Tinggalkan komentar

Cerpen: Kegundahan Nasrudin

 

Cerpen  :  Odi Shalahuddin

 

Nasruddin benar-benar gundah hatinya. Nuraninya seakan ditantang untuk muncul, berbicara. Lalu ia mendengarkan. Kemudian menuruti  apa yang dikatakan. Tapi bisakah?

Semua orang tahu manusia dikaruniai nurani. Apa kata nurani adalah kebenaran bagi umat manusia. Tapi siapakah berani mendengar, meresapi, lalu berbuat sesuai nurani bila sistem kehidupan yang berjalan demikian amburadul?

Nasruddin menimbang-nimbang. Ia harus berbuat sesuatu. Sebelum apa yang akan diperbuatnya berhasil ditemukan, justru dada terasa panas bergolak. Berperang segala wujud dalam diri. Melemparkan pendapat, memberikan argumentasi yang sama kuat. Tidak cukup begitu, lalu senjata ikut main. Ketakutan dihajar. Keberanian ditikam. Nasruddin menggelepar. Bagaimana mungkin  mengambil keputusan dalam pikiran dan perasaan yang kacau?

“Bangsat, mengapa bisa begini?!” batin Nasruddin menggugat.

Seperti biasa, kalau diri lagi gundah, Nasruddin cepat mandi, keramas, mengenakan pakaian putih-putih yang bersih, lalu bersila di  lantai kamar tidurnya. Mata terpejam. Nafas  diatur. Pikiran dipusatkan  pada satu  titik. Muncul bayang-bayang hitam yang mengganggu.  Nasruddin berusaha  menyergapnya, membekuk  dan membuang jauh-jauh.  Lalu muncul aneka warna. Nasruddin dengan sabar  menyisihkan satu persatu. Hingga ada warna  tak  berwarna. Jernih.  Bagaikan air gunung alami.  Muncul gelembung-gelembung. Ai, indahnya.

Dunia terasa hening. Jiwa terasa bening. Nasruddin menukikkan pikiran dan perasaan pada pokok persoalan. Bertebaranlah berjuta bayangan mengenai kasus-kasus yang menggundahkan hatinya. Aksi petani, buruh, nelayan, sopir, tukang becak, pedagang kaki lima, pedagang pasar, pedagang asongan, mahasiswa, dan sebagainya yang menyuarakan dan membela kepentingan mereka. Lalu  kabar burung adanya penekanan langsung maupun tidak, ancaman, tindak kekerasan bahkan pembunuhan. Lalu jeritan parau, tangisan, makian, menggema. Darah dan nanah menggumpal. Sesak dada Nasruddin. Nasruddin tak kuasa menahan laju air mata. Dengan perlahan ia membuka mata.

“Tidak   bisa  tidak,  aku  harus  berbuat  sesuatu,”  desis Nasruddin. Ia berpikir apa yang akan ia kerjakan.  Protes? Cara bagaimana? Menenteng poster sendirian? Malah jadi tertawaan dan bisa kena gebuk karena mempertontonkan hal yang – entah kata siapa – tidak senonoh. Membuat teror? Ah, sama saja bajingannya. Mengadu ke lembaga perwakilan? Busyet, ini sama saja mengulang ketololan memakan janji-janji. Dialog  dengan  pejabat? Bukan dialog nanti yang terjadi, malah bisa diklaim kena pembinaan. Memberikan himbauan? Ah, taik kucing. Pengangguran kan berbeda dengan pemimpin besar! Lantas apa?

“Ah, ternyata punya niat saja tidak cukup sebagai dasar untuk memilih apa yang harus diperbuat,” Nasruddin mengeluh.

Pergilah ia ke rumah Jumali sahabatnya. Ia keluarkan seluruh uneg-unegnya dan keinginan-keinginan. Jumali hanya tertawa mendengarnya.

“Aku serius!” kata Nasruddin berusaha menegaskan dengan mimik serius pula.

“Begini saja. Hilangkan pikiran-pikiran semacam itu. Bisa membuat diri tersiksa. Nikmati saja sebagai penonton. Menghindar bila akan dijadikan bola mainan. Waspada agar tidak menjadi kambing hitam,” Jumali memberikan nasehat.

Nasruddin merasa tidak puas. “Lantas bagaimana dengan nasib sang kurban? Adanya orang yang menindas dan adanya orang-orang yang ditindas, keduanya mengingkari hakekat manusia.” Nasruddin berargumentasi untuk memancing Jumali agar berdiskusi.

Tapi Jumali hanya tertawa saja. Mengambil bungkus rokok, menarik sebatang dan menawarkan ke Nasruddin. Nasruddin menggelengkan  kepala. Jumali menyelipkan rokok  itu ke sela bibirnya. Mengambil korek, menyalakan rokok. Asap mengepul cukup banyak dari sela mulutnya.

“Repot pikiran semacam itu. Bila dipertahankan di kepala bisa bikin sinting. Bila dibicarakan terus dianggap berbahaya. Lebih baik buang sajalah. Itu saja saranku.”

“Tapi…”

“Kita bicara yang lain sajalah,” lalu Jumali menceritakan tentang gadis tetangga rumahnya yang katanya cantik, montok dan sering  menggoda nafsu laki-laki. Bicara film BF. Bicara extasy yang menurut berita koran digemari para selebriti. Dan sebagainya, dan sebagainya yang kesemuanya tidak masuk ke kepala Nasruddin. Nasruddin lalu mohon pamit.

Segera ia ke rumah Partono sahabatnya yang lain. Sambutan Partono juga dingin. “Buat apa mikir kayak begitu, Din. Lebih baik pikir saja bagaimana  kita  mendapatkan  kerja. Jadi pengangguran terus beban mental. Lagipula apa kita akan  menjadi pahlawan kesiangan. Itu sudah suratan takdir,”

Ah, tidak betah bertahan lama Nasruddin di rumah Partono,ia langsung pamit. Lantas mau kemana?

Terbayang wajah Giman, Eko, Kilas, Terry, dan beberapa wajah orang-orang yang dikenalnya. Ia  hendak berkunjung, tapi hatinya  tidak yakin bahwa akan ada tanggapan. Apalagi membantu menyelesaikan masalah yang menggumpal di kepalanya. Ia putuskan untuk pulang saja.

Nasruddin langsung masuk kamar.Tiduran, memandang langit-langit. Kotor sekali. Banyak sarang laba-laba. “Kamar saja tidak dibersihkan sebentar saja sudah banyak jaring, apalagi kehidupan ini. Tentunya banyak berjuta jaring yang membuat banyak orang tak berdaya. Dasar manusia!”

Menulis puisi dan membacakannya keliling  kampung, jalan-jalan, pasar, pusat pertokoan, gedung-gedung bioskop! Ide di kepala  berkelebat. Tapi ia hapuskan hal itu. Dari berita-berita di koran, banyak penyair yang tidak  bisa membacakan puisinya meski di gedung tertutup sekalipun. “Ah, payah sekali!” keluhnya.

Semakin dipikir semakin bingung. Nasruddin belum melakukan apa pun. Sedangkan waktu terus saja lewat. Seminggu, sebulan, setahun, sewindu. Nasruddin hanya berpikir apa yang akan ia kerjakan untuk  melaksanakan tugasnya  sebagai  manusia, meluruskan manusia, memanusiawikan manusia. Hanya sebatas pikiran. Kasihan sekali.

Orang sering melihatnya merenung di bawah pohon mangga. Berjalan menyusuri jalan tanpa arah dengan mulut komat-kamit. Berteriak-teriak tak karuan di tengah keramaian. Memasuki gedung-gedung  pemerintahan dan memaki-maki. Banyak pengalaman buruk menimpanya. Diludahi, dipukuli, ditendangi, ditelanjangi, seperti ia bukan manusia saja.

“Benar kan, bahwa kita sudah tidak berlaku sebagai manusia lagi?” lontaran yang selalu diucapkan setelah mendapat perlakuan buruk.

Sungguh kasihan. Katakan padanya. Niat baik tidak selalu harus dipikir untuk mendapatkan perbuatan terbaik. Lakukan saja apa yang diyakini meski kecil. Tapi itu sudah memberi arti. Tidak ada gunanya hanya sekedar berpikir.

Yogyakarta, Mei 1995


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: