat dipaksa untuk keluar dengan cepat. Pada saat itu, mata kami terpaku pada sosok lelaki berpakaian hitam-hitam di tengah jalan, menghadang. Di tangannya sebuah pedang tergenggam erat, tersampir hamper mengenai tanah. Ketika tangannya digerakkan, cahaya memantul dari pedang tersebut. Kami menghentikan langkah.

“Kalian!” teriaknya sambil mengarahkan pedang kea rah kami, “adalah orang-orang terkutuk! Kalian telah mengelabui rakyat atas nama-atas anam yang menggoyahkan jiwa kami,”

Kami saling berpandangan. Aku mencoba berinisiatif. “Maaf, Pak. Bapak salah paham. Ada apa sebenarnya?”

“Bangsat kalian!” matanya mengarah padaku. Merah. Membara. Seakan hendak membakarku. Aku sedikit gemetar. Namun aku berusaha untuk bersikap tenang. “Kalian telah menipu kami! Merampas tanah kami! Semua ini untuk kepentingan kalian!”

Bapak salah paham,” kataku tetap berusaha memperlihatkan ketenangan.

“Bangsat kalian!” pedang yang telah menghunus. Ia berlari menuju ke arahku.

Keringat dingin mengucur deras. Baru beberapa langkah, terdengar letusan pistol tiga kali. Ia terdiam. Matanya memandang kea rah kami. Sorot matanya penuh dendam. Kemudian ambruk. Kami semua tertegun.

“Biar kami urus. Bapak-bapak silahkan melanjutkan perjalanan,”

Aku menyempatkan diri melihat lelaki yang terkapar itu. Dadaku terasa sesak.

***

Tubuhku panas. Namun kurasakan dingin yang menusuk. Pandangan mata tersamar. Berbaring tidak lagi menjadi hal yang menyenangkan.

“Aku telah hadir! Aku mencarimu! Kini telah tiba saatnya,” suara lelaki itu mengejutkanku.

Tubuhku makin menggigil. Gemetaran. Ketakutan. Kupandangi sekeliling kamar ini. Sangat samar. Tak berjumpa sosok apapun. Aku bangkit dan duduk dengan kedua kaki berselonjor.

Terdengar tawa terkekeh-kekeh. “Kau takut? Kau takut?!” sebuah suara di tengah tawa.

Aku mencoba berteriak. Tidak ada suara yang keluar. Aku meronta-rontah, melepaskan diri dari sesuatu yang terasa tiba-tiba mengikat seluruh tubuhku.

“Percuma,” sebuah sosok hadir tiba-tiba. Di depanku. Lelaki itu! Pedang terhunus. Sorot mata tajam memvonis.

Perlahan ia melangkah sampai ujung pedang berada di leherku. Dingin. Panas.

“Maafkan aku. Maafkan aku. Bukah aku yang membunuhmu!”

Ia tersenyum. “Pembunuhan yang telah kau lakukan lebih daripada seorang pembunuh berdarah dingin. Kau membunuh dengan senyum. Tidak dengan pedang terhunus. Tapi dengan kertas-kertas kerjamu. Ratusan, ribuan orang mati dalam kehidupan. Mati dengan nafas yang masih mengalir. Aku hanyalah satu dari korbanmu!”

Ia menekan pedangnya. Mulai menembus kulit leherku. Aku mencoba berteriak sekuat tenaga. Merintih kesakitan. Darah mengalir. Jatuh ke sprei putih yang akhirnya memperlihatkan kontras. Merah-putih.

Ditekan terus pedang itu yang semakin dalam. Hingga aku terkulai. Jatuh.

“Entah mengapa, Bapak mengigau terus sejak sore,”  kudengar suara Anik, bicara dengan entah siapa. Aku tak mampu untuk melihat. Tak mampu menanggapi. Lelaki itu masih di depanku!

Imogiri, 5 Juli 1995

Dimuat di Harian Bali Post, 29 Maret 1996

Iklan

One comment on “Cerpen: Lelaki itu

  1. Hmmm,,, ingatan sang bapak masih tertuju pada perbuatan yg sudah lama 🙂
    nice om..
    hadoh,,, da gak bs buat cerpen 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: