Tinggalkan komentar

Cerpen: Kang Kijo

Cerpen  :  Odi Shalahuddin 

Siang ini panasnya tidak seberapa dibanding minggu-minggu kemarin. Tapi toh Kang Kijo merasa kayuhannya teramat berat. Ban becaknya seakan lekat dengan aspal jalanan. Sudah begitu, kepalanya berat sekali. Cenat-cenut rasanya.

Saat ini, pikirannya tidak lepas kepada anak sulungnya yang baru saja mengabarkan bahwa dirinya telah lulus SMA. Kang Kijo merasa bahagia mendengarnya. Setidaknya, anaknya menjadi anak pertama yang memecahkan rekor mengecap pendidikan dalam keluarga. Kang Kijo hanya tamat Sekolah Dasar. Begitu pula Iyem, istrinya. Namun kelulusan anaknya, ada yang menggelisahkan hatinya,  yaitu hal-hal yang menempel pada kelulusan  anak sulungnya.

Kebutuhan mendesak adalah menyediakan uang  dua ratus lima puluh ribu rupiah. Buat bayar uang gedung yang belum lunas, tiga bulan  SPP, dan sumbangan sukarela yang jumlahnya ditetapkan  batas  minimal secara sepihak. Kalau dipikir-pikir, untung pula anaknya bisa ikut ujian dan akhirnya lulus meski sebelum ujian sejumlah  biaya yang harus dibayar belum dibayarkan. Atas kebijaksanaan Kepala Sekolah. Tapi sekarang sudah lulus. Adakah kebijaksanaan lain? Menghapus segala beban yang harus dibayar? Ah, bisa dibilang dikasih hati minta rempelo nanti. Bila tidak dibayar, bagaimana dengan ijazahnya? Itu penting je. Si Piyeng, adiknya yang tinggal di Tangerang sudah menjanjikan akan memasukkan kerja anaknya ke sebuah pabrik. Ah, berat sekali sekolah di swasta, ya.

“Jadi buruh pabrik, lebih baik daripada pekerjaan yang dijalaninya sebagai tukang becak. Menjadi buruh pabrik minimal bisa dapat gaji rutin. Lha, kalau tukang becak?” gumam Kang Kijo.

Sambil mengayuh becaknya, di tengah arus lalu-lintas yang padat di siang hari bolong, pikiran Kang Kijo terus saja berkelana mencari titik bersandar sebagai jalan keluar bagi beban pikirannya. “Bagaimana mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat?” keluhnya.

Mengharap uang dari narik becak? Sangat tidak mungkin. Sekarang ini tergantung nasib baik saja. Sehari dapat tiga ribu perak saja  sudah sangat beruntung. Persaingan sangat keras. Angkutan mesin sudah cukup banyak. Penumpang lebih banyak lari ke angkutan mesin. Becak semakin terdesak saja karena angkutan mesin pertambahannya cukup besar dalam beberapa tahun ini. Ya,pelanggan setia tukang becak paling-paling bakul pasar dan ibu-ibu rumah  tangga. Ah, kemajuan.

Dalam  kondisi seperti yang dialaminya. Berputar-putar tidak mendapatkan penumpang makin membuat jengkel. Rasanya keberuntungan tidak pernah datang pada saat dibutuhkan. Sebagai cobaan? Kok terus-terusan?

Kang Kijo menghentikan becaknya pada sebuah gang. Ia duduk di jok depan, menyandarkan tubuhnya sepenuh hati.

Pikiran itu terus menggayuti kepala Kang Kijo sepanjang waktu. Bagaimana? Ya, bagaimana? Pikiran itu lama-lama jadi terasa menyakitkan. Apalagi pada saat sekarang ini. Siang hari dengan panas matahari yang luar biasa dan untuk menggenjot becak harus dengan tenaga penuh karena bannya lengket dengan aspal. Untuk mangkal tampaknya bukan pilihan karena dari pagi tadi satu penumpangpun duduk di joknya. Perut kosong menjadikan  rasa perih. Semua bercampur baur. Bila di kepala ada makian panjang dan kutukan-kutukan, berdosakah? Untuk menghindari teramat sulit karena setidaknya perbuatan itu melepaskan sebagian desakan lahar di dalam  diri. Daripada tidak tertahankan dan meletus secara maksimal ?

Sepanjang perjalanan, otak terganggu lagi oleh pemandangan yang tidak bisa terganggu. Mobil-mobil, motor-motor, toko-toko, orang-orang dengan dandanan bagus. Bagaimana mereka bisa mendapatkan ? Kerja keras? Omong kosong! Aku kerja keras sepanjang dengus nafasku hanya untuk mempertahankan hidup seadanya saja, tidak macam-macam, tapi belum ada perubahan berarti yang lebih baik. Justru kecenderungannya semakin tersisih. Lantas apa yang salah ?

Kang Kijo sudah benar-benar tidak kuat lagi untuk  menggenjot becaknya. Ia harus mangkal, istirahat. Kalau mangkal di pangkalan becak,  hanya bisa untuk istirahat saja. Tidak  boleh  mengambil penumpang. Itu sudah peraturan di hampir semua pangkalan. Dirinya yang tidak punya pangkalan tetap ? Ya berarti harus mencari gang-gang yang belum mempunyai kelompok tukang becak secara  mapan. Sulitnya lagi, gang-gang yang tidak ada kelompok tukang becaknya dapat dipastikan gang-gang yang lahannya kering. Dalam artian kebutuhan akan becak sangat minim. Mencoba nekad mangkal di pangkalan  dan mencuri kesempatan untuk mencari penumpang? Wah, Kang  Kijo tidak berani untuk mengambil resiko. Sudah banyak pengalaman akhir dari itu adalah rasa  sakit. Dikeroyok orang sepangkalan bisa jadi. Syukur kalau hanya disuruh menurunkan penumpang. Tapi itu jarang terjadi.

Dan Kang Kijo-pun berhenti. Ia memilih untung-untungan. Istirahat sambil menunggu penumpang. Berarti di muka gang kecil dia mangkal.

Pikiran lagi sulit, tubuh teramat letih, dan perut lapar, ada pada saat bersamaan, untuk tiduran saja tidak bisa. Terasa tersiksa. Terasa tersiksa. Mungkin anda pernah mengalami.

Kang Kijo duduk di jok depan. Tatapan matanya kosong. Ia berusaha untuk menepiskan beban di kepalanya. Ia mencoba tidak mengingat-ingat apa yang sedang dialaminya. Tapi tidak  bisa. Wajah anak sulungnya terbayang-bayang, wajah istrinya yang tergolek di amben membuntutinya, belum lagi gambaran ketiga anaknya yang lain menggayut hiba di benaknya.

Bagaimana sebenarnya kehidupan ini? Mengapa orang butuh uang untuk mencukupi hidupnya? Mengapa uang menjadi dewa maha kuasa? Mengapa ada orang yang sangat mudah mencari uang dan mengapa ada orang yang sulit mendapatkan uang padahal waktu kerja tampaknya tidak  berbeda jauh? Bahkan terkadang uang mengalir  lancar ke orang-orang yang kerjanya sedikit bukan ke pekerja-pekerja keras. Mengapa ? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tiba-tiba memenuhi kepala Kang Kijo.

Dalam hati gundah, pikiran tidak bisa bekerja dengan jernih lagi. Bayangan-bayangan buruk memburu kuat di kepala. Bagaimana bila becak sewaan ini kularikan dan kujual? Bagaimana bila nanti malam bongkar toko emas? Ah, kalau tertangkap? Terbayang jeruji besi, terbayang perpisahan dengan anak dan istrinya, terbayang amarah mereka, terbayang pandangan orang se desanya, terbayang ia kehilangan kawan-kawan sesama tukang becak. Tidak, keduanya tidak bisa  kulakukan, desisnya. Bagaimana bila nanti malam berjudi semalam suntuk dengan modal kalung istrinya warisan dari ibunya itu? Ah, iya kalau menang, kalau kalah? Oh, itu semua tidak memperbaiki keadaan, justru memperburuk.

Waktu terus berjalan. Adzan Magrib masih terdengar berkumandang. Di sebelah barat, matahari menenggelamkan  diri, masih tertinggal cahaya merah berkilauan dengan awan-awan membangun beragam wajah.

Sesaat  adzan  selesai, orang-orang di muka gang dikejutkan oleh ulah seseorang yang bergulung-gulung di jalan sambil berteriak-teriak.

7 Juni 1995

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: