Tinggalkan komentar

Cerpen: Lelaki Asing

Cerpen  :  Odi Shalahuddin

Siapa? Darimana? apa maunya? entah. Jelas ia sudah berada atap gedung bertingkat 30 di pusat kota pada suatu senja yang cerah.

Spontan banyak mata menengadah ke arahnya.

saja menjadikan  dirinya pusat perhatian banyak orang. Ia berdiri tegap dengan tangan bersidekap. Pakaian yang dikenakan putih. Usianya entah, sulit memperkirakan  lantaran ia  begitu tampak  kecil di atas sana, sedangkan mata orang-orang di bawah terbatas pandangannya.

Orang-orang berteriak, berbisik, menyampaikan pada kawannya, berlari mencari tempat yang enak untuk memandang. Orang di atap sana menjatuhkan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya diangkat ke atas, lalu melambaikan tangan kepada orang-orang yang melihatnya.

“Ia pasti berilmu tinggi,” komentar seseorang.

“Hebaaaat….”

“Ssst…  Jangan-jangan  ini tipuan. Teknologi  sudah  begitu canggih. Ingat David Copperfield si tukang sulap itu?”

“Hei, lihat! Dia meloncat?”

“Orang bunuh diri!!”

Orang-orang menjerit histeris, menutup mata, berlarian.  Ya, orang di atap menara memang gila. Ia meloncat seperti perenang saja.  Mengangkat  kedua  tangannya ke atas, lalu meloncat dan bersalto beberapa kali.

Orang-orang yang panik, tiba-tiba berhenti paniknya. Orang itu belum sampai tanah juga. Beberapa mata memandang ke atas. Orang itu benar melayang turun. Tapi tidak jatuh bebas.  Jalannya pelan sekali. Gayanya seperti superman.

“Ia terbang!!”

Semua mata menatap atas. Melihat orang itu yang melayang-layang. Tepuk tangan bergemuruh. Dan bagaikan cahaya, orang itu melesat terbang menuju utara. Menubruk sebuah bangunan tinggi, sebuah kantor bank, dan… lenyap.

Suasana sepi sekali. Semua orang  begitu terpesona dengan kejadian tersebut. Terhipnotis sampai beberapa lama. Suara  adzan Magrib memunculkan kesadaran mereka. Suasana  berubah  drastis. Bising. Saling bercerita, menduga, berdebat, berantem…..

*****

Konon, cerita itu cepat menyebarluas dari mulut ke mulut. Tengah malam di malam panjang, hampir seluruh penduduk kota telah mendengar cerita tersebut.

Media massa yang merasa mendapat berita hebat dan telah menurunkan banyak reporter untuk mendapatkan banyak bahan dan tengah mempersiapkan beberapa tulisan, salah satunya menjadi headline, terpaksa menjadi jengkel ketika lewat tengah malam ada telepon sakti yang “menghimbau” untuk  tidak menurunkan tulisan tentang  lelaki  asing demi menjaga stabilitas  keamanan  kota.

Namanya saja lelaki asing, tidak diketahui identitasnya, jelas ini berbahaya. Siapa tahu ada maksud-maksud tertentu dibelakang tindakan sensasionalnya. Atau lebih jauh lagi siapa tahu ada pihak ketiga yang menungganginya.

Kejengkelan memunculkan kesamaan pikiran. Tanpa komunikasi satu sama lain, tiba-tiba terbersit untuk melakukan protes. Dan esoknya, koran-koran yang terbit banyak ruang  kosongnya.  Tidak ada tulisan tidak ada gambar terkecuali iklan-iklan dan liputan kegiatan pejabat.

Tentu saja ini membuat gempar. Pelanggan, pembaca, dan orang yang bermaksud untuk membaca koran geram karena  harapan mereka untuk mendapatkan informasi yang luas mengenai lelaki asing tidak tercapai.

Telpon di berbagai media tak pernah henti. Dan para awak pers sibuk memberikan penjelasan kepada ratusan atau ribuan orang yang berbondong-bondong datang ke kantornya. Otomatis banyak pekerjaan yang terbengkalai  pada  hari  itu. Termasuk kantor-kantor pemerintahan, yang pegawainya setelah absen menyelinap pergi.

Penguasa bingung. “Orang-orang sudah pada ghendeng,” desis seorang  pemimpin. “Begitu saja sudah pada ribut,” dalam  hatinya ia  menghibur  diri bahwa ini tidak  akan  berkepanjangan. Pasti sehari saja, sudah itu lenyap.

*****

Tapi tidak  begitu. Puluhan ribu orang yang berkerumun di alun-alun menanti  lelaki asing hadir harus  menanti kekecewaan yang luar biasa. Menara hanya menara. Tidak ada sosok tegap berpakaian putih di sana.

“Kita telah terbelenggu. Tidak ada hiburan satu pun buat kita,” teriak seseorang. “Kita sudah cukup bersabar untuk menahan diri tidak berbicara tentang kehidupan kita yang brengsek. Mengenai berita lelaki asing yang dapat menghibur kita  saja, tidak bisa kita terima. Kita telah terlampau dahaga. Ini penindasan tak kentara! Pers kita penakut! Pemimpin kita terlampau jauh mengintervensi  kehidupan kita. Berikan kebebasan! Berikan kemerdekaan bagi kita seluruh bangsa! Kita tidak akan bisa diam lagi!”

Gemuruh. Guntur mendera sore hari menjelang magrib. Rasanya tidak mungkin  bila tidak terdengar sampai  ke  ibukota. Piring pecah di pucuk gunung saja sampai ke sana suaranya. Apalagi ini.

Jutaan  orang menggigil. Bisa dengan alasan  berbeda. Geram. Ketakutan. Telpon-telpon penting tak henti berdering, berbicara.

“Ini masalah gawat. Harus diusut tuntas,”

Orang pers hanya menundukkan kepala. Tak mampu berbuat apa-apa. Kanan-kiri tidak oke!

Puluhan ribu berbondong-bondong ke gedung perwakilan. Mereka menuntut wakil-wakil mereka untuk menyuarakan kepentingan atasan mereka, yaitu orang yang memilihnya.

“Ya, keluhan ini kami tampung,” kata seorang wakil mereka.

“Kalian bukan bak air yang hanya menampung. Kalian kami pilih untuk membela kepentingan kami. Jangan salahkan kami bila kami mencabut wewenang kami!” teriakan marah.

*****

“Bangsat! Siapa lelaki asing itu?,” seorang perwira tinggi memaki. Lantaran orang asing, tidurnya menjadi berkurang. Bahkan dapat dikatakan tidak sama sekali. Ia perintahkan stafnya membuka file orang-orang,kelompok-kelompok, dan negara-negara yang selama ini bersuara sumbang. Ia perintahkan  ribuan intelejen untuk melacak. Ia perintahkan ratusan batalion untuk bersiaga.

“Orang-orang semakin  beringas. Jalan-jalan penuh,” suara orang dari sebrang telepon yang digenggamnya.

“Sugel (Suara  gelap), segel (selebaran  gelap) dan brogel (brosur gelap) berhamburan,” laporan dari yang lain.

“Bangsat!”  desisnya  geram. “Tangkap orang-orang yang mencurigakan,” ia keluarkan perintah.

Ratusan orang telah ditangkap dalam waktu lima menit setelah perintah dikeluarkan. Luar biasa! Tapi tetap saja orang-orang bergerombol di jalan-jalan.

“Kita tidak mungkin membubarkan mereka. Satu-satunya jalan kita  berdoa saja agar lelaki asing itu muncul di menara. lantas biarkan pers meliputnya besar-besaran. Kita bisa atur itu,”  ujar seorang pejabat dalam rapat koordinasi keamanan negara.

“Berdoa, kita tidak tahu kapan akan muncul lelaki asing itu. Lebih baik kita siapkan saja orang yang mirip. Kita tempatkan dia di atas menara dan berlaku seperti orang asing,” kata yang lain.

“Itu bunuh diri namanya,”

“Tapi bisa meredam kerusuhan yang tak perlu,”

“Baik, itu saja,” kalimat singkat dari pemimpin besar.

*****

“Lihat ada lelaki di atas menara,” orang-orang bersorak.

“Lelaki asing itu!”

“Ayo terbang! Ayo terbang!”

Tombol tustel berkali-kali terpencet. Lampu-lampu blizt tak pernah henti. Sorot kamera  dari seluruh saluran  televisi langsung memberikan pandangan di televisi rumah-rumah.

“Ayo terbang!”

Lelaki itu mengangkat tangannya.Semua orang menahan nafas. Lantas melayanglah tubuhnya. Orang-orang bertepuk tangan. Tubuh lelaki itu jatuh dengan deras. Menimpa beberapa orang. Lalu kena batu. Kepalanya pecah. Orang-orang menjerit histeris.

“Itu bukan lelaki asing. Itu lelaki palsu!  Itu lelaki palsu!”

“Ini mah orang bunuh diri!”

“Rekayasa sadis!”

Suasana  hiruk pikuk makin tak terkendali. Sesaat lagi malam akan datang. Benar. Malam akan datang. Lihatlah, matahari perlahan tenggelam.

 

Yogyakarta, 2 Juli 1995

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: